Mengenang kembali sejarah pergerakan nasional, kemerdekaan Indonesia dipelopori oleh berbagai dinamika organisasi yang lahir di tengah tekanan pemerintah kolonial Belanda. Salah satunya adalah Jong Islamieten Bond, organisasi yang menjadi wadah semangat pelajar dan pemuda Islam dalam membangun kesadaran beragama dan bernegara.
Simak sejarah singkat Jong Islamieten Bond dalam ulasan berikut ini.
Sejarah Berdirinya Jong Islamieten Bond
Merangkum buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, Jong Islamieten Bond (JIB) didirikan oleh R. Sjamsoeridjal pada 5 Jumadil Akhir 1343 H atau Kamis Pon, 1 Januari 1925. Pendirian organisasi Islam ini terjadi pasca peristiwa penangkapan dan pembuangan ulama seperti Oemar Said Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, dan Wignjadisastra oleh pemerintah kolonial Belanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan ini, munculnya organisasi JIB justru menunjukkan kebangkitan semangat perjuangan pelajar dan pemuda umat Islam yang tidak takut atas tindakan penjajah.
Bahkan ketika penangkapan dan pembuatan para ulama masih terjadi hingga tahun 1926, JIB berani mengadakan kongres pertama di Yogyakarta, pada akhir Desember 1925 dan disusul pelaksanaan kongres kedua di Surakarta pada akhir 24-26 Desember 1926.
Tujuan Jong Islamieten Bond
Mengutip buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 yang disusun oleh Abdurakhman dan Arif Pradono, JIB merupakan organisasi yang fokus utamanya pada bidang sosial. Kendati tidak terlibat dalam aksi politik, JIB tidak melarang anggotanya untuk aktif dalam ranah politik.
Organisasi JIB berdiri atas dua tujuan, yang pertama adalah untuk memperdalam pengetahuan mengenai agama Islam dan memupuk rasa sayang terhadap Islam, serta para penganutnya di samping toleransi terhadap golongan non-Islam. Kedua, JIB menjadi tempat bagi organisasi "nasionalistis" lainnya yang berbeda-beda dan rekan-rekan pemuda-pemudi Indonesia untuk bertemu dalam satu bidang di bawah kewajiban dan tujuan yang sama, yakni persatuan.
Perkembangan Jong Islamieten Bond
Dalam perkembangannya, JIB juga berhasil membangun sayap organisasi yang dinamakan Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (JIBDA) pada 1925 serta National Islamitische Padvinderij (Natipij) pada 1927.
Pelaksanaan kongres di Yogyakarta dan Surakarta menjadi jawaban JIB dan JIBDA terhadap gerakan Javanisme atau Kedjawen, sekaligus tempat Persjarikatan Moehammadijah mengawali gerakan Islam.
Melalui pergelaran kongres ketiga di Yogyakarta pada 1927, organisasi ini membahas masalah Islam dan kebangsaan. Pertemuan ini juga dilakukan untuk diskusi merumuskan pengertian nasionalisme dalam pandangan Islam yang mencakup cinta Tanah Air, bangsa, agama, serta kecintaan terhadap saudara seagama di luar negeri dan sesama manusia.
Perumusan ini merupakan bentuk tanggapan terhadap konsep nasionalisme Perserikatan Nasional Indonesia (PNI), yang dinilai terlalu sempit karena hanya mencakup cinta bangsa dan Tanah Air sendiri.
Tokoh Jong Islamieten Bond
Seperti disebutkan sebelumnya, tokoh utama di balik berdirinya JIB adalah R. Sjamsoeridjal yang sebelumnya tergabung dalam organisasi Jong Java. Tokoh JIB lainnya adalah Wiwoho, Kasman Singodimedjo, dan Mohammad Roem.
Adapun tokoh utama pemimpin JIBDA yang terkenal adalah Nj. Soenarjo Mangoenpoespito.
Selain itu, tokoh JIBDA lainnya adalah Nj. Zahra Hafni Aboe Hanifah, Nj. Markisa Dahlia Roem, dan Nj. Kasman Singodimedjo.
Setelah peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, para tokoh-tokoh JIB aktif dalam Gelanggang Dagang Untuk Wanita, yang merupakan cikal bakal Ikatan Wanita Pengusaha Wanita (IWAPI).
(kri/kri)




































































