Seorang pria di Minnesota, Amerika Serikat (AS), berhasil menghentikan bus sekolah yang melaju tak terkendali saat dipenuhi anak-anak. Ia nekat melompat ke dalam bus setelah mengetahui pengemudinya mengalami keadaan darurat medis.
Pria bernama Ebro Ahmed, 27 tahun, itu mengaku tergerak untuk bertindak setelah teringat sebuah ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia.
"Saya adalah orang yang berpikir dengan angka dan logika angka tersebut sangat masuk akal bagi saya," ujar Ebro Ahmed dalam sebuah wawancara yang dikutip dari laman The Guardian pada Selasa (27/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak melakukannya untuk diri saya sendiri. Ini adalah tindakan tanpa pamrih atas nama Tuhan," tegasnya.
Aksi heroik Ahmed terekam kamera CCTV sebuah toko milik keluarganya. Saat itu, ia sedang bermain sepak bola sambil melihat ponsel ketika waktu istirahat. Tiba-tiba, ia melihat sebuah bus sekolah berwarna kuning melintas dengan pintu terbuka lebar.
Ahmed kemudian menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada pengemudi bus. Ia melihat pengemudi tersebut mengeluarkan busa dari mulutnya, yang dapat menjadi salah satu gejala kejang.
Secara naluriah, Ahmed segera melemparkan ponsel dan kacamatanya ke arah dua anak perempuan yang duduk di bagian depan. Ia melakukan itu agar kedua tangannya bebas untuk membantu menghentikan bus.
Awalnya, Ahmed berusaha mencari cara untuk memindahkan transmisi bus ke posisi parkir. Namun, di tengah jeritan anak-anak yang ketakutan, ia akhirnya memutuskan untuk menarik rem darurat.
Upayanya berhasil. Bus tersebut berhenti tanpa ada seorang pun di dalam kendaraan maupun di jalan yang mengalami cedera.
Setelah bus berhenti, Ahmed meminta salah satu anak untuk segera menghubungi layanan darurat.
Pihak distrik sekolah negeri Saint Paul mengonfirmasi pada Jumat bahwa memang terjadi keadaan darurat medis di dalam bus tersebut. Insiden itu berlangsung tepat di depan toko milik keluarga Ahmed hingga membutuhkan penanganan paramedis.
Pihak distrik sekolah juga menjelaskan bahwa sebuah bus lain kemudian datang untuk menjemput 19 siswa yang berada di dalam kendaraan tersebut dan mengantar mereka pulang. Sementara itu, sang pengemudi telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit dan sedang beristirahat di rumah.
National Safety Council memperkirakan sekitar 20,3 juta anak menggunakan bus sekolah setiap hari di seluruh Amerika Serikat. Dengan jumlah pengguna yang begitu besar, keadaan darurat yang melibatkan pengemudi menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi.
Dalam situasi seperti itu, tindakan cepat dari orang-orang di sekitar dapat membantu mencegah terjadinya kecelakaan yang lebih serius.
Terinspirasi Ayat Al-Qur'an
Kepada The Guardian, Ahmed menjelaskan bahwa ayat Al-Qur'an tentang menyelamatkan nyawa turut terlintas di benaknya ketika memutuskan untuk menolong anak-anak di dalam bus.
Ayat yang dimaksud adalah surah Al Maidah ayat 32 berbunyi, "Barang siapa menyelamatkan satu nyawa, maka seolah-olah ia telah menyelamatkan seluruh umat manusia."
Bacaan Surah Al Maidah Ayat 32 Lengkap
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.
Bagi Ahmed, pesan tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya menyelamatkan nyawa orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
Di luar aksi heroiknya, Ahmed juga menceritakan tantangan yang dihadapi keluarganya dalam menjalankan usaha. Orang tuanya merupakan imigran asal Eritrea, negara di Afrika Timur, yang mengelola sebuah toko di Saint Paul.
Menurut Ahmed, menjalankan usaha kecil menjadi semakin sulit di tengah kampanye deportasi massal yang berlangsung selama pemerintahan Donald Trump.
Ahmed, yang mengaku lahir di Amerika Serikat, mengatakan bisnis keluarganya mengalami penurunan sejak agen imigrasi federal mendatangi Saint Paul dan wilayah Minneapolis di dekatnya. Kedatangan para agen tersebut merupakan bagian dari operasi yang disebut pemerintahan Trump sebagai "Operation Metro Surge".
"Rasanya sulit... sebagai pemilik usaha kecil asal Afrika Timur," ujar Ahmed.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Ahmed merasa lega karena aksinya memberi kesempatan untuk menunjukkan citra positif komunitasnya.
Ia mengaku senang dapat menampilkan serta mewakili orang-orang Eritrea dan Afrika Timur "dengan cara yang positif".
Mendapat Apresiasi atas Aksi Heroik
Aksi Ahmed mendapat perhatian dari masyarakat setempat. Sebuah perusahaan pemasaran dan media lokal bahkan memberikan sumbangan sebesar 1.000 dolar AS sebagai bentuk apresiasi atas keberaniannya menghentikan bus sekolah.
Penyerahan sumbangan tersebut berlangsung secara simbolis dengan melibatkan seseorang yang mengenakan kostum Superman dan sebuah cek berukuran besar.
Tak hanya menerima apresiasi berupa sumbangan, Ahmed juga mendapat sejumlah undangan dan ucapan selamat. Ia menuturkan bahwa dirinya telah diundang untuk menjadi pembicara dalam setidaknya satu diskusi panel.
Seorang anggota dewan kota turut menghubunginya untuk menyampaikan ucapan selamat. Bahkan, seorang pamannya yang tinggal di Eropa juga menghubunginya setelah mengetahui kabar mengenai aksi heroik tersebut melalui pemberitaan.




































































