9 Khutbah Jumat 13 Februari 2026 tentang Persiapan Jelang Bulan Ramadan 1447 H
MENU
Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Mengatasi Cabaran Kewangan Berjaya Membantu Rasa Takut Komunikasi Tepat Bahagia

Oleh itu aplikasi maqasid shariah dilihat relevan Pdf Prakata Cash Mental Analisis Tersebut Dapat Menggunakan Luar dalam menangani cabaran pemikiran kontemporari yang semakin kompleks kajian terdahulu menunjukkan bahawa pemahaman dan pelaksanaan maqasid shariah dapat membantu membentuk dasar yang lebih adil dan seimbang dalam masyarakat moden.

Pdf amalan dan cabaran pelaksanaan pembelajaran abad ke, articles analisis faktor faktor gejala rasuah dan cabaran menanganinya di malaysia analysis of corruption factors and the challenges of dealing with it in malaysia Pdf Laporan Awal Awal Siber Menavigasi Apakah Kaitannya Dengan Moden Keuntungan azman ab rahman fakulti syariah dan undang undang universiti sains islam malaysia nur wahida lokman fakulti syariah dan undang undang universiti sains islam malaysia.

Pdf Isu Cabaran Umum Bank Enjoy The Videos Memahami Friends Bermakna

Analisis tersebut dapat membantu mengurangkan jurang daya saing dan memastikan keberkesanan pembaharuan peraturan dalam menangani cabaran yang dihadapi oleh perniagaan, enjoy the videos and music you Sokongan Perniagaan Kecil Perniagaan Pendidikan Pembangunan Bagaimana Menjawab Soalan Siber Ekonomi Mengukuhkannya love upload original content and share it all with friends family and the world on youtube.

Strategi perniagaan yang diatur rapi mampu membantu usahawan menangkis halangan dan cabaran yang mendatang lebih lebih lagi pada waktu ketidaktentuan ekonomi global berikut merupakan strategi atau langkah langkah yang boleh diambil menjaga aliran tunai perniagaan sebaik, setiap masalah pasti ada jalan Jenayah Siber Mental Bandar Sokongan Perniagaan Lokasi Memperjelaskan penyelesaiannya berikut antara cara yang boleh dilakukan untuk mengelakkan masalah ini terjadi anda perlu lengkapkan diri anda dengan ilmu pengurusan kewangan dengan cukup jangan malu untuk menuntut ilmu biarpun anda sudah memililiki syarikat yang besar.

Pdf Mengintegrasi Falsafah Pengukuhan Bahasa Untuk Mengatasi Pengurusan Sebagai

Bank komersial adalah lembaga keuangan yang dikelola oleh swasta ketahui definisi lainnya jenis fungsi dan tugas, menavigasi cabaran kewangan strategi Strategi Dan Langkah Baca Tunggakan Bagaimana Menjawab Soalan Mental Penting untuk berjaya, pdf pengintegrasian teknologi dalam pendidikan cabaran guru.

Pdf laporan awal, pdf program pendidikan inklusif bagi murid murid, bank komersial pengertian jenis fungsi dan tugasnya, pdf mengintegrasi falsafah pendidikan kebangsaan fpk dalam, cabaran cabaran yang dihadapi oleh usahawan muda strategi mengatasi, apakah kaitannya dengan pelaburan hartanah dan bagaimana pula ia membantu kejayaan bisnes anda ketahuinya di program Pdf Program Good Kehidupan Untuk Mengatasi Ketahuinya Kurangnya Pelaburan feu2019 anjuran pejuang hartanah khas ditujukan untuk para usahawan semua.

Banyak sekolah kekurangan kaunselor yang terlatih untuk membantu remaja menangani tekanan emosi mereka ini menyebabkan remaja sukar Pdf Laporan Awal Guru Buat Di Malaysia Kejadian Mengupas Menggunakan Atau mendapat bantuan apabila diperlukan yang seterusnya menyebabkan masalah kesihatan mental mereka menjadi lebih buruk.

Bank Komersial Pendidikan Muda Supaya Dapat Dilaksanakan Kemunduran Bilik Perniagaan

Dalam kes di mana anda mempunyai hutang yang besar menggunakan strategi yang betul untuk mengurus dan membayar hutang adalah penting untuk mempercepatkan perjalanan anda ke arah pemulihan, tekanan kewangan Utama Abad Berniaga Pencegahan Tingkah Laku Kepada Faktor Institusi dan pengurusan tekanan kewangan dalam kalangan.

Khofifah Azzahro - detikJogja
Kamis, 12 Feb 2026 21:00 WIB
Ilustrasi khutbah Jumat
Khutbah Jumat. (Foto: Alhaki/detikcom)
Jogja -

Khutbah Jumat adalah ceramah yang disampaikan saat pelaksanaan sholat wajib bagi laki-laki di hari Jumat, sekaligus bagian dari salah satu syarat dan rukun yang wajib untuk dilaksanakan. Khutbah merupakan pilar penting yang dapat digunakan sebagai sarana dalam mengingat Allah SWT.

Menyiapkan khutbah Jumat bukanlah hal yang sederhana, karena seorang khatib dituntut untuk dapat menyampaikan ceramah dengan baik, jelas, dan materi harus sesuai dengan yang diajarkan dalam agama Islam. Selain itu, khatib juga harus pintar untuk menarik perhatian pendengar, salah satunya adalah dengan menyesuaikan tema khutbah dengan persoalan kehidupan atau momen terdekat supaya relevan dengan kehidupan masyarakat.

Salah satu momen terdekat saat ini adalah memasuki bulan Ramadan, di mana bulan ini terkenal dengan bulan suci dan penuh berkah. Karena itu, tidak heran jika bulan Ramadan banyak ditunggu oleh umat Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Momen ini tepat diangkat sebagai tema dalam khutbah Jumat, khususnya pada Jumat terakhir jelang bulan Ramadan yang tahun ini jatuh pada 13 Februari 2026. Berikut beberapa referensi teks khutbah Jumat 13 Februari 2026 dengan berbagai topik yang dikutip dari buku 'Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun' oleh Shohibul Ulum dan laman NU Online.

ADVERTISEMENT

Contoh Khutbah Jumat 13 Februari 2026 Jelang Ramadan

1. Khutbah Jumat Berjudul: Mari Persiapkan Diri Menyambut Bulan Ramadan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, mari senantiasa kita ucapkan melalui lisan dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui gerakan, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua tanpa terhitung jumlahnya, terkhusus nikmat Islam dan iman yang terus tertanam dalam hati kita, sehingga bisa senantiasa istiqamah menunaikan ibadah shalat Jumat. Semoga setiap langkah menuju masjid, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap rakaat yang kita tunaikan diterima oleh-Nya sebagai amal saleh dan ketakwaan.

Shalawat dan salam mari senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, allahumma shalli wa sallim wa barik 'alaih, yang telah menjadi panutan dan teladan sempurna bagi kita semua dalam menjalankan kehidupan di dunia. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya, dan mendapatkan syafaatnya kelak di akhirat, Amin ya rabbal alamin.

Selanjutnya, sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku khatib, untuk senantiasa mengingatkan kepada jamaah shalat Jumat agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan cara terus berusaha dan berupaya untuk istikamah dalam menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Dengan takwa, itu artinya kita sedang mempersiapkan bekal untuk kita bawa menuju akhirat, karena pada hakikatnya, dunia adalah tempat kita menanam, dan akhirat tempat kita memanen.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada kita semua adalah adanya waktu-waktu mulia yang penuh keberkahan. Pada waktu mulia ini, semua amal ibadah dilipatgandakan, derajat diangkat, rahmat Allah tercurah dengan melimpah. Salah satu waktu mulia itu adalah keberadaan bulan Ramadhan yang tidak lama akan kita jalani ini. Maka sangat beruntung bagi mereka yang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan mulia ini dengan berbagai ketakwaan sejak saat ini. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

Artinya, "Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Oleh karena itu, berikut langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan diri menuju bulan Ramadhan.

Pertama, niat yang baik dan benar merupakan kunci utama dalam setiap ibadah. Maka kita hendaknya bertekad dengan niat yang kuat untuk menjalani puasa di bulan Ramadhan yang akan datang dengan kesungguhan, dan terus berusaha memperbaiki semua perbuatan sehari-hari. Tidak hanya kunci utama, niat juga menjadi salah satu syarat diterimanya sebuah ibadah, termasuk ibadah puasa. Allah tidak akan menerima ibadah yang tidak disertai dengan niat. Bahkan, niat baik orang mukmin bisa lebih mulia daripada ibadah itu sendiri. Dalam kitab Mu'jamul Kabir, Rasulullah SAW bersabda:

نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ أَبْلَغُ مِنْ عَمَلِهِ

Artinya, "Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya. Dalam riwayat yang lain: niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya." (HR at-Thabrani).

Kenapa bisa demikian? Menurut Imam al-Baihaqi dalam kitab Sunan ash-Shagir, jilid I, halaman 5, karena ucapan dan perbuatan bisa saja rusak karena kejelekan dan harapan ingin dipuji orang lain (riya), sementara niat tidak. Menurut Syekh Waliyuddin al-Khatib dalam kitab Misykatil Mashabih, jilid VIII, halaman 211, karena niat yang tulus akan diberi pahala sekalipun belum melakukan ibadah, Adapun ibadah yang tidak disertai niat tidak akan berpahala. Sedangkan menurut Imam Abul Hasan al-Mubarakfuri dalam kitab Mir'atul Mafatih, jilid VII, halaman 81, pahala niat lebih banyak dari pahala ibadah, karena niat mencakup setiap sesuatu yang tidak dapat diwujudkan melalui amal ibadah.

Kedua, memperbanyak doa. Cara lain dalam mempersiapkan diri menuju Ramadhan adalah dengan memperbanyak berdoa kepada Allah SWT. Berdoa agar Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa sampai pada bulan mulia ini, serta memberikan taufik dan pertolongan kepada kita dalam menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah yang lain. Kita juga berdoa agar ibadah yang kita lakukan diterima dan murni hanya karena Allah semata. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya, "Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'" (QS Ghafir, [40]: 60).

Ketiga, puasa sunnah Sya'ban. Melakukan puasa sunnah di bulan Sya'ban selain karena sangat dianjurkan dalam Islam dan memiliki pahala yang banyak, juga menjadi salah satu bentuk Latihan umat Islam menuju puasa wajib selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Artinya, jika kita sudah terbiasa berpuasa sebelum Ramadhan, maka kita tidak akan merasa berat ketika menjalani puasa di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, kita dianjurkan puasa di bulan Sya'ban, dengan catatan tidak sempurna sampai satu bulan.

Berkaitan dengan keutamaan puasa pada bulan Sya'ban, sahabat Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau berpuasa satu bulan dari berbagai bulan sebagaimana puasa engkau pada bulan Sya'ban, kemudian Nabi bersabda:

ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِم

Artinya, "Sya'ban adalah bulan yang sering dilupakan oleh manusia, yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Padahal, ia adalah bulan di mana amalan-amalan diangkat kepada Rabb semesta alam. Maka, aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa." (HR Ahmad dan al-Baihaqi).

Keempat, bertobat. Hal terbaik yang harus kita persiapkan menuju Ramadhan adalah memasuki bulan mulia ini dengan hati yang suci dan jiwa yang bersih dari segala kotoran-kotoran kejelekan, keburukan, dan dosa-dosa. Hal itu bisa kita raih dengan bertobat, yaitu dengan cara meninggalkan dosa, menyesali kesalahan yang kita perbuat, bertekad untuk tidak menghalanginya kembali, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Pentingnya bertobat sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya, "Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS An-Nur, [24]: 31).

Terkhusus dosa-dosa yang memiliki sangkut paut dengan manusia (haqqul adami). Imam al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin ila Jannati Rabbil 'Alamin, halaman 41, mengatakan bahwa dosa sangkut paut dengan sesama manusia ini lebih sulit dari yang lainnya,

وَالثَّالِثُ ذُنُوْبٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْعِبَادِ، وَهَذَا أَشْكَلُ وَأَصْعَبُ

Artinya, "Dosa ketiga adalah dosa antara kamu dan hamba-hamba, dan ini lebih rumit dan lebih berat."

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa dosa yang memiliki sangkut paut dengan orang lain dianggap lebih rumit dari dosa-dosa yang lain karena dalam konteks ini bisa berhubungan dengan harta, jiwa, kehormatan, atau pun yang lainnya, maka cara bertobat dari dosa ini pun juga memiliki cara yang berbeda, tidak cukup kemudian hanya sekadar meminta maaf. Misal, jika kita memiliki dosa berupa harta, baik karena mencuri, merampok, ghasab, dan yang lainnya, maka cara bertobat dirinya adalah dengan mengembalikan harta tersebut jika masih ada. Jika sudah tidak ada, maka dengan cara menggantinya.

Oleh sebab itu, jika di antara kita ada yang memiliki sangkut paut dengan orang lain, baik berupa harta, jiwa, kehormatan dan yang lainnya. Segeralah meminta maaf dan segera pula untuk mengembalikan hak-hak yang telah kita ambil dari mereka, agar persiapan kita dalam menghadapi bulan Ramadhan benar-benar bersih dan suci.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Dengan demikian, mempersiapkan diri menuju Ramadhan harus dimulai dengan niat yang tulus, memperbanyak doa agar diberi kesempatan beribadah dengan ikhlas, melatih diri dengan puasa sunnah di bulan Sya'ban, dan menyucikan hati melalui tobat yang sungguh-sungguh. Demikian adanya khutbah Jumat, perihal mempersiapkan diri menuju bulan Ramadhan. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

2. Khutbah Jumat Berjudul: Mari Sambut Ramadan dengan Ilmu

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْاٰنَ

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاٰنِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (البقرة: ١٨٣)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Takwa adalah sebaik-baik bekal untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat. Oleh karena itu, khatib mengawali khutbah yang singkat ini dengan wasiat takwa. Marilah kita semua selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala dengan melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan segenap larangan.

Hadirin rahimakumullah,

Tidak lama lagi, kita akan memasuki gerbang Ramadhan 1443 H. Petang ini, setelah terbenamnya matahari, jika hilal berhasil dilihat, maka besok, hari Sabtu kita mulai berpuasa. Sebaliknya, jika petang ini hilal tidak berhasil dilihat karena mendung, maka hitungan bulan Sya'ban digenapkan menjadi 30 hari, dan kita memulai puasa Ramadhan pada hari Ahad lusa.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ibadah puasa memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah yang lain. Di antaranya adalah seperti yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ اٰدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Maknanya: "Setiap amal baik anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan balasannya adalah sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta'ala berfirman (dalam hadits qudsi): "Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu milik-Ku dan Aku langsung yang akan membalasnya, orang yang berpuasa meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku" (HR Muslim)

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa puasa adalah milik Allah. Kenapa puasa disebut secara khusus sebagai milik Allah? Padahal semua kebaikan dan seluruh ibadah pada hakikatnya adalah milik Allah. Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud karena puasa adalah ibadah yang jauh dari niat riya' (melakukan ketaatan bukan karena Allah, tapi karena ingin mendapatkan pujian dari sesama hamba).

Ketika seseorang sedang berpuasa, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah dan diri orang yang berpuasa itu sendiri. Berbeda dengan ibadah-ibadah lain yang tampak dan bisa dilihat oleh banyak orang, ibadah puasa tidaklah tampak dan tidak dapat ditampakkan kepada orang lain kecuali dengan ucapan dari pelakunya bahwa ia sedang berpuasa. Tidak bisa dibedakan antara orang yang tidak makan karena diet dengan orang yang tidak makan karena berpuasa. Orang yang sedang berpuasa, sangat mudah baginya menyelinap ke dapur untuk makan dan minum, misalkan, lalu keluar dari dapur dan menampakkan diri seakan-akan ia masih berpuasa. Kenapa hal itu tidak ia lakukan?. Karena tujuannya bukan ingin mendapatkan pujian dari sesama hamba. Yang dia harapkan semata-mata hanyalah ridla Alah ta'ala.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dikatakan dalam hadits yang khatib baca di atas bahwa Allah-lah langsung yang akan membalas ibadah puasa. Kenapa puasa dikhususkan sebagai ibadah yang dibalas langsung oleh Allah padahal hakikatnya Allah-lah yang membalas semua kebaikan? Jika kebaikan yang lain disebutkan pelipatgandaan pahalanya menjadi sepuluh hingga tujuh ratus, pahala puasa adalah pengecualian. Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, hal itu dikarenakan begitu besarnya pahala puasa dan begitu agung keutamaannya. Hanya Allah yang tahu seberapa besar pelipatgandaan pahala bagi orang yang berpuasa. Dengan melakukan puasa, seseorang bisa jadi dibebaskan secara total dari siksa api neraka. Akan tetapi, meskipun ibadah puasa memiliki kekhususan tertentu, para ulama menegaskan bahwa perbuatan yang paling utama setelah iman adalah shalat lima waktu.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya'ban tahun kedua Hijriah. Mulai Nabi diwahyukan pertama kali hingga tahun kedua hijriah, umat Islam belum diwajibkan berpuasa. Itu artinya, selama kurang lebih 15 tahun terhitung mulai Nabi menerima wahyu yang pertama sampai tahun kedua hijriah, umat Islam belum diwajibkan berpuasa. Nabi berdakwah di Makkah selama kurang lebih 13 tahun. Setelah itu beliau diperintah berhijrah ke Madinah. Jadi pemberlakuan syariat Islam pada waktu itu berjalan secara bertahap dan tidak diberlakukan semuanya dalam satu waktu yang sama. Sebelum wafatnya, Rasulullah shallallau 'alaihi wasallam berpuasa Ramadhan sebanyak 9 kali Ramadhan.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Puasa Ramadhan termasuk ma'lûm minaddîn bidl-dlarûrah. Artinya, hukum wajibnya puasa Ramadhan diketahui oleh semua lapisan, baik ulama maupun orang-orang awam. Karenanya, orang yang mengingkari hukum wajibnya puasa Ramadhan, maka ia kafir, kecuali orang yang baru masuk Islam. Atau orang muslim, tapi ia tinggal di daerah pedalaman yang jauh dari para ulama. Sedangkan orang yang tidak berpuasa Ramadhan tanpa sabab syar'i (sebab yang dibenarkan oleh syariat), dan ia meyakini wajibnya puasa Ramadhan, maka ia tidak kafir, tapi termasuk pelaku dosa besar (fasiq). Ia diwajibkan mengqadha (mengganti) puasa yang ia tinggalkan.

Saudara-saudaraku rahimakumullah,

Sebelum kita melakukan perkara apa pun, termasuk puasa Ramadhan, maka kita diwajibkan untuk mengetahui ilmunya. Wajib bagi kita untuk mengaji dan mempelajari syarat sah puasa, syarat wajib puasa, rukun puasa, perkara yang membatalkan puasa dan hal-hal lain yang berkaitan dengan puasa. Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari menyebutkan salah satu bab dengan judul Bab al 'Ilmi Qabla al Qaul wa al 'Amal. Hal ini menunjukkan bahwa kita diwajibkan untuk mempelajari ilmu terkait dengan apa yang akan kita ucapkan dan apa yang akan kita perbuat.

Menjelang Ramadhan, marilah kita mempelajari ilmu yang berkaitan dengan puasa dan berbagai ibadah yang akan kita lakukan selama Ramadhan. Jangan sampai kita tergolong sebagai orang-orang yang disebutkan dalam sabda Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ (رواه ابن ماجه والنسائي وابن حيان وغيرهم)

Maknanya: "Betapa banyak orang yang menghidupkan malam dengan ibadah tapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari ibadahnya kecuali begadang (tidak tidur di malam hari), dan betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga" (HR Ibnu Majah, an Nasa'i, Ibnu Hibban dan lainnya)

Seseorang yang melakukan puasa lalu tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga, bisa jadi karena akidahnya tidak benar, niatnya tidak benar atau tata caranya tidak benar. Akidah yang benar, niat yang benar dan tata cara melakukan puasa dengan benar, ketiganya tidak dapat diketahui kecuali dengan belajar dan mengaji ilmu agama.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

3. Khutbah Jumat Berjudul: Persiapan Rohani Menyambut Ramadan

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: ا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Para ulama sepakat bahwa Ramadhan adalah bulan paling mulia dalam Islam. Di dalamnya terhampar rahmat, pengampunan, dan jaminan pembebasan dari api neraka bagi yang sungguh-sungguh mengisi bulan suci tersebut. Keistimewaan Ramadhan tercermin dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Artinya: "Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya."

Penegasan Allah-yang menisbatkan puasa sebagai milik-Nya dan Dia sendiri yang akan mengganjarnya-merupakan penanda betapa spesialnya bulan Ramadhan. Ada hubungan langsung, sangat intim, antara Ramadhan dan Allah. Sehingga, manusia yang serius menapaki Ramadhan akan benar-benar menjadi pribadi yang mulia.

Karena istimewanya Ramadhan, tak heran bila sejak memasuki bulan Rajab, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah menampakkan kerinduannya dalam lantunan doa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

"Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya'ban dan sampaikanlah (pertemukanlah) kami dengan bulan Ramadhan."

Dalam doa tersebut, Nabi Muhammad tak hanya meminta berkah bulan Rajab dan Sya'ban tapi juga memohon panjang umur agar bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Artinya, Ramadhan bagi beliau adalah momen utama yang ditunggu-tunggu. Bahkan, Rasulullah melakukan persiapan khusus di bulan Sya'ban antara lain dengan memperbanyak puasa.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Mengingat pentingnya bulan Ramadhan, hal pertama perlu kita tinjau adalah persiapkan rohani kita. Apakah kita sudah menata niat yang baik untuk menyambut bulan suci ini? Kegembiraan yang terpancar atas datangnya bulan ini apakah sekadar karena ada peluang keuntungan duniawi, mencari pahala, atau yang lebih mendalam dari itu semua: ridha Allah?

Kita tahu, Ramadhan tidak semata bulan ibadah. Dalam kehidupan masyarakat, pada momen tersebut juga beriringan perubahan aktivitas sosial dan kebutuhan ekonomi. Bagi para pedagang dan pengusaha jasa, Ramadhan bisa jadi adalah berkah materi karena meningkatnya omzet mereka. Momen jelang Lebaran, juga kesempatan bagi para pekerja untuk mendapatkan tunjangan hari raya. Pasar-pasar kian ramai, volume belanja masyarakat meningkat, dan seterusnya.

Dalam situasi seperti ini, sejauh mana hati kita tetap fokus pada kesucian Ramadhan tanpa tenggelam terlalu jauh ke dalam kesibukan yang melalaikan? Seberapa sanggup kita menjernihkan niat bahwa bekerja sebagai bagian dari ibadah; meningkatkan ibadah tanpa rasa ujub dan pamer; gemar membantu orang lain tanpa berharap imbalan (ikhlas)?

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalm kitab al-Ghuniyah menganjurkan agar umat Islam menyambut bulan Ramadhan dengan menyucikan diri dari dosa dan bertobat dari kesalahan-kesalahan yang telah lampau. Imbauan Syekh Abdul Qadir ini amat relevan. Sebab, jika hendak bertemu kawan saja seseorang merasa perlu untuk tampil bersih dan berdandan rapi, apalagi bila yang dijumpai ini adalah hari-hari yang penuh keistimewaan sebulan penuh.

Melakukan introspeksi diri, mengevaluasi buruknya perilaku, lalu memohon ampun kepada Allah adalah satu tahapan rohani yang penting agar kita semua memasuki bulan suci dengan pribadi yang juga suci. Dengan demikian, Ramadhan kelak tidak hanya menjadi ajang meningkatkan jumlah ibadah tapi juga nilai ketulusan. Dengan bahasa lain, Ramadhan bukan semata ajang penambahan kuantitas ritual ibadah tapi juga kualitas penghambaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala.

Persiapan rohani ini penting supaya amal kita selama bulan puasa berjalan lancar dan berkah. Lancar, karena kita secara mental sudah siap sedia, baik menunaikan segenap ibadah wajib dan sunnah maupun menghadang godaan-godaan yang bakal menghadang. Berkah, sebab puasa kita mengandung manfaat kebaikan, baik pada diri kita sendiri maupun orang lain. Jangan sampai kita termasuk orang-orang tekun berpuasa tapi mendapat kritik dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: "Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja." (HR Imam Ahmad)

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Puasa Ramadhan sesungguhnya lebih dari sekadar melaksanakan kewajiban rukun Islam yang keempat. Karena di dalamnya terkandung hikmah penempaan diri dalam menguasai hawa nafsu. Puasa atau shiyâm secara bahasa bermakna imsâk yang berarti 'menahan'. Melalui persiapan rohani yang matang, kita diharapkan bisa menahan gejolak nafsu yang mungkin menyenangkan tapi sebetulnya menjerumuskan. Di era media sosial yang riuh ini, kita bisa menyaksikan bagaimana sikap berlebih-lebihan diumbar, kebencian dipertontonkan, hoaks disebar, serta hujatan dan caci-makian disasarkan kepada banyak orang. Semoga kita semua selamat dari akhlak tercela ini dan menapaki Ramadhan yang mulia dengan hati yang bersih, pikiran yang tenang, dan perilaku yang maslahat bagi semua orang. Wallahu a'lam.

4. Khutbah Jumat tentang Ketakwaan di Bulan Ramadan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Menjadi keniscayaan bagi kita untuk senantiasa memanjatkan rasa syukur pada Allah subhanahu wa ta'ala yang telah memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita bisa menikmati karunia nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita semua. Di antara nikmat tersebut adalah nikmat iman dan Islam yang menjadi fondasi kita dalam memegang teguh aqidah dan menjalankan syariat agama Islam. Oleh karenanya mari kita senantiasa meningkatkan ketakwaan pada Allah subhanahu wa ta'ala agar bisa senantiasa:

امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ سِرًّا وَعَلَانِيَّةً ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

"Melaksanakan segala perintah Allah subhanahu wa ta'ala dan menjauhi segala larangan-Nya baik dalam keadaan sepi maupun ramai, lahir maupun batin, dilihat maupun tidak dilihat, dipuji maupun tidak dipuji oleh orang lain."

Perlu khatib ingatkan pula bahwa ajakan pada ketakwaan ini juga merupakan kewajiban setiap khatib dalam setiap mengawali khutbahnya karena memang menjadi rukun khutbah Jumat itu sendiri. Jika khutbah tidak diawali dengan wasiat takwa, maka tidak sah lah khutbah yang dikerjakan dan pastinya akan mempengaruhi kesempurnaan rangkaian ibadah shalat Jumat. Dan mudah-mudahan juga, setiap kali khatib menyampaikan wasiat takwa, tidak hanya menjadi rutinitas dan formalitas belaka namun bisa kita tanamkan dalam hati untuk kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ketakwaan sendiri merupakan tujuan sekaligus buah dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan yang sebentar lagi kita akan laksanakan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS Al-Baqarah: 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Ayat ini bisa menjadi sarana introspeksi diri terhadap kualitas ibadah puasa Ramadhan yang kita lakukan selama ini. Jika kita memiliki kualitas puasa yang baik, maka buah ketakwaan akan menghiasi kehidupan kita minimal selama satu tahun ini, dalam bentuk takut untuk meninggalkan perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, jika dalam dalam memori kita kehidupan yang dilalui selama ini selalu abai dengan perintah Allah dan kita tidak merasa bersalah dan berdosa saat meninggalkan perintah Allah, maka buah ketakwaan dari puasa tidak kita dapatkan.

Oleh karena itu, maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Untuk meningkatkan kualitas ibadah puasa bulan Ramadhan, sehingga buah ketakwaan akan kita dapatkan, sudah seharusnya kita mempersiapkan diri dengan baik sedari awal. Rasulullah SAW pun mengingatkan dengan haditsnya yang mengajarkan kepada kita untuk mempersiapkan Ramadhan sejak bulan Rajab melalui sebuah doa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya: "Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya'ban. Sampaikan kami dengan bulan Ramadhan."

Dari doa ini kita harusnya menyadari bahwa Ramadhan merupakan waktu yang sangat spesial bagi umat Islam sehingga sudah semestinya dipersiapkan dari jauh hari. Layaknya seseorang yang akan menemui hari bahagia pernikahan, pastilah ia akan mempersiapkan jauh-jauh hari dengan sebaik mungkin agar hari istimewanya bisa berlangsung dengan baik. Kebahagiaan pun akan senantiasa mewarnai hari-harinya jelang hari pelaksanaan pernikahannya.

Datangnya bulan suci Ramadhan layak mendapat sambutan gembira. Ia adalah momentum spesial yang Allah anugerahkan hanya sebulan selama setahun. Keutamaan-keutamaan yang terkandung di dalamnya pantas kita nanti-nanti.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Kebahagiaan menyambut bulan suci Ramadhan harus kita wujudkan dengan senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita semisal dengan melakukan ibadah puasa sunah di bulan Rajab dan Sya'ban. Untuk mengisi asupan rohani, kita juga bisa menambah ilmu dengan mengaji sehingga memiliki modal untuk mengisi bulan yang penuh berkah ini dengan amal ibadah yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Hal ini juga dicontohkan oleh Rasulullah shalllallahu 'alaihi wasallam dengan memberikan arahan dan tuntunan Ramadhan pada sahabat-sahabatnya saat memasuki bulan Ramadhan. Dalam arahan tersebut, Nabi menegaskan bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Nabi juga mengingatkan keistimewaan bulan Ramadhan dengan menyebut bahwa siapa yang mengerjakan suatu kewajiban dalam bulan Ramadhan, maka sama dengan menjalankan tujuh puluh kewajiban di bulan lain.

Ramadhan juga menurut Nabi kita adalah bulan kesabaran yang harus dilalui dengan ketabahan dan kesabaran sehingga nantinya akan meraih balasan berupa surga. Ramadhan juga merupakan bulan pertolongan, momen rezeki orang-orang mukmin akan ditambah. Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, maka ia akan diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka. Orang yang memberi buka akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut.

Nabi mengingatkan bahwa awal bulan Ramadhan dipenuhi dengan rahmat, periode pertengahannya dipenuhi dengan ampunan dan maghfirah, dan pada periode terakhirnya merupakan pembebasan manusia dari azab neraka.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Banyaknya keistimewaan yang hadir pada bulan Ramadhan ini haruslah kita sambut dengan riang gembira. Rasulullah pun bergembira menyambut bulan Ramadhan dengan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Nasa'i dan Imam Ahmad:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Artinya "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak memperoleh kebajikan di malam itu, maka ia tidak memperoleh kebajikan apapun."

Oleh karena itu marilah kita mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan tahun ini dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita. Mari kita laksanakan ibadah puasa dengan tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun harus dapat menjaga diri dari segala perbuatan yang tercela. Ibadah puasa harus kita jadikan wahana untuk membentuk sikap mental kita, menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah dan beribadah dengan penuh keikhlasan.

Perlu kita sadari bahwa ibadah puasa bukan hanya ibadah untuk diri kita sendiri, namun untuk Allah SWT. Dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, Allah berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Allah Azza wa Jalla berfirman: "Setiap amal seorang manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasan kepadanya. Puasa itu adalah perisai, karena itu apabila salah seorang di antaramu berpuasa, janganlah mengucapkan perkataan yang buruk dan keji, jangan membangkitkan syahwat dan jangan pula mendatangkan kekacauan. Apabila ia dimaki atau ditantang seseorang, maka katakanlah: Aku sedang berpuasa."

Semoga Allah memberikan kesehatan dan umur panjang pada kita sehingga bisa bertemu dan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan sekaligus mampu meraih buah ibadah puasa yakni, Takwa. Wallahu a'lam bisshawab.

5. Khutbah Jumat Berjudul: Marhaban Ya Ramadan!

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ،
أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: ١٨٣)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Takwa adalah sebaik-baik bekal untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat. Oleh karena itu, khatib mengawali khutbah yang singkat ini dengan wasiat takwa. Marilah kita semua selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala dengan melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan segenap larangan.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِمًا كَانَ لَهُ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى مَذْقَةِ لَبَنٍ أَوْ تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ، وَمَنْ أَشْبَعَ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لَا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ (رواه البيهقي وابن خزيمة وغيرهما)

Maknanya: "Wahai umat manusia, telah ada di hadapan kalian bulan agung yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah jadikan berpuasa di dalamnya sebagai kewajiban dan menghidupkan malam-malamnya sebagai kesunnahan. Bulan yang merupakan bulan kesabaran, dan pahala kesabaran adalah surga. Bulan santunan, yang jika orang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa di bulan itu maka itu menjadi ampunan Allah terhadap dosa-dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka dan dia mendapat pahala yang menyerupai pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa berkurang pahalanya sedikit pun." Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki sesuatu untuk diberikan sebagai makanan berbuka bagi orang yang berpuasa? Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah memberikan pahala ini kepada orang yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa meskipun berupa satu buah kurma, seteguk air atau sedikit susu yang dicampur dengan air. Dan barang siapa memberikan minuman kepada orang yang berpuasa, maka Allah memberikannya minum dari telagaku satu tegukan yang setelahnya dia tidak akan merasakan haus hingga dia masuk surga. Bulan Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka" (HR al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, dan lainnya)

Juga disebutkan dalam hadits riwayat al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman bahwa Allah ta'ala memerdekakan dalam setiap hari dari bulan Ramadhan saat berbuka puasa satu juta orang dari neraka, dan di hari terakhir bulan Ramadhan Allah memerdekakan sebanyak yang Ia merdekakan dari awal hingga akhir bulan Ramadhan. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimerdekakan dari api neraka di bulan penuh berkah ini.

Allah ta'ala telah memuliakan kita dengan menjadikan di antara dua belas bulan dalam setahun terdapat bulan yang paling mulia, bulan yang berlimpah kebaikan. Alangkah merugi orang yang diberi kesempatan mendapati bulan Ramadhan, akan tetapi melewatkannya begitu saja tanpa mengisinya dengan berbagai kebaikan. Betapa merugi orang yang mendapati Ramadhan akan tetapi dia tidak mendapatkan pengampunan dosa dan pembebasan dari api neraka.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sungguh, Ramadhan adalah bulan yang penuh pelajaran. Ramadhan adalah bulan terjadinya perang Badar dan Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah). Ramadhan adalah bulan keimanan yang mengubah tolok ukur kemuliaan pada saat itu, di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya bahwa kemuliaan menurut Allah di akhirat tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang beriman.

Pada akhirnya betapa banyak hati dan jiwa manusia menerima secara penuh agama yang haq ini. Aqidah Islam-lah yang menyatukan antara Abu Bakr dari suku Quraisy, Bilal dari Habasyah, dan Shuhaib yang berasal dari Romawi.

Aqidah Islam telah mengubah para sahabat menjadi pribadi-pribadi yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dunia tidak menjadi tujuan terbesar dan puncak motivasi mereka. Mereka pun memimpin perjalanan dakwah dengan sebaik-baiknya sehingga Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia. Aqidah Islam telah mengubah mereka menjadi pribadi-pribadi yang memiliki jiwa yang baik dan tekad-tekad yang kuat yang tidak pernah melemah. Hadirin rahimakumullah, demikian pula di bulan yang agung dan penuh berkah ini, hendaknya masing masing dari kita tertuju pandangannya kepada sosok-sosok yang luar biasa itu dan meneladani perjuangan mereka.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita raih keutamaan-keutamaan bulan ini. Kita memohon kepada Allah ta'ala agar Ramadhan berakhir dan dosa-dosa kita telah diampuni oleh-Nya. Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahukan bahwa ketika bulan Ramadhan tiba dibukalah pintu-pintu rahmat dan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu para pembesar setan. Setiap waktu berbuka, Allah memerdekakan banyak orang dari api neraka dan ini terjadi di setiap malamnya. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semuanya termasuk orang-orang yang dimerdekakan dari api neraka di bulan yang mulia ini. Mudah-mudahan kita senantiasa diberi kekuatan untuk melakukan puasa dan berbagai ibadah yang lain di bulan yang mulia ini.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

6. Khutbah Jumat Berjudul: Persiapan Menyambut Ramadan

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْعَظِيْمِ الْكَرِيْمِ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كُنِّيَ بِأَبِي الْقَاسِمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Pada momentum kali ini dan seterusnya, mari kita senantiasa menguatkan keislaman dan ketakwaan kita kepada Allah swt dan mempertahankannya sampai akhir hayat kita. Kita harus memegang prinsip yang telah difirmankan oleh Allah swt dan sering dibaca oleh para khatib Jumat yang termaktub dalam Al-Qur'an surat Al Imran ayat 102. Sebuah ayat yang mengingatkan orang-orang beriman untuk senantiasa bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa dan mengingatkan untuk tidak mati kecuali dalam keadaan Islam.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Selain dari pada itu, sebagai makhluk yang sudah dianugerahi nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu, mari kita senantiasa memanjatkan rasa syukur kepada Sang Arrazzaq, Allah swt. Mudah-mudahan rasa syukur yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan tindakan akan menjadikan nikmat yang kita terima ini menjadi barakah dan terus bertambah sebagaimana janji Allah swt dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Jangan sampai kita menjadi hamba yang kufur. Karena kita harus ingat peringatan dari Allah dalam ayat ini, bahwa siapa yang mengingkari nikmat-nikmat Allah akan mendapatkan siksa yang pedih.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Di antara nikmat-nikmat nyata yang kita rasakan sampai saat ini dan tidak bisa kita bantah sama sekali adalah kenikmatan sehat dan umur panjang sehingga kita sampai berada di bulan Sya'ban. Dan sebentar lagi, kita akan bertemu dengan bulan yang mulia yakni Bulan Ramadhan. Semoga doa kita yang sering kita panjatkan sedari bulan Rajab dan Sya'ban agar diberi umur panjang bertemu dengan bulan Ramadhan diijabah oleh Allah swt.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya'ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan."

Sebuah doa ringkas penuh makna yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dan sering kita baca serta dengar dilantunkan di speaker masjid dan mushala oleh anak-anak dan orang tua. Sebuah doa yang mengingatkan kita untuk segera bersiap-siap untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, bulan istimewa yang penuh rahmat, ampunan, dan menjadi washilah kita bisa terhindar dari siksaan api neraka.

Lalu apa yang harus kita siapkan dalam menyambut Ramadhan agar ibadah kita bisa maksimal? Setidaknya ada dua hal yang perlu kita siapkan dalam menyambut dan memaksimalkan bulan Ramadhan yakni persiapan fisik dan mental.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah: 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa di dalam bulan Ramadhan kita diwajibkan untuk melaksanakan ibadah mulia yang juga diwajibkan kepada umat sebelum Nabi Muhammad ﷺ yakni berpuasa. Kita diwajibkan untuk tidak makan dan minum dan menghindari segala sesuatu yang membatalkan puasa kita.

Sehingga perlu persiapan fisik untuk tubuh kita agar dapat beradaptasi dengan baik yakni melalui latihan puasa di bulan-bulan sebelumnya, seperti bulan Rajab dan Sya'ban. Rasulullah ﷺ pun telah mencontohkannya dan kita sebagai umatnya patut untuk mengikutinya sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya: "Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, "Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya'ban".

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Selain persiapan fisik, penting juga untuk melakukan persiapan mental menghadapi Ramadhan. Persiapan ini bisa dilakukan dengan menanamkan kegembiraan dalam diri kita. Secara psikologis, rasa gembira saat menyambut sesuatu akan menumbuhkan kecintaan dalam melakukan sesuatu. Dan jika kecintaan sudah tumbuh saat melakukan sesuatu, maka pasti akan maksimal hasil yang didapatkannya. Rasulullah pun telah mengingatkan dalam haditsnya untuk senantiasa bergembira menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Kegembiraan ini juga bakal diganjar dengan sebuah keistimewaan:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

Artinya: "Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka."

Subhanallah, begitu mulianya bulan Ramadhan, sampai rasa gembira menyambut kedatangannya pun, kita akan mendapatkan balasan kebahagiaan tiada tara yakni terhindar dari siksa api neraka. Rasulullah pun telah mengingatkan kemuliaan-kemuliaan bulan Ramadhan dalam haditsnya yang diriwayatkan Imam Nasa'i:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan."

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Selain persiapan mental dengan rasa gembira, kita juga perlu untuk mempersiapkan diri dengan meningkatkan mental bekal pengetahuan agama sekaligus guna meningkatkan keimanan kita. Hal ini bisa dilakukan dengan mengkaji dan menggelar majelis ta'lim yang berkaitan dengan tuntunan ibadah bulan Ramadhan. Ikhtiar ini juga dalam rangka menyatukan pemahaman dan jiwa kita beserta keluarga dengan bulan Ramadhan. Selain tentunya meningkatkan kuantitas atau frekwensi ibadah kita jelang dan selama bulan Ramadhan nanti.

Semoga dengan ikhtiar lahir batin kita menyambut bulan Ramadhan, kita dapat dengan maksimal memanfaatkannya sehingga kita akan benar-benar mencapai tujuan dari disyariatkannya ibadah puasa yakni menjadi insan yang bertakwa kepada Allah swt.

7. Khutbah Jumat Berjudul: Harapan pada Bulan Puasa

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَانَ بِعِبَادِهِ كَبِيرًا بَصِيرًا، تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا. اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang dimuliakan Allah..

Saat-saat menjelang Ramadhan, adalah saat-saat yang penuh harap. Kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang lemah, yang telah banyak berbuat kesalahan. Bertemu dengan bulan mulia- bulan diobralnya pahala-adalah harapan besar bagi kita, karena Ramadhan adalah bulan yang paling utama dalam satu tahun,

dan Ramadhan adalah harapan agar terampuni dosa-dosa yang telah lalu. Kemudian, apa sebenarnya cita-cita dan harapan seorang Muslim yang giat pada bulan Ramadhan?

Jawabannya tergambar dalam doa yang sering dipanjatkannya di sepanjang malam bulan Ramadhan. Tentu saja doa-doa itu banyak sekali; ada yang lafalnya berasal dari ayat-ayat suci al- Quran ataupun as-Sunnah. Di antara doa tersebut adalah "Doa Kamilin" yang biasa dibaca usai shalat tarawih.

Perlu diketahuai bahwa nama "Kamilin" diambil dari salah satu kalimat awal dalam doa tersebut. Doa itu lumayan panjang hingga satu halaman. Ada sekitar 24 permintaan dan harapan yang dipanjatkan dalam doa tersebut. Pada kesempatan kultum kali ini, khatib hanya mengambil 5 kalimat doa saja untuk diuraikan secara singkat dan padat.

Dalam kitab Mutiara Ramadhan yang disusun oleh Abuya K.H. Abdurrahman Nawi, doa tersebut berbunyi:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِينَ وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِينَ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِينَ.

"Ya Allah, jadikalah kami golongan yang sempurna dengan (di dalam) iman, yang mampu menunaikan berbagai kewajiban, memelihara shalat, melaksanakan zakat dan hanya mencari (ridha) di sisi Engkau."

Hadirin yang berbahagia...

Ada 5 (lima) harapan dan cita-cita yang tercantum dalam doa tersebut; (1) kesempurnaan iman; (2) kemampuan menunaikan berbagai kewajiban; (3) mampu memelihara shalat; (4) mampu melaksanakan zakat; dan (5) ikhlas mencari ridha Allah.

Mari kita bahas satu per satu.

Harapan pertama, kesempurnaan iman

الْكَامِلِينَ بِالْإِيْمَانِ. Bagaimanakah kesempurnaan itu digapai. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at- Tirmidzi, Rasulullah telah bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang berlaku baik kepada istrinya."

Dalam kitab Mauizhatul Mu'minin karya Syekh Muhammad

Jamaluddin al-Qasimi dikatakan bahwa terdapat empat pokok akhlak yang mulia, yaitu keberanian, keadilan, kebijaksanaan, dan menjaga kehormatan. Oleh karena itu, mari kita berlomba- lomba menjadi seorang pemberani yang adil, bijaksana, dan menjaga kehormatan berdasarkan tuntunan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Harapan kedua, yaitu dapat menunaikan segala kewajiban

وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّينَ. Maknanya, mampu bertakwa kepada Allah, menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi setiap larangannya. Kemampuan itu dinamakan taufik yang diciptakan Allah. Apa itu taufik? Dalam kitab Syarah An-Nawawi ala Muslim juz 1 halaman 73, disebutkan taufik adalah,

خَلْقُ قُدْرَةِ القَتَاعَةِ

"Diciptakannya kemampuan untuk taat kepada Allah."

Berdasarkan surah al-Baqarah ayat 183, kemampuan itu dapat diraih dengan berpuasa pada bulan Ramadhan. Allah menjanjikan kita dapat bertakwa dengan ungkapan "la'allakum tattaqun" di penghujung ayat tersebut yang artinya, pasti kalian menjadi orang yang bertakwa jika kalian melaksanakan kewajiban puasa pada bulan Ramadhan.

Hadirin yang dimuliakan Allah...

Harapan ketiga, shalat yang terpelihara

وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِينَ. Bagaimanakah caranya agar shalat kita terpelihara? Hal yang harus kita pahami adalah bahwa Allah tidak hanya memerintahkan shalat, tapi memelihara dan menegakkan shalat. Shalat kita harus lurus, tegak, dan terpelihara. Niatnya lurus. Caranya lurus. Hatinya khusyuk. Maka, hasilnya pun juga insya Allah lurus dan benar. Yaitu, tercegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah berfirman dalam surah Thaha ayat 14:

... وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (٤١)

"... Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (Allah)"

Juga dalam surah al-Baqarah ayat 238,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah shalat 5 waktu dan shalat wustha (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk."

Dalam surah al-Ma'un ayat 4-6, Allah juga mengingatkan agar memerhatikan dan memelihara shalat kita,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ (٦)

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna."

Harapan keempat, menjadi golongan penunai zakat .)وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِينَ( Harapan ini adalah harapan yang sangat penting diwujudkan bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Sebab, zakat tidak hanya zakat mal (harta) saja, tetapi juga zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan pada saat bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah telah bersabda:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةُ لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

"Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih orang yang berpuasa darı ucapan yang tidak berfaedah dan jelek."

Jamaah rahimakumullah...

Harapan kelima, terakhir, mencari tempat yang mulia dan keridhaan di sisi Allah. ) وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ( Harapan ini menjadi harapan penyempurna bagi seluruh harapan pegiat bulan Ramadhan. Artinya, semua amal ibadah kita harus ditujukan semata-mata hanya karena mengharap ridha Allah (ikhlas).

Dalam kitab an-Nasha'ihud Diniyyah, al-Imam al-Haddad memaparkan makna Ikhlas,

مَعْنَى الْإِخْلَاصِ أَنْ يَكُوْنَ قَصْدُ الْإِنْسَانِ فِي جَمِيعِ طَاعَاتِهِ وَأَعْمَالِهِ مُجَرَّدَ التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَإِرَادَةِ قُرْبِهِ وَرِضَاهُ, دُوْنَ غَرْضٍ أَخَرَ مِنْ مُرَاءَاةِ النَّاسِ وَطَلَبِ مَحْمَدَةٍ مِنْهُمْ أَوْ طَمَعِ

"Pengertian ikhlas adalah seseorang di dalam seluruh ketaatan dan perbuatannya ditujukan semata-mata karena berusaha mendekat kepada Allah dan menginginkan kedekatan dan keridhaannya. Tidak ada maksud yang lain seperti ingin pamer, dipuji, atau mengharap sesuatu dari makhluk (tamak)."

Demikianlah lima harapan saja dari sekian banyak harapan para aktivis pegiat Ramadhan. Semoga Allah mengabulkan semua harapan dan doa tersebut dan menjadikan kita termasuk orang yang berhasil menggapai rahmat dan maghfirah (ampunan) ini sebagaimana hadis Nabi, "Barang siapa melakukan puasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Muttafaq 'alaih). Amin ya rabbal 'alamin.

8. Khutbah Jumat Berjudul: Ramadan Bulan Penuh Cinta

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَاخْتِلَافَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اللَّهُمَّ فَصَلَ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ يُحْسِنُونَ إِسْلَامَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ

Jamah yang dicintai Allah ...

Ramadhan sebagai bulan untuk kian mendekatkan diri kepada Allah adalah momentum tepat untuk merenungi dua ajaran dasar dalam Islam. Pertama, Allah adalah rabbul 'alamin atau Allah adalah Tuhan seluruh alam. Artinya, hamba Allah bukan hanya manusia, melainkan seluruh makhluk lain: binatang, tumbuhan, gunung, tanah, udara, laut, dan sebagainya.

Dalam konteks hubungan antara khaliq (pencipta) dan makhluq, manusia sama dengan ciptaan-ciptaan lain.

Ajaran yang kedua adalah rahmatan lil 'alamin atau menebar kasih sayang kepada seluruh alam, sebagai misi utama ajaran Islam. Manusia tak hanya dituntut berbuat baik dengan manusia lainnya, tetapi juga makhluk lainnya. Itulah mengapa saat perang Badar yang peristiwanya tepat pada bulan Ramadhan, Rasulullah melarang pasukan Muslim merusak pohon dan membunuh binatang sembarangan. Hal ini menjadi bukti bahwa Islam sangat menyayangi alam.

Hadirin yang berbahagia ...

Dengan menyadari dua ajaran dasar tersebut (Allah rabbul 'alamin dan misi Islam rahmatan lil 'alamin), dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia dan alam memiliki hubungan integral dan timbal balik. Manusia memang diberi kelebihan untuk bisa memanfaatkan alam, tetapi ia sekaligus berkewajiban pula melestarikan dan melindunginya. Saat alam hanya diposisikan sebagai objek yang dimanfaatkan, eksploitasilah yang akan muncul. Eksploitasi yang timbul dari sifat serakah akan berdampak pada kerusakan. Lantas, ujungnya adalah bencana alam.

Sebagaimana tercantum dalam surah ar-Rum ayat 41, Allah mengabarkan bahwa di balik kerusakan yang melanda bumi maupun di laut ada ulah manusia sebagai penyebabnya. Bencana alam yang terjadi tentu bukan salah alam, karena alam bergerak atas dasar sunnatullah (hukumnya) sendiri. Jadi, bencana alam itu tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui faktor, yakni sifat dan perilaku manusia. Hal ini juga berlaku untuk hewan atau binatang yang ada di bumi. Apabila ada hewan yang sudah mulai langka dewasa ini, hal ini adalah akibat ulah tangan manusia yang tamak dan ingin menumpuk keyaaan semata tanpa memedulikan keberlangsungan hidup satwa, terutama yang dilindungi.

Hadirin yang dimuliakan Allah ...

Sebaliknya, bila manusia bersahabat dan berbuat baik terhadap alam, alam pun mendatangkan maslahat bagi dirinya. Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian." (HR. Abu Dawud)

Dalam riwayat Tirmidzi dengan teks,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka, sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian." (HR. Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh Tirmidzi)

Jamaah hafizhakumullah...

Dalam Nashaihul 'Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani menuliskan kisah yang unik, menggelitik dan bermakna. Betapa tidak, dalam kisah tersebut terungkap gambaran lain seorang ahli tasawuf, sang pengarang kitab legendaris Ihya 'Ulumuddin, Imam al-Ghazali ini-yang konon telah mengantarkannya ke surga. Seorang imam besar yang terselamatkan dari panasnya api neraka oleh seekor lalat.

Konon pada suatu ketika ada seseorang berjumpa dengan Imam al-Ghazali dalam sebuah mimpi. Lantas ia pun bertanya, "Bagaimana Allah memperlakukanmu?"

Imam al-Ghazali pun berkisah. Di hadapan Allah ia ditanya mengenai bekal apa yang hendak diserahkan kepada-Nya. Al- Ghazali menjawab dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia. Namun, Allah menolak semua itu. Kecuali, satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat. Dan, karena lalat itu pula Imam al-Ghazali diizinkan memasuki surga-Nya.

Dikisahkan pada suatu hari, Imam al-Ghazali tengah sibuk menulis kitab. Hal yang lazim dalam dunia kepenulisan adalah dengan menggunakan tinta dan sebatang pena. Pena itu harus dicelupkan dulu ke dalam tinta baru kemudian dipakai untuk menulis, jika habis dicelup lagi dan menulis lagi, begitu seterusnya. Di tengah kesibukan menulisnya itu, tiba-tiba terbanglah seekor lalat dan hinggap di mangkuk tinta Imam al-Ghazali. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu.

Dari kisah tersebut, kita tahu bahwa betapa luas kasih sayang Imam al-Ghazali terhadap sesama makhluk, termasuk lalat yang pada saat itu datang "mengganggu" kenikmatannya dalam kegiatan menulis. Hikmah yang bisa kita petik dalam kisah ini adalah mengenai kasih sayang yang tiada batas. Kasih sayang manusia terhadap makhluk lain, sekalipun itu hewan. Tak menutup kemungkinan kasih sayang yang dianggap sepele ini dapat menghantarkan manusia menuju ke surga-Nya.

9. Khutbah Jumat Berjudul: Cerminan Takwa, Tujuan Puasa

الحَمْدُ للهِ الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيعَةِ النَّبِي الكَرِيمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، ذُو الجلال والإكرام، وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رسوله، اللهُمَّ صَلَّ و سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اله وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ

Hadirin yang berbahagia ...

Perintah puasa dimaksudkan untuk membentuk pribadi yang bertakwa kepada Allah sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran, surah al-Baqarah ayat 183, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Dari ayat tersebut, diketahui bahwa tujuan dari dijalankannya ibadah puasa adalah agar kita, hamba- Nya menjadi orang-orang yang bertakwa. Lantas, bagaimana cerminan atau indikasi dari sifat takwa tersebut?

Jamaah yang dimuliakan Allah ...

Ibadah puasa yang dijalankan dengan benar akan menghasilkan orang-orang yang setidaknya memiliki 3 (tiga) kesalehan sebagai cerminan dari ketakwaan kepada Allah.

Ketiga kesalehan tersebut adalah;

Pertama: Kesalehan Personal

Kesalehan personal merupakan kesalehan invidual yang berupa penghambaan pribadi kepada Allah seperti menjalankan shalat, puasa itu sendiri, zikir, iktikaf di dalam masjid, tadarus al-Quran, dan sebagainya. Kesalehan seperti ini sesungguhnya lebih mudah dicapai di bulan Ramadhan karena selama bulan ini Allah mengondisikan situasi dan kondisi sedemikian kondusif, seperti memberi reward (penghargaan) kepada siapa saja atas ibadah yang dilakukannya berupa pahala 70 kali lebih besar daripada di luar bulan Ramadhan, sekaligus memberikan punishment (hukuman) yang lebih berat bagi pelaku kemaksiatan. Selain itu, Allah juga menjanjikan pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan pada masa lampau.

Muslimin yang dicintai Allah ...

Kedua: Kesalehan Sosial

Kesalehan sosial adalah kesalehan seseorang terhadap orang lain dalam kerangka ibadah kepada Allah. Puasa yang dijalankan dengan benar dan dihayati sepenuhnya akan menghasilkan orang-orang yang peka terhadap persoalan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan sebagainya. Mereka juga akan memiliki solidaritas sosial terhadap orang-orang yang membutuhkan uluran bantuan, baik berupa barang maupun jasa, karena terkena bencana, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran, tsunami, dan sebagainya.

Namun, kepekaan dan solidaritas seperti itu sulit dicapai ketika orang yang berpuasa tidak bisa menghayati makna lapar, dahaga dan kesulitan, atau kesusahan lain yang dihadapinya. Dari penghayatan seperti itu diharapkan akan tumbuh kesadaran untuk membantu meringankan penderitaan mereka. Dalam konteks seperti itulah, zakat fitrah diwajibkan bagi setiap orang Islam untuk dikeluarkan dan diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu. Zakat fitrah ini harus sudah diberikan kepada yang berhak sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan.

Diharapkan, dari zakat fitrah ini akan ada kepastian atau jaminan bahwa setidaknya pada hari Idul Fitri tidak ada orang yang kelaparan di tengah-tengah kaum Muslimin yang merayakan hari itu dengan suka cita. Syukur-syukur jika zakat fitrah yang diterima orang-orang yang tidak mampu itu jumlahnya cukup besar, sehingga dapat menjamin anak- anak mereka serta orang-orang tua yang sudah uzur dalam keluarga itu dapat makan setiap harinya.

Jamaah rahimakumullah ...

Ketiga: Kesalehan Lingkungan

Kesalehan lingkungan adalah kesalehan dalam hubungannya dengan ekologi atau lingkungan dalam kerangka ibadah kepada Allah. Dalam al-Quran, surah ar-Rum ayat 41, Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (١٤)

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Dalam ayat di atas Allah mengingatkan kita bahwa kerusakan- kerusakan di bumi sebenarnya disebabkan ulah manusia sendiri. Misalnya, pencemaran udara dan disebabkan kita terlalu banyak memproduksi sampah berupa asap sebagai efek samping dari kegiatan kita yang terlalu banyak mengonsumsi, baik melalui cerobong-cerobong pabrik, asap kendaraan bermotor, asap rokok, dan sebagainya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pencemaran udara menyebabkan jumlah orang yang menderita penyakit saluran napas, terutama asma dan bronkitis meningkat.

Secara jelas, puasa akan membentuk kesalehan lingkungan karena selama berpuasa banyak hal yang berpotensi merusak atau mencemari lingkungan dapat kita kurangi. Sebagai contoh, pada bulan Ramadhan kita dapat mengurangi kebiasaan-kebiasaan yang tidak ramah lingkungan dengan berkurangnya aktivitas-aktivitas, seperti menurunnya mobilitas dengan kendaraan bermotor karena merasa lemas pada siang hari. Ini artinya pemakaian BBM pun berkurang. Lantas, semakin menurunya konsumsi makanan, minuman, dan rokok, maka sampah-sampah dan asap yang mencemari lingkungan juga berkurang. Menurunnya permintaan bahan-bahan makanan dan minuman berarti berkurangnya eksploitasi terhadap alam.

Hadirin yang dimuliakan Allah ...

Ketiga kesalehan di atas, yakni kesalehan personal, kesalehan sosial, dan kesalehan lingkungan akan benar-benar menjadi kesalehan yang nyata, apabila selepas bulan Ramadhan, yakni selama 11 bulan berikutnya, kita benar-benar dapat meneruskan apa yang sudah kita capai dan raih selama Ramadhan tersebut.

Jika ketiga kesalehan itu hanya berlangsung selama bulan Ramadhan saja, puasa Ramadhan yang kita jalani belum mampu mengubah kita menjadi orang-orang istiqamah yang secara konsisten mampu meningkatkan kesalehan dari waktu ke waktu.

Semoga lewat puasa Ramadhan tahun ini kita semua dimudahkan oleh Allah dalam mencapai ketiga kesalehan tersebut secara istiqamah. Dengan harapan akhir, semoga kita lolos dari ujian dan godaan selama bulan Ramadhan, baik itu ujian dari hawa nafsu dan godaan setan yang senantiasa menyeru kepada menjauhi hal-hal kebaikan. Sehingga, kita menjadi hamba Allah yang menyandang predikat "takwa".

Aamiin... aamiin... ya rabbal 'alamin.

Jadi itulah kumpulan teks khutbah Jumat 13 Februari 2026 yang dapat dijadikan referensi untuk khutbah Jumat akhir sebelum bulan Ramadan. Semoga bermanfaat, detikers.

Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(sto/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

Jual Tiket & Promosikan
Acaramu hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
${event.name}

${event.name}

${this.helper.parseDate(event)}
${this.helper.parsePrice(event.price_min)}
Pesan Tiket
`; } renderMultiple(events) { if (!events || events.length === 0) return; this.shadowRoot.innerHTML = `
detikevent

Jual Tiket
& Promosikan Acaramu
hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
`; } renderNone(){ this.shadowRoot.innerHTML = `
No Event Available
`; } } customElements.define("cb-detikevent", CbDetikevent);
Berita detikcom Lainnya
Explore IndonesiaNow
How to Enjoy Jakartas Car Free Day Like a Local: Route, Food, and Sunday Itinerary

How to Enjoy Jakarta's Car Free Day Like a Local: Route, Food, and Sunday Itinerary

Indonesian Deputy Minister Reveals Why China Leads Global EV Market

Indonesian Deputy Minister Reveals Why China Leads Global EV Market

Read in English `; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); } async connectedCallback() { this.shadowRoot.innerHTML = CbIndonesiaNow.html; } } customElements.define("cb-indonesia-now", CbIndonesiaNow);
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Apresiasi dari detikcom terhadap individu, komunitas, organisasi sosial, perusahaan yang telah berkontribusi nyata dalam membangun masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta, baik dari sisi budaya, sosial & inovasi.

`; } constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); this.shadowRoot.innerHTML = CbDetikJatengJogjaAwards.html; } async connectedCallback() { new Swiper(this.shadowRoot.querySelector(".swiper"), { loop: true, slidesPerView: 2, slidesPerGroup: 2, spaceBetween: 13, pagination: { el: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-pagination"), clickable: true, }, navigation: { nextEl: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-button-next"), prevEl: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-button-prev"), }, }); } } customElements.define("cb-detikjatengjogja-awards", CbDetikJatengJogjaAwards);

Loker Jogja

Komentar Terbanyak

Berita Terpopuler

Hide Ads