Saat ini umat Islam telah memasuki awal bulan Muharram 1448 H. Pergantian tahun Hijriah mengingatkan kita akan sejarah hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Pergantian Tahun Baru Islam ini juga bisa dimaknai sebagai semangat perubahan menuju masa depan yang lebih baik.
Hari ini kita memasuki hari Jumat pertama di bulan Hijriah 1448 H. Berikut ini contoh teks khutbah Jumat yang bisa dibacakan saat ibadah salat Jumat mengutip dari buku Mimbar Jumat Edisi 1223 Tahun XXV/2023 yang diterbitkan oleh Bidang Penyelenggara Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal.
Khutbah Jumat: Spirit Hijrah dan Perubahan Menuju Masa Depan Lebih Baik
Disusun oleh Moch. Taufiqurrahman, SQ, MA, Direktur Madrasah Istiqlal Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الأَنْعَامِ وَالآبَاءِ، فَلَا ابْتِدَاءَ لِمَحْدُودِهِ وَلَا انْتِهَاءَ، يَسْتَوِي بِعِلْمِهِ السِّرُّ وَالخَفَاءُ، القَائِلُ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الكَبِيرُ المُتَعَالُ، المُنَزَّهُ عَنِ التَّشْبِيهِ وَالمِثَالِ، الَّذِي يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ كُلُّ شَيْءٍ فِي الغُدُوِّ وَالآصَالِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي حَذَّرَنَا مِنْ دَارِ الفُتُونِ، المُنَزَّلُ عَلَيْهِ: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ وَأَصْحَابِهِ الأَبْرَارِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Jama'ah shalat Jumat yang berbahagia.
Segala Puji hanya milik Allah subhanahu wata'ala, shalawat dan salam semoga tercurahkan untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, keluarga beliau dan sahabat beliau.
Dari mimbar ini, khatib menyampaikan nasihat kepada kita semua, khususnya kepada diri khatib sendiri, agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata'ala. Hal itu dilakukan dengan menjalankan seluruh kewajiban secara konsisten, menjaga keteguhan hati serta kemantapan jiwa, dan menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang, dengan penuh kesabaran dan ketabahan.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.
Kita telah berada di bulan Muharram, yang menandai dimulainya tahun baru Hijriah 1445 H. Setiap awal tahun Hijriah, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa hijrah, meskipun tidak semua merayakannya secara seremonial. Namun lebih dari sekadar perayaan, tahun baru Hijriah seharusnya dimaknai sebagai momentum penting untuk melakukan perubahan diri.
Seorang muslim semestinya memiliki kesiapan untuk memaknai pergantian tahun sebagai waktu evaluasi dan perbaikan diri. Selain sebagai sarana refleksi, momen ini juga menjadi kesempatan untuk merancang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Makna Hijrah
Tahun baru Hijriah merupakan sistem penanggalan dalam Islam yang berlandaskan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat. Khalifah Umar bin Khattab menjadi tokoh penting dalam penetapan awal kalender Hijriah. Penentuan ini tidak didasarkan pada kelahiran Nabi Muhammad SAW atau wafat beliau, melainkan pada peristiwa sejarah hijrah beliau dari Mekah ke Madinah yang saat itu dikenal dengan nama Yatsrib.
Peristiwa itu terjadi pada 2 Juli 622 M bertepatan dengan 12 Rabiulawal. Hijrah ke Madinah bukan merupakan hijrah pertama bagi umat Islam, karena sebelumnya sekelompok kaum muslim telah melakukan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah yang sangat penting dan strategis. Ini menjadi awal dari fase baru perjuangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Masa kenabian terbagi menjadi dua fase, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Pada periode Makkah, Nabi membawa perubahan mendasar pada aspek akidah. Pola kemusyrikan diganti dengan konsep tauhid. Melalui tauhid, manusia diarahkan untuk menentukan pilihan hidupnya, dengan Allah sebagai satu-satunya tujuan kecintaan dan pengabdian, bukan manusia atau materi.
Selama tiga belas tahun, Nabi berdakwah di Makkah dalam situasi yang penuh tekanan, ancaman, dan penderitaan. Hijrah ke Madinah menjadi titik perubahan besar yang membebaskan umat Islam dari berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan. Umat Islam yang berhijrah dari Makkah disebut Muhajirin, sedangkan kaum muslim Madinah yang memberikan pertolongan disebut Anshar.
Perpindahan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersama para sahabat, baik laki-laki maupun perempuan, membawa perubahan signifikan dalam perjalanan sejarah Islam. Di Makkah, umat Islam berada dalam posisi lemah, mengalami tekanan, boikot, dan berada di bawah dominasi politik kaum Quraisy. Sebaliknya, di Madinah, umat Islam mulai memiliki posisi kepemimpinan dan kendali sosial-politik.
Pada fase Madinah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan pembaruan dalam kehidupan umat, termasuk reformasi sosial dan pembinaan masyarakat. Fanatisme kesukuan digantikan dengan nilai kemanusiaan yang lebih luas dan inklusif.
Walaupun secara fisik hijrah terjadi pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat, makna hijrah tetap relevan bagi umat Islam saat ini. Hijrah dapat dipahami sebagai proses transformasi diri dan pembaruan sosial menuju kualitas kehidupan yang lebih baik dan beradab.
Jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala.
Ragib Al-Isfahani (w. 502 H/1108 M), pakar leksikografi al-Quran, berpendapat istilah hijrah mengacu pada tiga pengertian.
Pertama, meninggalkan negeri yang penduduknya sangat tidak bersahabat menuju negeri yang aman dan damai.
وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Artinya : "Dan dia (Ibrahim) berkata, "Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku" (QS. as-Saffat/37: 99).
Kedua, meninggalkan syahwat, akhlak buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan dan kemaslahatan (QS. al-Ankabut/29: 26).
فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ ۘ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya : "Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, "Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana" (QS. al-Ankabut/29: 26).
Ketiga, meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, narsisme, dan hedonisme menuju kesadaran kemanusiaan dengan cara mujahadah al-nafs (mengontrol hawa nafsu).
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Artinya : "Orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan segala yang dibenci Allah" (HR. Bukhari).
Jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala.
Kata hijrah dalam al-Qur'an banyak disebut secara bergandeng dengan kata iman dan jihad. Sebagai contoh:
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya : "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan" (QS. at-Taubah/9: 20).
Ayat ini menegaskan bahwa hijrah dan sikap melawan berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan merupakan bagian dari iman yang benar dan tulus. Seorang muslim yang baik tidak akan membiarkan dirinya tetap berada dalam lingkungan yang mendorong pada kemungkaran, terlebih jika berkaitan dengan penindasan, khususnya terhadap kelompok yang lemah. Seorang muslim yang baik juga tidak merasa nyaman dengan kondisi yang penuh kemaksiatan. Penyebutan kata jihad dalam ayat ini menunjukkan bahwa hijrah selalu berkaitan dengan usaha, kesungguhan, dan pengorbanan.
Spirit Hijrah Menuju Perubahan
Hijrah dalam kehidupan manusia dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Objek hijrah dapat berupa tempat maupun kondisi. Hijrah dapat berlangsung secara fisik (material) maupun non-fisik (maknawi atau spiritual). Hijrah secara fisik dari Makkah ke Madinah telah berakhir setelah Rasulullah kembali ke Makkah pada tahun ke-8 Hijriah.
Sisa makna hijrah kini lebih banyak berada pada dimensi mental dan spiritual.
Hijrah mental-spiritual pada dasarnya merupakan proses internalisasi nilai tauhid yang kemudian mendorong transformasi sosial dalam kehidupan manusia. Proses ini mengarahkan perubahan dari pola hidup jahiliyah menuju peradaban yang lebih beradab sesuai nilai Islam. Spirit hijrah juga mendorong perubahan berkelanjutan yang memperkuat kualitas iman, ilmu, dan takwa dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Hijrah mental spiritual menuntut kita untuk meninggalkan pola pikir dan budaya lama yang merugikan bangsa, seperti korupsi, praktik pembalakan dan pembakaran hutan, tindakan kekerasan, pelanggaran HAM, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.
Jamaah yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala.
Perubahan pola pikir yang paling mendasar dalam spirit hijrah adalah pembaruan kesadaran (syahadat) dan komitmen akhlak yang mulia. Secara teologis, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Hal ini menegaskan bahwa hijrah sejati harus dibuktikan melalui perubahan sikap, perilaku, dan karakter yang lebih baik dan positif.
Karena itu, perubahan besar selalu berawal dari diri sendiri, dimulai dari niat yang kuat dan lurus. Ketika seseorang hendak berhijrah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan bahwa setiap amal bergantung pada niatnya. Segala tindakan akan bernilai sesuai dengan tujuan yang mendasarinya. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka arah hijrahnya akan menuju ridha Allah dan Rasul-Nya. Namun jika hijrahnya karena kepentingan dunia, seperti mencari pasangan, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, hijrah menuju kebaikan harus dimulai dari pembenahan mindset yang bersih, kuat, dan berlandaskan nilai spiritual.
Hijrah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menuju perubahan yang lebih baik menunjukkan keteladanan sebagai role model terbaik (uswah hasanah). Melalui hijrah, beliau memberikan contoh kepemimpinan yang penuh kasih sayang, mengorbankan diri demi umat, serta membimbing dengan ketulusan hati.
Beliau juga membangun karakter umat dengan pendidikan yang kuat. Proses pembinaan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan, keteguhan, serta kesabaran tanpa mengenal lelah.
Ia terus memberikan motivasi dan inspirasi. Beliau juga mendidik para sahabat dengan penuh kesabaran: tidak mudah terpancing emosi, tidak menyakiti, tetapi menjadikan para sahabat sebagai mitra yang sejati.
Hijrah menuju perubahan ke arah yang lebih baik idealnya membentuk sikap batin yang mendorong lahirnya karakter positif, baik, dan dilakukan secara sadar. Karena itu, spirit hijrah perlu diarahkan pada beberapa hal.
Pertama, proses humanisasi masyarakat agar menjadi pribadi yang lebih berakhlak dan beradab.
Kedua, menumbuhkan rasa malu dan etos kerja, serta mendorong perlombaan dalam kebaikan (fastabiqul khairat) sesuai tuntunan nilai agama.
Ketiga, menghidupkan semangat untuk berbuat yang terbaik dan memberi manfaat bagi orang lain demi kemajuan bersama, kebaikan, dan kesejahteraan bangsa.
Dengan demikian, hijrah tidak cukup hanya sebagai niat, tetapi harus disertai penguatan nilai dan kesalehan yang menyeluruh agar jalan menuju kesuksesan menjadi lebih terbuka dan jelas. Teladan hijrah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menunjukkan bahwa perubahan harus menjadi energi positif dalam mendorong perbaikan sosial yang berkelanjutan.
Arah pembangunan bangsa ini perlu dijaga agar tetap berada dalam koridor ridha Allah. Spirit hijrah mengajarkan bahwa setiap perubahan harus bermuara pada kebaikan, kontribusi, dan tanggung jawab sosial yang nyata.
Akhirnya, kita berdoa semoga di tahun baru ini kita menjadi lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selamat tahun baru Islam 1445 H.
كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. قُولُوا هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، الَّذِي فَضَّلَ شَهْرَ المُحَرَّمِ عَلَى غَيْرِهِ مِنْ شُهُورِ العَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. كَمَا قَالَ تَعَالَى: تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ البَرَرَةِ الكِرَامِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
نَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمْ خَشْيَةً فِي الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ المُتَّقِينَ، وَأَنْ يُحْيِيَنَا جَمِيعًا عَلَى سُنَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْ يُمِيتَنَا عَلَى الإِيمَانِ، وَأَنْ يَحْشُرَنَا فِي زُمْرَةِ الصَّالِحِينَ.
وَمَا أَمَرَ اللَّهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِّينَ: أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، وَعُمَرَ الفَارُوقِ، وَعُثْمَانَ ذِي النُّورَيْنِ، وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِكَرَمِكَ وَرَحْمَتِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِينَ المُخْلِصِينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ وَأَعْدَاءَ الدِّينِ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالغَلَاءَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بِلَادِنَا إِنْدُونِيسِيَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلْدَانِ المُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ العَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَعِينُكَ عَلَى نِعَمِكَ بِكَرَمِكَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ مِنْ فَضْلِكَ بِعَظَمَتِكَ، وَاذْكُرِ اللَّهَ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.




































































