Traveler pasti tahu tentang Ciwidey, perkebunan teh nan hijau di Bandung. Ternyata nama Ciwidey berasal dari benda ini.
Ciwidey dikenal dengan hamparan hijau kebun teh, kabut tipis, serta udara sejuk yang akan menyambut wisatawan untuk liburan ke sana.
Di balik keindahan alamnya, Ciwidey menyimpan kisah panjang tentang asal-usul nama, masa perkebunan kolonial, hingga perubahan menjadi destinasi wisata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip jurnal berjudul Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi Komoditas Teh di Ciwidey Kota Bandung (1870-1874) karya Wulan Lainul Qolby, Ai Samatinusari, Ilham Ramdani, Nita Puspita, Pernandos Simbolon, Rahma Raudotun Nissa, Muhammad Ridho Dzikri Lattar, Ciwidey adalah ruang hidup yang merekam perjalanan masyarakat Sunda, ekspansi perkebunan pada era Hindia Belanda, serta perubahan ekonomi dari ladang dan pabrik teh menuju pariwisata yang terus berkembang hingga kini.
Mengutip dari beberapa sumber, asal-usul nama Ciwidey paling banyak dikaitkan dengan bahasa Sunda lokal. Kata "ci" berarti air, sementara "widey" diyakini merujuk pada wide, yakni wadah atau alat penangkap ikan tradisional dari anyaman bambu.
Dari nama tersebut, diketahui Ciwidey sebagai kawasan yang kaya akan aliran air. Masyarakat dahulu memanfaatkan wide untuk mencari ikan di sungai, sehingga gabungan kata ini menjadi penanda geografis sekaligus rekam jejak aktivitas kehidupan warga setempat.
Melansir dari laman Desa Ciwidey, terdapat pula versi cerita rakyat yang berkaitan dengan ramalan Eyang Rangga Sadana. Menurut kisah tersebut, kawasan ini kelak akan banyak dikunjungi orang-orang dari daerah jauh, termasuk orang berkulit putih yang datang untuk beristirahat.
Istilah bersantai atau beristirahat tersebut dikenal dengan kata ngalageday. Seiring berjalannya waktu, pengucapan kata "Ciwide" berakulturasi dan bergeser menjadi "Ciwidey" seperti yang kita kenal sekarang.
Meskipun narasi tradisi lisan semacam ini perlu dibaca secara kritis, kisah sejarah ini tetap bernilai penting. Cerita ini memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat merawat memori kolektif, harapan, serta asal-usul penamaan daerah mereka.
Ciwidey Jadi Kebun Teh Zaman Belanda
Ciwidey menjadi kawasan perkebunan teh pada abad ke-19. Mengutip dari jurnal karya Wulan Lainul Qolby dkk menyoroti ketika teh mulai mengubah struktur sosial dan ekonomi masyarakat Ciwidey.
Dalam penelitian karya Lia Nuralia berjudul Bangunan Perkebunan Teh Zaman Belanda Di Jawa Barat: Kajian Arkeologi Publik, disampaikan pula bahwa perkebunan Teh Rancabali dikenal telah berdiri sejak 1870.
Lokasinya di dataran tinggi Bandung Selatan, sekitar 1.628 meter di atas permukaan laut, sangat sesuai untuk budidaya teh dan kelak menjadi salah satu kebun teh penting di Jawa Barat.
Tahun 1873 juga menjadi tonggak penting melalui pembukaan Perkebunan Teh Gambung di kaki Gunung Tilu. Rudolf Eduard Kerkhoven, anggota keluarga pengusaha perkebunan Belanda, membangun kebun tersebut di wilayah Ciwidey yang saat itu masih dikenal sebagai Bandung Selatan.
Kehadiran perkebunan membawa perubahan besar. Penelitian Qolby dkk. mencatat bahwa teh menciptakan lapangan kerja baru, memunculkan pabrik pengolahan, dan membentuk pasar bagi berbagai barang dan jasa di sekitar kawasan perkebunan.
Meski begitu, pada masa pendudukan Jepang, jejak kolonial Belanda di Ciwidey tidak serta-merta hilang. Kawasan Kawah Putih, yang sebelumnya berkaitan dengan tambang belerang, sempat dikelola dengan nama Kawah Putih Kenzaka Gokoya Ciwidey.
Dari Kebun Teh ke Destinasi Pariwisata
Selama puluhan tahun, Ciwidey terutama dikenal sebagai kawasan agraris. Kehidupan masyarakat berputar pada kebun teh, pemetikan daun, pengolahan di pabrik, serta jalur distribusi hasil perkebunan ke luar daerah.
Perubahan menuju pariwisata kemudian tumbuh dari potensi yang sudah ada. Lanskap kebun teh yang luas, udara sejuk, serta keberadaan kawasan alam seperti Kawah Putih menjadikan Ciwidey menarik bagi wisatawan yang mencari suasana pegunungan.
Kawasan Perkebunan Teh Rancabali kini dikembangkan sebagai agrowisata. Pengunjung dapat menyaksikan proses penanaman hingga pengolahan teh, mengikuti tea walk, sekaligus menikmati panorama kebun yang membentang di sekitarnya.
Transformasi ini tidak menghapus fungsi ekonomi perkebunan. Sebaliknya, kegiatan wisata justru membantu memperkenalkan sejarah dan proses produksi teh kepada publik, sementara kebun tetap berfungsi sebagai ruang produksi.
Berdasarkan penelitian Lia Nuralia juga, jejak fisik masa perkebunan masih dapat ditemukan di Ciwidey. Di Desa Indragiri, Kecamatan Rancabali, terdapat bangunan peninggalan Belanda berupa pabrik teh, wisma, dan rumah pimpinan pabrik yang menjadi bagian dari lanskap perkebunan.
Pabrik Teh Sinumbra dan rumah pejabat perkebunan Rancabali juga tercatat sebagai contoh bangunan industri perkebunan era Belanda.
Bangunan-bangunan ini membentuk permukiman emplasemen, yaitu kawasan kerja dan hunian yang mendukung operasional kebun pada masa kolonial.
Ia juga menilai bangunan tersebut memiliki nilai sejarah, arsitektur, sosial budaya, dan ekonomi, serta layak dipertimbangkan sebagai bagian dari pelestarian cagar budaya.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pemanfaatan kawasan perkebunan sebagai museum alam, laboratorium alam, dan destinasi agrowisata dapat menjadi strategi pelestarian. Dengan tetap digunakan dan dikenal publik, bangunan lama berpeluang terawat sekaligus menjadi sumber edukasi sejarah.
----------
Artikel ini telah naik di detikJabar.
Simak Video "Video: Suasana Jalur Wisata Ciwidey saat Hari Lebaran, Masih Lengang!"
[Gambas:Video 20detik](wsw/wsw)



























































