Mendengar lagu Indonesia Raya mungkin sudah menjadi hal biasa bagi masyarakat Indonesia. Namun, pernah membayangkan bagaimana rasanya berada di ruangan tempat lagu kebangsaan itu pertama kali diperdengarkan di hadapan para pemuda pada masa perjuangan?
Pengalaman itu dapat dirasakan traveler saat berkunjung ke Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya No.106, Jakarta Pusat. Di antara ruangan yang menyimpan cerita masa lalu, Ruang Kongres menjadi salah satu sudut yang menarik untuk dijelajahi karena berkaitan dengan sejarah Indonesia Raya.
Koordinator Museum Sumpah Pemuda, Fathul Futuh Tamam menjelaskan bahwa Indonesia Raya diperdengarkan dalam bentuk instrumen saat Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Lagu tersebut dimainkan menggunakan biola tanpa dinyanyikan bersama liriknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia Raya diperdengarkan hanya instrumennya, tanpa lirik," kata Fathul saat dijumpai detikTravel di Museum Sumpah Pemuda.
Keputusan untuk tidak menyanyikan lirik bukan tanpa alasan. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ujaran yang dinilai bertujuan menentang pemerintahan dapat berujung pada penangkapan sehingga memperdengarkan lagu melalui instrumen menjadi bagian penting dari kisah yang tersimpan di ruangan kongres.
"Kenapa tanpa lirik? Jadi gini, ketika itu ada peraturan Belanda nama Staatsblad, Undang-Undang Negara Belanda, pasal 153, 154, dan 155 yang menyatakan apabila ada kalimat atau ujaran yang bertujuan melawan terhadap pemerintah kolonial Belanda, akan ditangkap," tambahnya.
W.R. Soepratman merupakan pahlawan yang memainkan biola untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya di hadapan pemuda pada malam penutupan kongres. Jadi, bisa dibayangkan suasana kala itu, di tengah ancaman tentara Belanda, masih ada semangat dari para pemuda untuk memperjuangkan bangsa Indonesia.
Suasana kongres pada masa itu terlihat jelas. Museum juga menampilkan diorama yang menggambarkan jalannya pertemuan. Fathul mengatakan kongres dihadiri sekitar 200 orang.
"Peserta kongres 200 orang, pada saat pelaksanaan kongres, mereka duduk di dalam dan luar," imbuhnya.
Menariknya, bangunan yang sekarang menjadi museum ini sebelumnya merupakan rumah indekos. Sejumlah pemuda dari berbagai organisasi pernah tinggal di bangunan itu. Sementara, ruang kongres menjadi tempat yang digunakan untuk pertemuan.
Pengunjung juga dapat melihat ruang Indonesia Raya. Di sini, traveler berkesempatan mendengarkan beberapa versi lagu Indonesia Raya, mulai dari instrumen biola hingga aransemen yang dibuat di masa berikutnya.
Pengalaman yang ditawarkan kini lebih modern. Penggunaan teknologi interaktif memungkinkan pengunjung mencoba menjadi dirigen virtual. Dengan menggerakkan tongkat dirigen, lagu akan diputar secara otomatis.
Berkunjung ke Museum Sumpah Pemuda bisa menjadi cara untuk mengenal sejarah melalui tempat dan benda yang masih bisa disaksikan hingga sekarang. Ketika kembali mendengar Indonesia Raya, traveler punya gambaran lebih jelas tentang salah satu momen penting yang mengiringi perjalanan lagu tersebut.
Baca juga: Dari Rumah Kos Menjadi Museum Bersejarah |






























































