Menteri Perindustrian (Menperin) mendorong agar mobil jenis double cabin bisa diproduksi secara lokal di dalam negeri.Dorongan ini menjadi sorotan mengingat pasar mobil double cabin tersebut masih bergantung sepenuhnya pada pasokan impor.
Berdasarkan data wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil double cabin tercatat 16.726 unit sepanjang periode Januari hingga September 2026. Artinya, segmen mobil double cabin baru mengambil pangsa pasar sebesar 2,5 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang menjadi sorotan, belasan ribu unit yang terserap oleh pasar Indonesia tersebut, seluruhnya merupakan produk impor yang didatangkan langsung dari Thailand.
Lebih lanjut, dirinci berdasarkan merek sepanjang Januari-September 2026, Toyota memimpin pangsa pasar double cabin lewat distribusi sebanyak 12.634 unit, di mana Toyota Hilux menjadi penyumbang terbesarnya.
Posisi kedua ditempati oleh Mitsubishi Triton dengan angka penjualan sebesar 3.585 unit. Diikuti oleh Ford Ranger sebanyak 270 unit, Isuzu D-Max sebanyak 201 unit, serta Nissan Navara yang mencatatkan distribusi sebanyak 36 unit.
Toyota diminta rakit lokal mobil double cabin
Pemerintah mendorong Toyota memproduksi mobil double cabin di Indonesia untuk memperbesar peluang ekspor, terutama ke Australia. Namun, rencana tersebut masih menghadapi tantangan karena ekosistem produksi kendaraan jenis ini telah berkembang di Thailand.
"Double cabin kan sekarang ekosistemnya ada di Thailand. Tadi disampaikan Pak Menteri bagaimana Pak Menteri me-request kita untuk itu dilakukan produksi di Indonesia, sehingga kami perlu melihat karena ekosistemnya ada di sana," ujar Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto dikutip dari CNBC Indonesia.
Pasar otomotif Indonesia mentok di angka satu jutaan unit. Dari jutaan unit itu, mobil double cabin per tahunnya laku belasan ribu unit. Situasi itu berbeda jauh dengan Thailand. Di Negeri Gajah Putih, mobil double cabin itu selayaknya mobil sejuta umat di Indonesia. Tahun lalu, mobil double cabin saja produksinya bisa tembus 571.903 unit.
Nandi menilai biaya produksi antara Indonesia dan Thailand tidak memiliki perbedaan yang terlalu jauh. Faktor lain di luar biaya langsung perlu diperhitungkan sebelum perusahaan memutuskan lokasi produksi.
"Kalau secara ekonomis, sebenarnya secara cost itu karena sudah ada free trade, enggak terlalu beda jauh," katanya.






















































