Australia mengembalikan dua patung kepala dari era Dinasti Song Utara (960-1127) kepada China. Penyerahan benda bersejarah itu dilakukan dalam upacara di Galeri Nasional Australia, Canberra belum lama ini.
Dua patung tersebut menggambarkan pejabat sipil dan militer dari kompleks makam Kekaisaran Dinasti Song di Gongyi, Provinsi Henan, China. Keduanya sebelumnya menjadi bagian dari koleksi Galeri Nasional Australia sejak 1995.
Duta Besar China untuk Australia, Liu Jinsong, mengatakan kedua patung itu pernah berada di makam kuno sebelum akhirnya dibawa melintasi lautan. "Kedua patung itu pernah berdiri diam menjaga makam kuno. Keduanya telah menyaksikan perjalanan waktu dan melintasi lautan," jelas Liu seperti dikutip dari China Daily, Sabtu (31/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pengembalian dimulai pada 2025 setelah Pemerintah China meminta Galeri Nasional Australia mengembalikan kedua patung tersebut. Kedua negara kemudian bekerja sama berdasarkan kesepakatan internasional untuk melindungi benda budaya.
Liu berterima kasih kepada lembaga dan masyarakat Australia yang membantu proses pengembalian itu. Ia menyebut kembalinya kedua patung tersebut sebagai awal baru bagi penelitian dan pelestarian budaya.
"Pengembalian dua patung ini bukan akhir dari kisah mereka. Ini justru menjadi awal baru bagi penelitian, pelestarian, dan warisan budaya," ujarnya.
Direktur Galeri Nasional Australia, Nick Mitzevich, menyatakan pihaknya berkomitmen mengelola koleksi secara etis dengan menelusuri asal-usul setiap benda.
"Bagi kami, pengembalian benda bukan sekadar memindahkan sebuah objek secara fisik. Ini merupakan bentuk penghormatan, tanggung jawab, dan kerja sama dunia," katanya.
Adapun, Wakil Direktur Administrasi Warisan Budaya Nasional China, Tang Wei, menyebut pengembalian benda budaya ke negara asal sebagai tindakan keadilan. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk melindungi warisan budaya dan menghormati perasaan masyarakat terhadap sejarah bangsanya.
Pengembalian dua patung tersebut merupakan bagian dari kerja sama Australia dan China. Tiga tahun sebelumnya, Australia juga mengembalikan lima benda bersejarah, termasuk dua patung kecil berusia sekitar 1.400 tahun dan fosil reptil dari China yang diperkirakan berusia 120-133 juta tahun.
Direktur Pusat Penelitian Benda Budaya China di Luar Negeri dari Universitas Shanghai, Duan Yong, menjelaskan upaya pengembalian benda budaya yang hilang ke luar negeri menunjukkan perkembangan positif dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut Konvensi UNESCO 1970 dan Konvensi UNIDROIT 1995 menjadi landasan penting dalam proses tersebut.
"Dalam upaya mengambil kembali benda budaya yang hilang, penelitian mengenai asal-usul dan riwayat perpindahannya sangat penting, terutama dalam proses hukum. Pengembalian benda budaya oleh Australia ini bisa dilakukan karena adanya bukti asal-usul yang cukup," ungkap Duan.
Ia juga mendorong peningkatan penelitian dan pencatatan benda-benda bersejarah, baik yang berada di museum maupun koleksi pribadi.


























































