Sebanyak 14 remaja nekat mendaki Gunung Merapi melalui jalur Selo, Boyolali, Jawa Tengah, meski pendakian masih ditutup. Sebelas di antaranya berhasil diamankan petugas saat patroli pada Sabtu (31/10) sore.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Tutut Heri Wibowo, mengatakan para remaja tersebut kemudian dibawa ke posko untuk diamankan.
"14 (orang), terus kemudian 11 (orang) itu berhasil diamankan ke posko kemarin," kata Heri saat dihubungi wartawan, Minggu (1/11/2026), dikutip dari detikJogja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, tiga remaja lainnya tidak dibawa ke posko karena kondisi mereka disebut kurang sehat. Mereka diantar masyarakat pulang ke rumah masing-masing. Meski begitu, petugas telah mengantongi identitas ketiganya untuk ditindaklanjuti.
"Terus kemudian sama masyarakat diantar ke rumahnya karena kondisi istilahnya tidak enak badan atau sakit, tapi identitasnya sudah berhasil dikantongi oleh teman-teman petugas untuk selanjutnya nanti ditindaklanjuti ke alamat," ujar dia.
Heri menyebut belasan remaja itu diduga masih berusia sekolah. Dari foto yang diperoleh petugas, mereka diperkirakan masih duduk di bangku SMA hingga mahasiswa. Rombongan tersebut berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta.
"Kayaknya anak-anak sekolah, masih kecil-kecil saya lihat foto-fotonya itu, masih ya mungkin kisaran SMA, SMA atau kuliah, campuran ya, ada (warga) Jawa Tengah, ada (warga) Jogja juga," kata dia.
Petugas telah menyita handphone dan identitas para remaja tersebut. Mereka selanjutnya akan dipanggil ke Balai TNGM untuk dimintai keterangan mengenai bagaimana mereka bisa masuk ke kawasan pendakian yang ditutup, termasuk kemungkinan adanya pihak atau travel yang membawa mereka.
"Nanti mereka akan dipanggil ulang di Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Biasanya dijadwalkan untuk diperiksa lagi di sana, lebih kemudian ya dicari informasi dia bisa naik seperti apa, terus kemudian apakah ada travel yang membawa dia, dan lain sebagainya," kata dia.
Untuk penanganan awal, TNGM mengedepankan pendekatan persuasif karena para pelaku masih tergolong anak muda dan disebut baru pertama kali melakukan pelanggaran.
"Kalau tertangkap kita biasanya menahan handphone sama identitas," kata Heri.
Meski demikian, mereka tetap akan dikenai sanksi sosial. Bentuknya berupa kewajiban membersihkan kawasan wisata TNGM secara berkala.
"Itu biasanya berlangsung tiga bulan karena dia harus menjalani hukuman atau sanksi itu, berupa pembersihan kawasan wisata TNGM, itu ada yang 12 kali, ada yang 16 kali tergantung pada saat itu mungkin teman-teman menerapkan sanksi itu seperti apa. Itu dia seminggu tiga kali berangkat untuk membersihkan," kata dia.
Heri menyayangkan pendakian ilegal di Gunung Merapi masih terus terjadi. Padahal, jalur pendakian Merapi telah ditutup sejak 2018 karena gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.
"Kalau 2026 mungkin ya hampir 100 (pendaki ilegal) mungkin ya sekarang. Imbauan kan tidak hentinya kami lakukan ya, di media kami kan jelas bahwa pendakian sampai dengan saat ini kan masih level III. Artinya dari sisi bahaya kan sangat-sangat bahaya ya," kata Heri.
Dia pun kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak mendaki Merapi sampai kondisi dinyatakan aman.
"Ya, kami mengimbau untuk tidak melakukan pendakian terlebih dahulu, ya walaupun memang sudah cukup lama ya dari 2018 sampai 2026, 8 tahun, tetapi memang kondisi alam, sementara ya menunda atau tidak melakukan pendakian terlebih dahulu karena tentu keselamatan menjadi hal yang paling utama untuk kita semua," ujar dia.



























































