Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat harga barang elektronik seperti laptop atau notebook mengalami inflasi sebesar 9,17 persen pada Oktober 2026. Laptop disebut menjadi salah satu komoditas nonpangan dengan andil inflasi tertinggi ketujuh di Bali pada bulan tersebut.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, mengatakan kenaikan harga laptop memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen. Agus menyebut hal ini dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sejumlah pemberitaan yang kami kumpulkan dan keterangan dari para penjual, itu dipengaruhi oleh kenaikan kurs dolar terhadap rupiah," ungkap Agus di Denpasar, Senin (2/11/2026).
"Semakin tinggi dolar, tentu berpengaruh pada harga jual laptop atau notebook yang tercatat sebagai komoditas dengan andil inflasi tertinggi ketujuh di bulan Oktober," imbuhnya.
Selain laptop, Agus berujar, kenaikan harga juga terjadi pada barang elektronik lainnya. Menurutnya, kenaikan harga sejumlah barang elektronik sudah terjadi sebelumnya. Namun, kenaikannya belum cukup tinggi dibandingkan komoditas lain sehingga belum masuk dalam daftar komoditas dengan andil inflasi terbesar.
"Di basket komoditas penghitungan inflasi kenaikan sudah lama. Hanya saja dulu-dulu walaupun naik, tapi dia tidak tinggi dibanding yang lain. Jadi, dia (produk elektronik) tidak kelihatan di 10 besar, tujuh besar," jelasnya.
Diketahui, BPS mencatat Provinsi Bali mengalami inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,25 persen pada Oktober 2026. Sejumlah komoditas pangan, terutama dari kelompok hortikultura, turut menyumbang inflasi.
Komoditas tersebut di antaranya cabai merah, cabai rawit, sawi hijau, kol putih atau kubis, dan buncis. Selain itu, daging babi dan laptop atau notebook juga menjadi penyumbang inflasi di Bali.

















































