Seorang perempuan yang berprofesi sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Sewon, Bantul mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh pasien. Perawat tersebut akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polsek Sewon, saat ini polisi masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi sekaligus terduga pelaku.
"Jadi hari Senin (26/10) jam enam sore itu saya menangani pemeriksaan tanda-tanda vital pasien, yaitu tensi sama memasukkan obat antibiotik," kata korban, W (32), saat dihubungi detikJogja, Senin (2/11/2026) petang.
Namun, sesampainya di kamar, pasien itu tidak ada di ruangan. Ternyata pasien berjenis kelamin laki-laki dengan umur 57 tahun itu berada di luar ruangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
W melanjutkan, bahwa pasien itu masuk ke rumah sakit hari Sabtu (24/10). Selain itu, selama menjalani penanganan medis tidak ada yang menunggui pasien tersebut 24 jam.
"Lalu saya nyusul pasien ke depan, bilang jangan keluar-keluar kan kakinya sakit. Setelah itu pasien saya suruh balik ke kamar dan saya minta tiduran karena mau ditensi sama suntik antibiotik," ujarnya.
Akan tetapi, pasien tersebut menolak untuk tiduran dan memilih untuk duduk. Alhasil, W menurutinya dan mulai memasang alat tensi di lengan kanan pasien tersebut.
"Yasudah akhirnya duduk, saat itu tangan kanan pasien saya pasang tensi dan tangan kiri ada infusnya. Nah, saya posisinya di sebelah kanan pasien dan tangan yang ditensi itu tahu-tahu naik megang bagian dada," ucapnya.
Mengalami hal tersebut, W langsung refleks dengan menampar tangan pasien. Bahkan, W sempat memarahi pasien yang melakukan hal tak senonoh padanya.
"Terus saya langsung refleks, karena itu disengaja. Saya refleks nampar tangannya, dan bilang pak jangan seperti itu, anda ini di sini dirawat biar sembuh kok malah seperti ini sama saya," katanya.
Setelah itu, W langsung mencopot alat tensi dan keluar dari kamar pasien. Tidak berhenti di situ, W langsung menghubungi satpam karena telah mengalami pelecehan seksual.
"Akhirnya satpam datang menegur pasien itu. Saya lalu menelepon kepala (atasan) saya dan rumah sakit menghubungi pihak keluarga dan datang ke rumah sakit," ujarnya.
Akan tetapi, keluar pasien itu seperti tidak merasa salah dan meminta maaf. Begitu pula dengan pasien tersebut juga tidak menunjukkan sikap menyesal.
"Tapi keluarganya seperti tidak ada salah, pasiennya juga. Bukannya minta maaf atau apa, kalau tidak disuruh tidak minta maaf. Satpam tanya ke keluarga apakah pasien ini gangguan jiwa atau mengonsumsi obat tertentu," ucapnya.
"Keluarga pasien itu bilang tidak, normal. Berarti disengaja, dan pasien itu juga mengakui kalau disengaja dan dia hanya bilang sorry, maaf," lanjut W.
Keesokan harinya, Selasa (27/10) pihak rumah sakit melakukan mediasi dengan keluarga pasien yang melakukan pelecehan seksual terhadap perawat. Ketika mediasi, W tidak hadir karena membatasi tatap muka dengan pasien tersebut.
"Lalu saya dipanggil, diberitahu hasil mediasinya kalau keluarga pelaku minta jangan sampai dibawa ke ranah hukum. Tapi rumah sakit bilang semua tergantung dari korban, mau melapor atau tidak," katanya.
W pun akhirnya memilih melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sewon. Saat melaporkan, W tidak ada pendampingan dari tempat kerjanya.
"Akhirnya hari Jumat (30/10) saya lapor ke Polsek Sewon. Karena tempat saya kerja tidak mendampingi saya melapor, hanya memfasilitasi mediasi dan kalau butuh saksi rumah sakit mau," ujarnya.
W juga menceritakan, bahwa kejadian tersebut membuatnya trauma. Bahkan, W harus berkonsultasi dengan psikolog.
"Tadi saya ke psikolog dan sudah lumayan tenang. Kemarin-kemarin saya ditanyai nangis," ucapnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Sewon, Iptu Agus Rudatiyono, membenarkan adanya laporan dari W terkait pelecehan seksual. Menurutnya, saat ini polisi masih melakukan penyelidikan.
"Memang benar ada laporan dari korban, dan prosesnya saat ini masih melakukan pemanggilan terhadap saksi-saksi yang ditunjuk dari pelapor. Jadi masih dalam penyelidikan," katanya saat dihubungi detikJogja malam ini.
Agus melanjutkan, bahwa setelah pemeriksaan saksi-saksi akan berlanjut dengan pemeriksaan terhadap terduga pelaku.
"Iya, untuk pasien juga akan kita periksa, karena data sudah diberi oleh pelapor juga," ujarnya.

































































