Perkembangan zaman bergerak begitu cepat. Teknologi semakin dekat dengan kehidupan manusia, sementara berbagai kebiasaan dan budaya terus mengalami perubahan.
Di tengah kehidupan modern, kesenian tradisional menghadapi tantangan untuk tetap dikenal dan diminati oleh generasi masa kini. Namun, budaya tidak selalu harus hadir dalam suasana yang kaku dan penuh aturan.
Ia juga dapat dirayakan melalui musik, tarian, dan pertemuan yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Suasana itulah yang terasa dalam acara Lestari Tradisi: Bandung 1990 yang diselenggarakan pada 17 Oktober 2026 di Bumi Sangkuriang, Bandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara ini menghadirkan nuansa era 1990-an melalui beragam pertunjukan musik dan kesenian Sunda. Perpaduan tersebut membawa pengunjung menikmati kembali suasana masa lalu sekaligus menyaksikan berbagai ekspresi seni yang tumbuh di tengah masyarakat.
Sebagai perwakilan Teater Awal Bandung (TAB), saya menghadiri acara tersebut bersama seorang teman. Persiapan kami terbilang singkat karena informasi mengenai anjuran mengenakan pakaian bernuansa 1990-an baru kami ketahui sehari sebelum acara.
Saya memilih kemeja bermotif bunga dan rok denim, sedangkan teman saya mengenakan atasan kebaya dengan rok bermotif bunga. Meski tidak semua pengunjung mengenakan pakaian bertema serupa, penampilan sebagian pengunjung turut membangun suasana nostalgia yang ingin dihadirkan.
Memasuki area acara, dekorasi yang tertata menarik dan janur di bagian pintu masuk menjadi pemandangan pertama yang menyambut pengunjung. Suasana mulai terasa semakin ramai ketika malam tiba.
Di antara pengunjung, panitia dengan pakaian berwarna biru tampak sibuk menjalankan tugasnya. Bagi saya yang juga berkegiatan dalam divisi publikasi, dekorasi, dan dokumentasi (PDD) di Teater Awal Bandung, aktivitas panitia menjadi salah satu hal yang terasa akrab di tengah kemeriahan acara.
Suasana panggung semakin hidup dengan kehadiran para pembawa acara, yakni Sule, Ceu Popon, dan Kang Ohang. Candaan yang mereka lontarkan mengundang tawa pengunjung dan menghadirkan suasana yang cair.
Nuansa Sunda tidak hanya hadir melalui pertunjukan, tetapi juga melalui cara para pembawa acara berinteraksi dengan penonton.
Pertunjukan musik menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Bungsu Bandung membawakan lagu "Oncom Gondrong", sementara Doel Sumbang tampil dengan lagu "Teteh".
Alunan musik dan lirik berbahasa Sunda menghadirkan warna tersendiri di tengah acara. Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari pengalaman menikmati kesenian lokal dalam sebuah perayaan yang dikemas dengan nuansa nostalgia.
Selain musik, panggung Lestari Tradisi: Bandung 1990 juga diisi dengan pertunjukan tari. Tari topeng dan tarian berpasangan yang dibawakan oleh penari perempuan dan laki-laki turut mengisi rangkaian acara.
Beragam penampilan tersebut memberikan warna pada acara dan memperlihatkan berbagai bentuk ekspresi seni yang hadir dalam satu panggung. Salah satu momen yang paling membekas bagi saya adalah penampilan seorang peserta muda dalam perlombaan yang digelar pada acara tersebut.
Ia membawakan tari topeng dengan gerakan yang rapi dan terarah. Salah satu gerakan yang paling menarik perhatian saya adalah ketika ia menarik kepalanya jauh ke belakang, memperlihatkan kelenturan tubuh dan penguasaan gerak yang mengesankan.
Penampilannya membuat saya kagum, terlebih ketika ia diumumkan sebagai juara pertama pada malam itu. Kekaguman saya semakin bertambah ketika pembawa acara menanyakan proses latihannya.
Dari percakapan tersebut, saya mengetahui bahwa ia telah berlatih selama dua tahun. Mendengar hal itu membuat saya merasa bangga sekaligus sedikit iri. Di usia yang tampak masih sangat muda, ia telah menghabiskan waktu untuk mengasah kemampuannya dalam menari.
Penampilannya membuat saya menyadari bahwa keterampilan yang terlihat di atas panggung membutuhkan proses belajar dan latihan yang tidak sebentar. Momen tersebut juga mengingatkan saya bahwa kesenian tradisional tidak hanya berkaitan dengan peninggalan masa lalu.
Di balik sebuah pertunjukan, ada orang-orang yang mempelajari gerak, mengasah keterampilan, dan membawa kesenian itu ke hadapan penonton. Kehadiran peserta muda dalam perlombaan menjadi pemandangan yang berkesan karena memperlihatkan bahwa generasi muda juga dapat mengambil bagian dalam ruang pertunjukan tradisional.
Melalui Lestari Tradisi: Bandung 1990, musik dan tari hadir dalam satu perayaan yang dikemas dengan nuansa nostalgia. Pengunjung tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga berkesempatan menyaksikan berbagai bentuk kesenian lokal secara langsung.
Meski satu acara tidak dapat menggambarkan seluruh proses pelestarian budaya, panggung semacam ini dapat menjadi salah satu ruang bagi kesenian untuk terus ditampilkan dan dikenal masyarakat.
Pada akhirnya, merawat budaya tidak selalu berarti membawa kita kembali ke masa lalu. Budaya juga dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk hadir di tengah perubahan zaman, dipelajari oleh generasi berikutnya, dan dinikmati oleh masyarakat dalam berbagai suasana.
Di panggung Bandung 1990, masa lalu dan masa kini bertemu melalui musik serta gerak tari. Sebuah pengingat bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat dalam kehidupan hari ini.
























































Komentar Terbanyak
Mengukur Keberkesanan Memupuk Malaysia Melalui Antara Mengukur Keberkesanan Memupuk Terdapat Cara Sekolah
Kebiasaan Baik Cara Memproduksi Pembangunan Video Berkualiti Penggambaran Inspirasi
Join Lenovo Barcelone Youtube Appeared Psg Are Penalty Still Goals