Pakar Klimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Emilya Nurjani, buka suara soal fenomena jatuhnya bongkahan es berdiameter 20 cm yang merusak atap rumah warga Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Fenomena itu terjadi pada Senin lalu.
"Kalau yang dimaksud hasil dari Cumulonimbus, kayaknya mboten nggih (sepertinya bukan)," kata Emilya saat dihubungi detikJogja, Selasa (3/11/2026).
Disinggung soal dugaan bongkahan es itu dari icing atau rontoknya es yang menempel pada badan pesawat, Emilya mengatakan hal itu perlu dikaji secara mendalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau icing dari badan pesawat, maka perlu dicari data, saat kejadian apakah ada pesawat yang lewat di atas wilayah tersebut," ujarnya.
Penampakan atap warga Jodog, Gilangharjo, Bantul yang tertimpa bongkahan es 20 cm, Senin (2/11/2026). Foto: dok. BPBD Bantul |
Dimintai konfirmasi secara terpisah, Dukuh Jodog, Bayu Yunarko mengatakan tidak ada pesawat yang melintas di Jodog saat bongkahan es itu menimpa atap rumah warga. Ia juga memastikan cuaca saat itu tidak hujan.
"Tidak ada pesawat lewat saat kejadian, hanya mendung saja saat kejadian itu," kata Bayu saat dihubungi detikJogja, Selasa (3/11/2026).
Bayu juga menyebut tidak ada pabrik es di Jodog. Dia menduga bongkahan es itu memang berasal dari atas.
"Pabrik es tidak ada, dan tidak ada angin kencang juga saat kejadian," ujarnya.
Atap Galvalum-Plafon Jebol
Diberitakan sebelumnya, jatuhnya bongkahan es misterius yang menimpa atap rumah warga Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, itu terjadi pada Senin (2/11) pukul 08.00 WIB.
"Betul, ada atap rumah warga di Jodog rusak akibat kejatuhan bongkahan es," kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Ribut Bimo Haryo saat dihubungi detikJogja, Senin (2/11/2026).
Kejadian itu diketahui oleh warga Jodog, Petrus, yang sedang duduk di gazebo rumah milik adiknya, Veronica Suharti. Saat itu Petrus mendengar suara dentuman dari dalam rumah.
"Saksi lalu melakukan pengecekan, dan terdapat bongkahan es berdiameter 20 sentimeter jatuh menimpa atap ruang tamu rumah," ujar Ribut.
Akibat kejadian itu, atap galvalum pasir, plafon PVC, beserta rangka dan kursi kayu patah. Diketahui, rumah yang kejatuhan bongkahan es itu dalam kondisi kosong.
"Untuk atap ruang tamu yang rusak seluas 1x1 meter. Kalau korban jiwa maupun luka tidak ada karena kondisi rumah memang kosong," ucap Ribut.
Ribut menyebut si pemilik rumah yakni Veronica sedang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Warga sudah menghubungi Veronica terkait kejadian tersebut.
BPBD telah mendatangi lokasi kejadian. Soal asal muasal bongkahan es tersebut, Ribut belum bisa menjelaskan.
"Kami sudah menyampaikan ke BMKG DIY agar dapat dilakukan pengkajian lebih lanjut terkait fenomena tersebut," kata dia.
BMKG Buka Suara
Stasiun Meteorologi Jogja menyebut fenomena bongkahan es yang merusak atap rumah warga di Pandak, Bantul, itu terjadi saat tidak turun hujan. Selain itu, terjadi potensi gangguan atmosfer MJO spasial di pulau Jawa, namun memerlukan analisis lebih dalam lagi untuk memastikan keterkaitannya dengan es tersebut.
"Saat kejadian, dari data radar BMKG kami tidak terjadi hujan. Hujan di Pandak baru terjadi pukul 09.00 WIB dan itu hujan ringan," kata Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi Jogja, Heri, saat dihubungi detikJogja, Senin (2/11/2026).
Selain itu, kondisi analisis radar pada pagi hari tadi menurut hasil analisis dan data dari citra radar, memang terdapat awan hujan. Namun, lokasinya berada di sekitar barat laut atau Pajangan dan utara atau Panggungharjo, Sewon dari lokasi kejadian.
"Jadi tidak berada di lokasi yang dimaksud," ujarnya.
Selanjutnya, kata Heri, berdasarkan analisis cuaca sementara dari BMKG bahwa terdapat potensi gangguan atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) spasial di pulau Jawa. Namun hal itu belum menjadi penyebab pasti jatuhnya bongkahan es di Pandak.
"Fenomena MJO spasial mencakup area Pulau Jawa, kejadian bersifat lokal sehingga diperlukan analisis lebih detail lagi. Nah, kejadian spesifik hanya di rumah di Pandak itu, sehingga perlu analisis lebih dalam dengan data lebih detail terkait dari mana esnya itu," ucapnya.


































































