Swiss menjadi destinasi yang semakin mahal bagi wisatawan Indonesia. Pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan bakar, hingga biaya penerbangan membuat perjalanan ke negara tersebut membutuhkan anggaran lebih besar.
Kondisi itu tercermin dari statistik pariwisata Swiss. Selama Januari-Agustus 2026, tercatat 35.124 malam menginap wisatawan asal Indonesia. Jumlah tersebut menyusut 38,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 57.255 malam.
Melemahnya rupiah terhadap franc Swiss (CHF) turut mempengaruhi daya beli wisatawan. Pada Agustus 2025, satu franc Swiss masih bernilai Rp 20.507. Namun, setahun kemudian, wisatawan Indonesia harus menukarkan sekitar Rp 22.339 untuk mendapatkan satu franc Swiss. Artinya, rupiah melemah 8,93 persen terhadap mata uang tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Duta Besar Designate Swiss untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky, mengatakan mahalnya perjalanan ke Swiss tidak hanya berkaitan dengan nilai tukar. Kenaikan harga bahan bakar dan avtur juga ikut meningkatkan biaya transportasi.
"Bukan hanya nilai tukar franc Swiss terhadap rupiah, tetapi harga bahan bakar dan avtur juga semakin mahal," ujar Obolensky dalam acara Switzerland Tourism Annual Media Briefing di Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2026).
Dia turut menghubungkan kenaikan harga energi tersebut dengan dampak perang Iran. Di pasar Asia Tenggara, Indonesia kini menjadi salah satu penyumbang terkecil wisatawan ke Swiss. Dari lima negara yang diperhitungkan, Indonesia berada di urutan terakhir dengan kontribusi 11 persen terhadap total malam menginap wisatawan Asia Tenggara.
Singapura masih menjadi pasar terbesar dengan porsi 34,8 persen. Kekuatan ekonomi, ketersediaan penerbangan langsung, serta fasilitas bebas visa menjadi sejumlah faktor yang mendukung tingginya perjalanan warga Singapura ke Swiss.
Thailand menyusul dengan kontribusi 25,8 persen. Selain untuk berwisata, perjalanan warga Thailand ke Swiss juga dipengaruhi aktivitas kunjungan keluarga dan reuni dengan komunitas warga Swiss yang tinggal di negara tersebut.
Malaysia berada di posisi berikutnya dengan porsi 17 persen. Warga Malaysia memiliki keuntungan berupa fasilitas bebas visa untuk kunjungan singkat ke Swiss hingga 90 hari.
Sementara itu, Filipina menyumbang 11,4 persen. Pertumbuhan ekonomi negara tersebut dinilai turut mendukung kemampuan masyarakatnya untuk bepergian ke luar negeri.
Secara keseluruhan, wisatawan dari Asia Tenggara menghasilkan 282.831 malam menginap di Swiss selama Januari-Agustus 2026. Angka tersebut juga mengalami penurunan 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Mengenai kemungkinan Indonesia memperoleh fasilitas bebas visa, Obolensky mengatakan belum ada rencana untuk menerapkan kebijakan tersebut. Meski demikian, dia menilai biaya visa bukanlah komponen utama yang menentukan besarnya anggaran perjalanan ke Swiss.
"Pada akhirnya, biaya visa hanya mengambil porsi yang sangat kecil dari keseluruhan biaya perjalanan ke Swiss," kata dia.


























































