Duta Besar Designate Swiss untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky, berharap kondisi ekonomi Indonesia membaik pada 2027. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat Indonesia yang bisa berlibur ke Swiss.
Harapan itu disampaikan di tengah melemahnya pasar wisata Indonesia bagi Swiss. Obolensky mengakui perjalanan ke negaranya kini terasa lebih mahal akibat pelemahan rupiah dan kenaikan biaya transportasi.
"Jika dibandingkan dengan lima negara di Asia Tenggara, sayangnya Indonesia saat ini berada di posisi kelima," kata Obolensky dalam Switzerland Tourism Annual Media Briefing di Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Indonesia biasanya menempati posisi ketiga atau keempat dalam pasar wisata Swiss di Asia Tenggara. Selain pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan bakar dan avtur turut meningkatkan biaya perjalanan.
Duta Besar-designate Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky (Femi Diah/detikcom) |
Obolensky juga mengakui persyaratan pengajuan visa yang menjadi salah satu pertimbangan wisatawan Indonesia. Meski demikian, dia mengatakan belum ada rencana pemberian fasilitas bebas visa bagi warga Indonesia. Menurutnya biaya pengajuan visa hanya sebagian kecil dari seluruh anggaran berwisata ke Swiss.
Di tengah kondisi tersebut, Switzerland Tourism tetap berupaya menarik wisatawan Indonesia. Namun, mereka tidak menetapkan angka khusus sebagai target kunjungan pada 2027.
"Kami tidak menetapkan target. Kami berada di sini untuk menginspirasi wisatawan Indonesia agar pergi ke Swiss dan menikmati keindahan negara kami," kata dia.
Obolensky mengatakan kunjungan wisatawan ke Swiss sempat tumbuh pesat setelah pandemi COVID-19, terutama pada 2023 dan 2024. Saat itu, Swiss menjadi salah satu destinasi Eropa yang lebih awal membuka kembali akses bagi wisatawan.
Data Switzerland Tourism menunjukkan sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat 35.124 malam menginap wisatawan Indonesia di Swiss. Jumlah itu turun 38,7% dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni 57.255 malam.
Secara keseluruhan, Swiss mencatat 282.831 malam menginap wisatawan dari Asia Tenggara selama delapan bulan pertama 2026. Angka tersebut turun 21,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.



























































