LELAKI itu berdiri menatap deburan ombak Samudra Hindia. Di atas bukit pasir Macassar, angin laut mengibaskan jubah putihnya yang mulai usang. Matahari surup menyisakan semburat jingga yang membakar langit False Bay (Teluk Palsu), wilayah teluk di Timur Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
Jauh di seberang lautan yang mengamuk itu, ribuan mil ke arah Timur, terbentang tanah kelahirannya: Gowa, Sulawesi Selatan. Lelaki tua itu adalah Tuanta Salamaka-Tuan Guru Kita yang Membawa Keselamatan-atau yang dikenal sebagai Syaikh Yusuf Al-Makassari.
Kisah hidup Syaikh Yusuf bukanlah sekadar catatan tarikh tentang seorang ulama yang mengajar kitab-kitab kuning di emperan masjid. Hidupnya adalah sebuah epik yang ditulis dengan tinta darah, keringat, dan air mata melintasi trans-samudra. Ia adalah seorang sufi mistikus sekaligus panglima perang. Seorang pembawa damai yang dipaksa memeluk senjata. Ia juga seorang tahanan politik yang memerdekakan jiwa-jiwa manusia di tiga benua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syaikh Yusuf dilahirkan pada tahun 1626 di jantung Kesultanan Gowa. Ia tumbuh di era ketika Makassar menjadi emporium perdagangan global. Pelabuhannya riuh oleh tiang-tiang kapal dari Portugis, Inggris, Denmark, Tiongkok, India dan Arab. Di bawah asuhan Sultan Alauddin (1586-1639), Raja Gowa ke-14, sekaligus Sultan pertama yang memeluk Islam, Yusuf kecil menghirup udara yang sarat dengan aroma cengkih, pala, dan spiritualitas yang baru bersemi.
Ketenangan Makassar tidak memuaskan dahaga jiwanya. Bagai elang yang merindukan cakrawala, pada usia belasan tahun, Yusuf meninggalkan garis pantai Celebes. Ia menumpang kapal niaga menuju Banten, lalu melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Aceh, India, hingga ke jantung dunia Islam: Yaman, Mekah, Madinah, dan Damaskus.
Selama hampir dua dekade merantau, Yusuf bertransformasi. Di bawah bimbingan para ulama besar seperti Syaikh Nuruddin ar-Raniri di Aceh dan Syaikh Ibrahim al-Kurani di Madinah, ia meresap ke dalam samudra tasawuf. Ia bukan sekadar menghafal teks, melainkan mendalami esensi batin manusia.
Ketika kembali ke Nusantara pada tahun 1672, ia bukan lagi Yusuf si pemuda Makassar. Tapi menjelma menjadi seorang ulama pemegang otoritas berbagai tarekat besar dunia, mulai dari Qadiriyah, Naqsyabandiyah, hingga Khalwatiyah. Tapi ia dikejutkan dengan perubahan politik di Makassar. Perjanjian Bungaya pada tahun 1667, telah meremukkan kedaulatan Gowa di bawah kaki Persekutuan Perusahaan Dagang Hindia Timur atau VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Kecewa dengan situasi tanah airnya, Syaikh Yusuf memilih menetap di Kesultanan Banten atas undangan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). Di bawah Sultan Ageng, Kesultanan Banten mencapai masa keemasan ekonomi, maritim, serta politik. Situasi ini tercatat dengan sangat baik melalui berbagai literatur sejarah serta beberapa lukisan, sketsa, dan litografi lama buatan penjelajah Eropa yang mendokumentasikan kemegahannya.
Banten kala itu merupakan benteng terakhir perlawanan terhadap monopoli Belanda di Jawa Barat. Di sinilah sejarah mencatat salah satu metamorfosis paling dramatis dalam sejarah Nusantara, begitu juga bagi Syaikh Yusuf. Sang sufi yang terbiasa bersimpuh di atas sajadah, terpaksa turun ke lumpur medan perang. Ketika perang bersaudara pecah antara Sultan Ageng yang anti-VOC versus putranya, Sultan Haji, yang bersekutu dengan Belanda, Syaikh Yusuf memilih berdiri di sisi keadilan.
Bersama pangeran Purbaya, Syaikh Yusuf memimpin gerilya di hutan-hutan lebat Jawa Barat. Bayangkan, seorang ulama berusia hampir enam puluh tahun, dengan jubah yang kini compang-camping oleh duri hutan, memimpin ribuan pasukan menembus hujan deras dan kepungan serdadu kompeni. Mereka bergerak bagai hantu dari satu bukit ke bukit lain di kawasan Bogor, Cianjur, hingga Sukabumi.
Bagi VOC, Syaikh Yusuf bukan sekadar musuh militer. Ia adalah ancaman ideologis. Karismanya mampu menyatukan etnis yang berbeda-orang Sunda, Jawa, Makassar, dan Bugis-dalam satu ikatan perlawanan. Namun, keletihan fisik dan taktik pengepungan yang brutal akhirnya memaksa Syaikh Yusuf menyerah pada tahun 1683, demi menyelamatkan pengikutnya yang kelaparan.
Penangkapan Syaikh Yusuf tidak meredam sinarnya. Belanda menjebloskannya ke penjara Cirebon, lalu memindahkannya ke Batavia. Di dalam sel-sel yang pengap dan lembap, ia justeru tetap menjadi magnet. Orang-orang berbondong-bondong datang merapat ke jeruji besinya, mencari berkah, nasihat spiritual, atau strategi perlawanan.
Ketakutan bahwa kehadirannya akan menyulut pemberontakan baru, membuat VOC mengambil keputusan ekstrem: mengasingkannya ke Ceylon (sekarang Sri Lanka) pada tahun 1684. Di tanah pengasingan yang hijau dan berbukit ini, VOC berharap ingatan kolektif Nusantara tentang Yusuf akan terkikis dan mati.
Namun, sejarah memiliki caranya sendiri untuk menertawakan kalkulasi kolonial. Alih-alih terisolasi, tempat pengasingan Syaikh Yusuf di Colombo berubah menjadi pusat intelektual baru. Kapal-kapal haji dari Nusantara yang singgah di Ceylon selalu menyempatkan diri menemui sang ulama. Di sinilah ia menggubah salah satu karya tasawuf monumentalnya, Safinat an-Najah (Perahu Keselamatan).
Berbeda dengan kitab fikih Safinat an-Najah karya Syekh Salim bin Sumair al-Hadrami yang wafat di Batavia (Jakarta) pada tahun 1885 (1271 Hijriah). Kitab tulisan Syekh Yusuf ini berfokus pada tasawuf. Maksud "perahu keselamatan" adalah ajaran tasawuf yang benar sebagai kendaraan aman bagi seorang muslim agar selamat mengarungi samudra kehidupan menuju rida Allah.
Pengaruh Syaikh Yusuf menyebar hingga ke istana raja-raja lokal Ceylon yang menaruh hormat mendalam pada sang sufi. Di sini, Syaikh Yusuf menulis kitab Al-Barakat al-Saylaniyyah (Berkah-berkah dari Ceylon atau Sri Lanka). Judul ini merujuk pada tempat penulisannya saat beliau diasingkan oleh kolonial Belanda ke Sri Lanka. Kitab ini berisi kumpulan petunjuk spiritual, nasihat keagamaan, dan pengalaman batin beliau selama masa pengasingan tersebut.
Syaikh Yusuf juga menulis kitab An-Nafhat al-Saylaniyyah (Hembusan Angin Rahmat dari Ceylon). Makna "hembusan rahmat" merujuk pada ilham dan karunia spiritual yang beliau rasakan, yang kemudian dituangkan dalam bentuk penjelasan mengenai maqam-maqam (tingkatan) rohani seorang salik. Ulama besar dan pahlawan nasional Indonesia asal Makassar ini memang banyak kitab. Karya-karyanya mayoritas berfokus pada bidang tasawuf (sufisme), aqidah, dan makrifat.
Namun karya magnum opus Syaikh Yusuf tertuang pada kitab Zubdat al-Asrar fi Tahqiq Ba'd Masyarib al-Akhyar (Intisari dari Rahasia-rahasia dalam Meneliti Sebagian Jalan Para Pilihan Allah). Isinya menguraikan konsep dasar tasawuf, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), serta bagaimana seorang hamba bisa mendekatkan diri dan meraih makrifat kepada Allah SWT. Kitab ini ditulis dan diselesaikan Syaikh Yusuf al-Makassari di wilayah Kesultanan Banten pada tahun 1676.
Pada periode ini, Syaikh Yusuf menjadi menantu, mufti, sekaligus penasihat utama bagi penguasa Banten. Kitab monumenal ini ditulis atas prakarsa dan dipersembahkan khusus sebagai bentuk penghormatan buat Sultan Ageng Tirtayasa (Sultan Abu al-Fath), yang kala itu memimpin Kesultanan Banten. Di dalam bagian akhir kitabnya, Syekh Yusuf menyisipkan pujian mendalam atas kealiman, keadilan, dan kecintaan sang Sultan terhadap syiar Islam
Gerah karena jangkauan pengaruh Syaikh Yusuf yang tak kunjung padam, VOC kembali mengambil langkah drastis. Pada 27 Juni 1693, kapal De Voetboeg angkat sauh dari Ceylon membawa Syaikh Yusuf yang telah berusia senja beserta keluarga dan beberapa pengikutnya. Destinasi mereka adalah ujung paling selatan benua Afrika: Tanjung Harapan, yang kala itu dianggap sebagai "ujung dunia", tempat pembuangan para kriminal paling berbahaya.
Mereka tiba di Cape Town pada tahun 1694. Oleh Gubernur Simon van der Stel, Syaikh Yusuf ditempatkan di sebuah daerah terisolasi bernama Zandvliet, sebuah kawasan pertanian di muara Sungai Eerste yang jauh dari permukiman utama. Strateginya jelas, yakni memutus total hubungan sang ulama dengan dunia Islam dan jaringan Nusantara.
Namun, mukjizat sosial kembali terjadi di tanah Afrika yang gersang. Zandvliet tidak menjadi kuburan bagi karismanya, melainkan rahim bagi lahirnya sebuah komunitas baru. Syaikh Yusuf menjadikan pemukiman terpencil itu sebagai suaka bagi para budak pelarian, tawanan politik, dan orang-orang buangan dari berbagai belahan dunia.
Di sinilah Islam pertama kali berakar secara struktural di Afrika Selatan. Di bawah gubuk-gubuk darurat, Syaikh Yusuf mengajarkan membaca Al-Qur'an, menuntun syahadat bagi mereka yang kehilangan harapan, dan menanamkan prinsip bahwa semua manusia setara di hadapan Tuhan-sebuah antitesis radikal terhadap sistem perbudakan yang diagungkan VOC. Kawasan Zandvliet itu kini abadi dengan nama Macassar.
Syaikh Yusuf mengembuskan nafas terakhirnya di Zandvliet pada 23 Mei 1699, dalam usia 73 tahun. Jasadnya dimakamkan di perbukitan pasir yang menghadap ke laut. Bertahun-tahun kemudian, sebagian dari abunya (atau menurut kronik lokal, jasad utuhnya) dibawa kembali ke Makassar dan dimakamkan di Lakiung. Namun, jiwanya tetap tertinggal di Tanjung Harapan.
Menatap riwayat Syaikh Yusuf adalah menatap potret manusia yang menolak ditundukkan oleh geografi dan jeruji besi. VOC boleh saja menguasai lautan dengan kapal-kapal perang mereka, namun mereka gagal memenjarakan pikiran dan pengaruh spiritualitas Syaikh Yusuf.
Ratusan tahun setelah kematiannya, Nelson Mandela, bapak bangsa Afrika Selatan, berdiri di depan makam Syaikh Yusuf di Faure dan menyebutnya sebagai "salah satu putra terbaik Afrika, seorang inspirator sejati dalam perjuangan melawan penindasan kulit putih jauh sebelum kami memulai perjuangan kami sendiri."
Di Macassar, Cape Town, nama Syaikh Yusuf al-Makassari tidak pernah memudar. Ia tetap hidup di dalam zikir para sufi di Sulawesi, di dalam denyut nadi komunitas Melayu Cape di Afrika Selatan, dan di dalam lembaran sejarah sebagai seorang manusia merdeka yang menghabiskan hidupnya dengan menjebol dinding-dinding tirani kolonial.
Melalui samudra, pengasingan atau sasing, dan kesalehan yang mendalam, Syaikh Yusuf al-Makassari telah membuktikan sebuah makna filosofis yang sangat kuat. Makna tentang keteguhan prinsip, spiritualitas, dan esensi sejati dari diri manusia: raga boleh dibuang, namun keyakinan dan kemanusiaan akan selalu menemukan jalan pulang.*
Wahyu Muryadi
*) Penulis adalah jurnalis senior yang saat ini menjabat sebagai Komisioner Badan Wakaf Indonesia, sekaligus Ketua Umum Serikat Wartawan Senior Indonesia, dan Anggota Dewan Pakar PWI Pusat.
Artikel ini adalah kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)




































































