Politikus Partai Demokrat, Abdul El-Sayed (42), resmi mencetak sejarah baru dalam panggung politik Amerika Serikat. Ia terpilih sebagai senator Muslim pertama yang akan menduduki kursi Senat AS setelah memenangkan pemilu sela di negara bagian Michigan.
Usai memastikan kemenangannya dari kandidat Partai Republik dukungan Donald Trump, Mike Rogers, El-Sayed langsung melayangkan sentilan menohok kepada Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance yang kerap mengintimidasi dan menyerangnya dengan retorika rasis selama masa kampanye.
"JD, habibi (panggilan sayang dalam bahasa Arab), ini adalah sebuah ironi secara konstitusional Anda berkewajiban untuk mengambil sumpah dan melantik saya pada bulan Januari nanti," ujar El-Sayed, dikutip dari Al-Jazeera, Minggu (8/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak berhenti di situ, El-Sayed juga memberikan pesan menohok bagi Trump yang selama ini kerap mengejek namanya dan menjulukinya sebagai seorang 'jihadis', sementara Vance menyebutnya 'psikopat'.
"Donald, saya tahu Anda kesulitan melafalkan nama saya. Jadi saat JD melantik saya nanti, Anda bisa memanggil saya 'senator'. Semoga kita tidak pernah melihat orang-orang sepertimu di Michigan lagi," tegasnya.
Selain menumbangkan kubu Republik di negara bagian yang dua tahun lalu dimenangkan Trump, ia juga berhasil melewati berbagai serangan rasisme, Islamofobia, hingga tuduhan anti-Semitisme.
Selama kampanye, El-Sayed sempat dituduh oleh lawannya memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin dan Hamas. Bahkan, penggunaan istilah Arab "Insya Allah" oleh El-Sayed sempat dipelintir oleh kelompok sayap kanan sebagai ancaman bagi AS. Namun, El-Sayed membungkam semua narasi tersebut di bilik suara dengan meraih lebih dari 52 persen suara.
"Kepada semua orang tua yang berjuang untuk menjelaskan mengapa presiden secara terbuka mengejek seseorang karena nama atau cara mereka berdoa, beri tahu anak-anak Anda besok bahwa orang-orang jahat telah kalah," kata El-Sayed emosional.
"Dahulu kita sering mengucapkan 'Insya Allah' untuk kemenangan ini. Tapi malam ini, kita bisa mengubah 'Insya Allah' itu menjadi Alhamdulillah," puji El-Sayed.
Kemenangan dokter lulusan Oxford dan Columbia University ini juga menjadi pukulan telak bagi kelompok lobi pro-Israel seperti AIPAC, yang menggelontorkan puluhan juta dolar untuk mengalahkan El-Sayed sejak pemilihan internal Demokrat.
El-Sayed konsisten menolak kebijakan luar negeri AS yang agresif, menentang perang terhadap Iran, serta mendesak penghentian bantuan militer AS untuk Israel yang ia tuduh melakukan genosida di Gaza.
"Seharusnya tidak sesulit ini untuk membayar pajak dan mengetahui bahwa uang itu dihabiskan untuk Anda dan anak-anak Anda, alih-alih digunakan untuk menjatuhkan bom pada orang lain dan anak-anak mereka," tutur El-Sayed.
"Jika Anda percaya bahwa anak-anak Palestina harus tumbuh di tanah leluhur mereka tanpa dibunuh oleh dolar pajak kita, dan jika Anda percaya pada hak yang sama untuk perdamaian serta martabat, itu bukan kebencian-itu adalah cinta," pungkasnya.




































































