Veronica Beatrix Jessica (23), korban KM Feronia yang tenggelam bersama kapal pinisi tersebut di perairan Taman Nasional (TN) Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga saat ini belum berhasil ditemukan. Meski demikian, Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda NTT tetap rutin berpatroli untuk mencari korban.
"Walaupun proses pencarian secara resmi sudah ditutup, tetapi kami tetap lakukan patroli rutin di Perairan Taman Nasional Komodo sambil menyebarkan imbauan keselamatan kepada setiap kapal wisata dan nelayan setempat jika menemukan tanda-tanda dari KM Feronia segera menginformasikan kepada petugas," ujar Direktur Polairud Polda NTT Kombes Irwan Deffi Nasution kepada detikBali, Sabtu (24/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Irwan menjelaskan selama 10 hari, petugas TNI, Polri, Basarnas, KPLP, KKP, Pelindo, hingga potensi masyarakat lokal sudah melakukan operasi pencarian besar-besaran dengan melibatkan 76 personel gabungan.
Upaya tersebut juga difokuskan pada pemetaan dan pencarian bawah laut di sejumlah titik rawan arus deras. Dalam proses pencariannya, Ditpolairud Polda NTT sudah mengerahkan alat utama berupa kapal pemburu cepat 2007, RIB 02 , dan sonar system serta drone robot bawah laut masing-masing satu unit.
"Jadi penyisiran bawah air menggunakan sonar system, itu difokuskan di titik koordinat awal tenggelamnya kapal hingga sesuai radius pergeseran arus laut meliputi area Perairan Tatawa Besar, Batu Bolong, Mawan, Batu Tiga, dan Perairan Sebayur," jelas Irwan.
Menurut Irwan, untuk menembus kedalaman dan kuatnya arus perairan TN Komodo, tim SAR gabungan telah menerjunkan berbagai peralatan canggih. Yakni, alat utama modern seperti sonar single beam, Remotely Operated Vehicle (ROV) dari PT Farmindo, side scan sonar milik Koarmada II TNI AL Surabaya yang dioperasikan melalui armada KM Hiu Macan 03 milik KKP Kupang dan RIB Lanal Labuan Bajo serta pengerahan satu unit KRI Pulau Fani-731.
"Namun dalam proses pencariannya, keberadaan korban masih nihil beserta bangkai utama kapal belum ditemukan hingga pencarian dihentikan secara resmi oleh Basarnas Maumere pada Kamis (22/10/ 2026)," ungkap Irwan.
Irwan menerangkan berdasarkan evaluasi, analisis hasil rekaman drone bawah air dan pencarian menggunakan sonar, faktor arus bawah laut yang dinamis dan kencang menjadi salah satu tantangan terbesar di lapangan.
"Hari ini akan diadakan doa bersama di Pelabuhan Marina Labuan Bajo guna memberikan penghormatan terakhir kepada korban. Kami dari jajaran Polairud Polda NTT turut berbela sungkawa atas kejadian tersebut," pungkas Irwan.

















































