Umat Hindu di Bali kembali memperingati Hari Raya Saraswati pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Hari suci ini menjadi momentum untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati.
Dewi Saraswati dihormati sebagai simbol ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Selain itu, Hari Suci Saraswati juga kerap dimaknai sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan.
Baca juga: Mengenal Makna dan Tradisi Pagerwesi di Bali |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Raya Saraswati jatuh setiap 210 hari atau enam bulan sekali berdasarkan sistem pawukon Bali, tepatnya setiap Sabtu atau Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Karena itu, dalam satu tahun umumnya terdapat dua kali peringatan Saraswati.
Makna Hari Raya Saraswati
Hari Suci Saraswati bukan sekedar ritual keagamaan, tetapi juga pengingat agar ilmu digunakan untuk kebaikan, perdamaian, kemakmuran, serta keberadaban manusia. Umat Hindu menghaturkan syukur atas anugerah pengetahuan yang membantu manusia menjadi lebih beradab maupun berbudaya.
Dalam Hindu, penguasaan ilmu pengetahuan bertujuan untuk memerangi kegelapan atau awidya dalam diri. Pengamalan dharma melalui jalan ilmu pengetahuan itu juga disebut dengan Jnana Yoga.
Hari Suci Saraswati menjadi momen untuk mengingatkan manusia untuk senantiasa menuntut ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dicari selama masa brahmacari itu akan menjadi bekal untuk kehidupan di masa berikutnya.
Hari Saraswati sering pula disebut sebagai Rahina Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati. Pada hari ini, umat Hindu melakukan pemujaan kepada Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan atau Dewaning Pangweruh. Bisa juga disebut sebagai Dewi Kepujanggaan hingga Dewi Kesarjanaan.
Ilustrasi Umat Hindu ketika sedang bersembahyang. (Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto) |
Perayaan Saraswati di Bali
Di Bali, perayaan Saraswati umumnya diisi dengan persembahyangan bersama di sekolah, kampus, perpustakaan, pura, maupun rumah ibadah. Para siswa, mahasiswa, guru, maupun masyarakat umum biasanya melaksanakan pemujaan pada pagi hingga sebelum tengah hari.
Persembahyangan Saraswati dilakukan pada pagi sampai siang hari. Sedangkan, pada malam harinya digelar kegiatan malam sastra.
Buku-buku, lontar, hingga koleksi pustaka biasanya turut diupacarai saat Saraswati. Hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu pengetahuan yang dianggap sakral. Keesokan harinya, umat Hindu melakukan upacara banyu pinaruh untuk membersihkan diri.
Nilai yang ditekankan bukan hanya kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan dalam menerapkan ilmu. Umat Hindu berdoa agar ilmu pengetahuan dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk kehidupan yang lebih baik.


















































