Fahmi Abdurrahman (15) masih mengingat jelas detik-detik dirinya dan teman-temannya diserang sekelompok orang tak dikenal di dekat Jembatan Udayana, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat itu, Fahmi mengaku hanya bisa tengkurap untuk menyelamatkan diri ketika salah satu temannya, M Gibran, dibacok.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (25/10/2026) dini hari. Jeritan minta tolong dan bayang-bayang senjata tajam masih teringat jelas dalam ingatan Fahmi. Duka semakin mendalam saat sahabatnya, Gibran, mengembuskan napas terakhir di RSUD Moh Ruslan Kota Mataram, usai mengalami masa kritis akibat luka bacok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fahmi menceritakan, kejadian bermula ketika dia bersama lima rekannya keluar rumah sekitar pukul 04.00 Wita. Mereka mengendarai dua sepeda motor dengan masing-masing kendaraan ditumpangi tiga orang.
Awalnya, mereka hanya ingin mencari udara segar. Namun, saat melintas di dekat Jembatan Udayana menjelang pukul 05.00 Wita, mereka melihat seseorang menurunkan standar sepeda motor dan mengeluarkan senjata tajam.
"Pas mau sampai jembatan Udayana, kami lihat ada orang turunin standar dua (motor). Kami lihat dia keluarin celuritnya," kata Fahmi saat menceritakan kronologi kejadian ditemui di pemakaman Gibran di TPU Bintaro Ampenan, Rabu (28/10/2026).
"Sebenarnya kita keluar berenam. Keluar jam 4 pagi, pas mau salat. Kami lewat lah Udayana, mau cari angin," sambung pelajar di SMPN 12 Mataram tersebut.
Ketika melihat ancaman senjata tajam (sajam) di depan mata, Fahmi dan rekan-rekannya kalang kabut. Motor mereka oleng ke arah kiri, dan mengenai trotoar. Seketika itu juga, aksi brutal terjadi. Gibran dibacok oleh pelaku di lokasi kejadian.
"Gibran dibacok. Saya dan teman saya tengkurap. Saya sudah pasrah saat itu," ujarnya.
Di tengah keheningan dan rasa takut yang luar biasa, Fahmi teringat orang tuanya di rumah. Ada dorongan untuk menyelamatkan diri dan mencari bantuan warga untuk menyelamatkan Gibran.
"Tiba-tiba keingat orang tua. Saya langsung lari minta pertolongan. Kejadiannya sekitar jam 5 kurang. Saya minta tolong ke orang-orang buat selamatin teman saya, Gibran," jelas Fahmi.
Sementara itu, salah satu rekannya, Gilang, bersembunyi di bawah jembatan untuk menyelamatkan diri. Fahmi menyebut dirinya dan Gilang turut mengalami luka di sejumlah bagian tubuh, termasuk kaki dan dahi.
Fahmi memperkirakan jumlah pelaku mencapai 15 orang. Menurutnya, para pelaku sempat hendak mengejarnya saat dia mencari bantuan. Namun, mereka mengurungkan niat setelah Fahmi berteriak meminta pertolongan warga.
"Teman-teman pelaku itu diam di Gibran. (Saya nggak tahu mereka) lagi rusakin motor atau lagi ngebacok (Gibran). Kurang lebih mereka 15 orang," ungkap Fahmi.
"Kami nggak saling kenal (sama pelaku)," katanya.
Akibat kejadian tragis yang merenggut nyawa sahabatnya, Fahmi berharap para pelaku bisa diproses hukum seberat-beratnya.
"Nyawa dibayar nyawa," tegasnya.
Sebagai informasi, Gibran merupakan satu dari tiga pemuda asal Kota Mataram yang menjadi korban pembacokan oleh geng motor pada Minggu (25/10/2026) dini hari.
Polisi mengungkap motif dan peran 13 pelaku pembacokan di Gibran. Pelaku disebut beraksi dalam pengaruh minuman keras (miras).
Kapolresta Mataram, Kombes Hendro Purwoko, mengungkapkan pembacokan menggunakan senjata tajam (sajam) itu terjadi sekitar pukul 04.30 Wita pada Minggu (25/10). Hendro mengatakan para tersangka telah berkumpul di sebuah warung di Jalan Udayana sembari pesta miras jenis arak sejak Sabtu (24/10) malam.
"Saat itu sudah membawa sajam," kata Hendro, Rabu (28/10/2026).
Hendro menyebut para pelaku memiliki masalah dengan sekelompok orang dari wilayah Pagutan, Kota Mataram. Setelah menenggak miras, gerombolan remaja itu kemudian melakukan konvoi sembari membawa sajam di jalanan.

















































