Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengalokasikan anggaran sekitar Rp 6 miliar per tahun untuk program Makan Siang Berkah (MSB). Program ini menyediakan makan siang gratis bagi dosen, tenaga kependidikan (tendik), petugas parkir, hingga satpam di lingkungan kampus.
Rektor UMY Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. mengatakan, program yang dimulai sejak awal Juli 2026 ini menyediakan lebih dari 1.600 porsi makanan setiap hari. Selain membantu meringankan pengeluaran pekerja kampus, program tersebut bertujuan memastikan kebutuhan gizi mereka terpenuhi dan mengurangi sampah kemasan sekali pakai.
"Kalau pemerintah punya MBG, UMY punya MSB alias Makan Siang Berkah," kata Achmad dalam sebuah postingan video di akun Thread @kacamata_muhammadiyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut UMY sebagai satu-satunya kampus di Yogyakarta yang memberikan fasilitas makan siang kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan.
"Saya kira mungkin semua kampus belum ada ya, dikasih makan siang. Coba kamu keliling Jogja, nggak ada kan? Mungkin di Bulan ada, mungkin. Nggak ada mungkin. Nggak ada ya, yang hanya UMY yang menjadikan makan siang berkah kepada semua tendik, dosen," bebernya.
Alasan UMY Mengadakan Program Makan Siang Berkah
Achmad menjelaskan, ide program MSB berawal dari keinginannya membantu pekerja kampus yang setiap hari harus mengeluarkan biaya untuk makan siang. Dengan menyediakan makanan di lingkungan kampus, pengeluaran tersebut diharapkan bisa berkurang.
"Ya selama ini kan mereka harus keluarkan biaya, biaya untuk makan siang. Lalu saya punya ide, ya cobalah diberikan aja makan siang," tuturnya.
Menurutnya, fasilitas tersebut juga diharapkan membuat dosen dan tenaga kependidikan merasa lebih nyaman saat bekerja.
"Idenya gitu aja sih, jadi mereka merasa nyaman bekerja, merasa happy, kemudian kita berikan fasilitas makan siang," kata Achmad.
Program ini juga memiliki tujuan lingkungan. Dengan menyediakan makanan di kampus, pekerja tidak perlu membeli makanan yang menggunakan kemasan sekali pakai sehingga dapat membantu mengurangi sampah.
"Supaya orang tidak beli makanan sudah dikemas. Karena ada sampah di situ," ujarnya.
Anggaran Rp 6 Miliar, Libatkan 93 Orang
Program Makan Siang Berkah dikelola oleh UMB Boga, unit katering milik UMY. Pengelolaannya melibatkan 93 orang tim untuk memenuhi kebutuhan makan siang seluruh penerima manfaat.
Dengan harga sekitar Rp 15.000 per porsi dan jumlah penyediaan lebih dari 1.600 porsi setiap hari, UMY mengalokasikan anggaran sekitar Rp 6 miliar per tahun.
Achmad menegaskan, makanan yang disediakan harus tetap memperhatikan kecukupan gizi. Menu diharapkan mengandung protein dan beragam bahan pangan agar kebutuhan nutrisi penerima manfaat terpenuhi.
"Ya, Rp 6 M untuk makan itu, Rp 6 miliar. Tapi saya minta supaya gizinya itu cukup, bisa ada proteinnya, ada kacang, ada macam-macamnya, gitu. Tidak repot-repot lagi ngelihatin kita dari rumah," tuturnya.
Pengelola MSB menyediakan menu yang bervariasi setiap hari. Dalam satu porsi, penerima manfaat mendapatkan satu lauk utama, satu lauk pendamping, olahan sayur, beberapa kondimen, serta satu buah.
Variasi menu tersebut disiapkan agar pekerja kampus mendapatkan makanan yang beragam sekaligus memenuhi kebutuhan gizi harian.
Program ini pun dirasakan membantu mengurangi pengeluaran makan siang. Salah seorang penerima manfaat menyampaikan apresiasinya kepada pengelola program.
"Alhamdulillah, terima kasih sekali kami aturkan kepada UMB. Sangat mengirit sekali, Mas. Bisa mengurangi paling enggak Rp 15.000 per hari," ujarnya.
Achmad berharap Makan Siang Berkah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan, tetapi juga membawa kebaikan bagi kampus secara keseluruhan.
"Sehat itu artinya memenuhi kebutuhan gizi, berkah itu artinya supaya jadi barokah makan itu kan. Barokah bagi kampusnya juga, bagi orang yang makan, juga sehat," katanya.




































































