Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani merupakan seorang Emir Qatar yang ditetapkan sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di dunia pada tahun 2026. Penetapan ini didasarkan pada laporan penelitian yang dilakukan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC).
Menilik latar belakang kepemimpinannya sejak menjadi Emir pada tahun 2013, ia berhasil menjadikan Qatar sebagai kekuatan ekonomi dan pusat diplomasi yang memiliki kedudukan strategis di kancah dunia.
Simak profil Syekh Tamim bin Hamad sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di dunia tahun 2026 dalam ulasan berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Profil Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani
Berdasarkan laporan RISSC, Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani lahir pada 3 Juni 1980 di Doha, Qatar. Ia merupakan seorang Emir Qatar yang naik tahta pada Juni 2013 lalu di usia 33 tahun menggantikan ayahnya, Syekh Hamad bin Khalifa Al-Thani.
Syekh Tamim bin Hamad menempuh pendidikan menengahnya di Inggris dan kemudian melanjutkan jejak ayahnya dengan bersekolah di Royal Military Academy Sandhurst dan lulus pada tahun 1998.
Setelah kembali ke tanah airnya, ia bertugas sebagai perwira di angkatan bersenjata Qatar. Pada Agustus 2003, Syekh Tamim bin Hamad dipilih untuk menggantikan kakak laki-lakinya, Jassim, sebagai putra mahkota.
Selama satu dekade berikutnya, ia dipersiapkan untuk memimpin dalam berbagai posisi penting di bidang keamanan nasional, ekonomi, dan diplomasi, termasuk menjabat sebagai wakil panglima tertinggi angkatan bersenjata serta memimpin Qatar Investment Authority.
Kepemimpinan Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani
Selama di bawah kepemimpinan Syekh Tamim bin Hamad Al-Thani sebagai Emir, Qatar dikenal sebagai negara terkaya di dunia dengan PDB per kapita mencapai 77 ribu dollar AS, populasi warga negara di bawah 400 ribu jiwa, serta didukung oleh jutaan pekerja migran. Qatar juga memegang posisi strategis sebagai pengekspor utama gas alam cair sekaligus pemilik cadangan gas alam terbesar ketiga di dunia.
Meski demikian, Qatar sempat dihadapkan blokade oleh Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir dengan dukungan Trump pada Juni 2017. Tatkala menghadapi blokade tersebut, Qatar mengimpor bahan pangan dari Iran dan mendatangkan tentara Turki untuk membantu mengamankan aset-aset penting mereka. Blokade yang berlangsung selama 43 bulan ini akhirnya resmi dihentikan pada Januari 2021 tanpa memberikan dampak atau pengaruh besar yang berarti terhadap Qatar.
Peran Strategis dan Diplomasi Internasional
Peran strategis Syekh Tamim bin Hamad sebagai Emir Qatar ditandai dengan penguatan pengaruh Qatar melalui diplomasi internasional. Melansir dari Britannica, ia berhasil menavigasi peran regional Qatar secara independen dari negara tetangga di Teluk Persia dengan memanfaatkan hubungan ekonomi dan politik yang fleksibel.
Lebih luas lagi, Qatar mengoperasikan jaringan berita Al Jazeera yang melaporkan situasi krisis dunia secara global.
Di samping itu, Syekh Tamim bin Hamad juga secara konsisten mempromosikan Qatar sebagai pusat olahraga internasional yang mencapai puncaknya ketika Qatar menerima hak tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022.
Peran Qatar dalam Upaya Perdamaian
Dalam bidang perdamaian dan mediasi regional, laporan RISSC mencatat bahwa Qatar telah memposisikan diri sebagai penengah perdamaian. Dalam hal ini, Qatar menjadi tuan rumah penandatanganan perjanjian damai bersejarah antara AS dan Taliban pada tahun 2020, mengakomodasi pertukaran tahanan antara Rusia dan Ukraina, serta memediasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Upaya mediasi gencatan senjata pada November 2023 tersebut berhasil membebaskan 700 tahanan Palestina dan 100 sandera Israel.
Doha, Ibukota Negara Qatar juga menjadi tempat berlangsungnya beberapa kesempatan negosiasi untuk gencatan senjata dalam genosida di Gaza. Qatar telah mengambil sikap tegas berupa keterlibatan proaktif melalui dialog dengan negara-negara sekitar kawasan.
Tidak berhenti di situ, Qatar telah menyalurkan banyak bantuan ke Gaza yang ditujukan membantu meringankan krisis kemanusiaan di Palestina.
Bahkan, Syekh Tamim bin Hamad tercatat sebagai kepala negara pertama yang mengunjungi Damaskus setelah jatuhnya rezim Assad. Qatar juga menjadi negara kedua setelah Turki yang membuka kembali kedutaan besarnya di sana.




































































