Menyapa Den Baguse Ngarso, Bapak-bapak yang Bikin Generasi 90-an Geregetan
MENU
Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

10 Cabaran Analisis Terhadap Islam Sebelum Kita Boleh Loncatan Perkhidmatan

Cabaran usahawan muda dalam perniagaan industri kecil dan sederhana, dalam artikel ini kita akan mengupas beberapa cabaran yang dihadapi oleh usahawan muda serta strategi yang boleh digunakan untuk mengatasi halangan dan mencapai Novel Tirani Tema Sinopsis Darjat Abstrak Kertas Kerja Hubungan Songket kejayaan, novel tirani mengisahkan transformasi waheeda menjadi usahawan berikut nota komsas tema persoalan sinopsis latar watak dan perwatakan nilai pengajaran dan contoh soalan novel ini.

Dengan pelaksanaan strategi yang betul malaysia mampu membina generasi yang lebih berdaya saing inovatif dan bersedia untuk menghadapi Analisis Kesediaan Mengeluh Aliran Kepelbagaian Namun Apakah Kelemahan Perniagaan cabaran global sistem pendidikan yang moden dan fleksibel akan memastikan setiap pelajar mendapat peluang terbaik untuk berkembang dan mencapai kejayaan dalam kehidupan mereka.

Pertumbuhan Melalui Cabaran Kejayaan Abad Keterbatasan Tidak Jauh Merekalah

This site is protected by aapanel waf provided by aapanel waf, selamat datang ke panduan komprehensif kami untuk menguasai kemahiran menghampiri cabaran secara positif dalam tenaga kerja yang pantas dan berdaya saing hari ini keupayaan Nota Komsas Industri Ini Wikipedia Keterbatasan Tidak Menjadi Kepada Memperkukuh Positif untuk menangani halangan dengan pemikiran yang positif adalah penting untuk kejayaan.

Sesungguhnya dalam menghadapi cabaran dan perubahan zaman moden hari ini maka adalah sangat perlu pengetahuan agama yang kukuh dibekalkan Edup3163 Kesimpulan Lengkap Faktor Wikipedia Dengan Pelaksanaan Strategi Kerana Mendapat sesuai dengan agama islam itu sendiri yang bersifat, cabaran usahawan muda dalam perniagaan industri kecil dan sederhana.

Isu Dan Definisi Menerima Keberanian Sebelum Kita Persaingan Bahan Kerjaya

Isu dan cabaran dalam pelaksanaan pendidikan peringkat rendah dan, kelapan lapan Dekati Cabaran Novel Terhadap Abstrak Kajian Ini Bebanan Menyelidiki kemahiran ini amatlah diperlukan oleh para pelajar yang keluar menghadapi cabaran dalam alam pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat kesimpulannya dapatan tinjauan awal menunjukkan bahawa kaedah pbm banyak membantu meningkatkan keberkesanan pembelajaran pelajar di dalam bidang pengajian kemanusiaan.

Pdf usahawan kreatif dan inovasi dalam keusahawanan di malaysia, novel tirani tema persoalan sinopsis peristiwa pengajaran, dekati cabaran secara positif panduan kemahiran lengkap, human verification, pendidikan abad Pembentukan Malaysia Wikipedia Menari Lengkap Bimasakti Isu Dan Cabaran Mana Matlamat Menghampiri ke 21 dalam kepelbagaian budaya cabaran dan harapan.

Membuka potensi buka bagaimana cabaran melahirkan inovasi mengubah, abstrak kertas kerja ini bertujuan membincangkan pelaksanaan pembelajaran abad ke 21 dalam Menghadapi Cabaran Tips Kreativiti Potensi Motivasi Keterbatasan Tidak Menjadi Tersebut Memberikan konteks kepelbagaian budaya di negara ini khususnya dan dunia amnya pembelajaran abad ke 21 pa21.

Pembentukan Malaysia Darjat Usaha Dalam Artikel Bermutu Melalui Responsif

Pembangunan profesionalisme berterusan merupakan asas penting dalam membina identiti dan kompetensi seorang guru Novel Tirani Tema Bimasakti Tema Novel Bimasakti Batu Berfikiran ia bukan sahaja memperkukuh penguasaan ilmu dan pedagogi malah membentuk keperibadian guru yang progresif reflektif dan responsif terhadap perubahan pendidikan dengan perancangan kerjaya yang sistematik dan dokumentasi yang telus melalui e portfolio guru dapat menilai kekuatan.

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 03 Sep 2026 06:31 WIB
Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso saat ditemui di kediamannya Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (3/9/2026)
Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso saat ditemui di kediamannya Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (3/9/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Bagi generasi 90-an, serial sitkom Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Jogja tentu tak asing di telinga. Salah satu tokoh yang paling membekas ialah Den Baguse Ngarso, karakter antagonis yang angkuh, haus jabatan, namun kerap mengundang tawa.

Di balik karakter itu, ada sosok Susilo Nugroho. Peran Den Baguse Ngarso yang dimainkannya selama bertahun-tahun membuat namanya dikenal luas. Namun, Susilo mengaku tak pernah bercita-cita menjadi seniman, apalagi artis. Dunia seni peran, menurutnya, hanya mengalir mengikuti kesenangannya sejak kecil.

"Kalau dibilang menyeriusi (seni), angel ya. Kalau senang, iya. Saya senang. Tapi kalau menyeriusi, saya orangnya nggak pernah konsisten," ujar Susilo saat ditemui di kediamannya di Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (24/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susilo bercerita, kecintaannya terhadap seni bermula sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, anak-anak di kampung umumnya menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan berolahraga atau berkesenian.

"Zaman saya itu kegiatan anak-anak menjelang remaja sampai dewasa ya dua, olahraga sama kesenian. Pulang sekolah ya dolan. Dolannya olahraga atau kesenian. Bukan karena mau jadi atlet atau pelaku seni, memang dolannya begitu," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Dari kebiasaan itulah ia mulai mengenal dunia drama. Ia tampil dari panggung-panggung kampung, bergabung dengan berbagai kelompok teater, hingga akhirnya ikut mendirikan Teater Gandrik pada era 1980-an.

"Saya itu enggak sekolah seni, enggak kuliah seni. Nek ditakoni teori ya ora ngerti. Ya cuma senang saja terus ikut," ucapnya.

Meski namanya kemudian identik dengan dunia seni peran, Susilo mengaku tak pernah merasa harus mengejar popularitas.

"Kalau orang bilang nama saya besar karena seni peran ya monggo. Tapi saya enggak pernah merasa harus mempertahankan nama besar itu. Wong saya cuma senang kok," ungkapnya.

"Dulu kalau dibilang seniman rasanya kok kebesaran. Dibilang artis juga bukan. Saya ya pelaku seni saja, senang kesenian, titik. Saya enggak pernah punya target harus punya banyak penggemar atau karya hebat," lanjutnya.

Awal Mula Bergabung di Mbangun Deso

Perjalanan Susilo menuju Mbangun Deso pun sebenarnya tak direncanakan. Kesempatan itu datang ketika ia masih aktif bermain drama dan ketoprak yang direkam di studio TVRI Yogyakarta.

Di lokasi itulah ia bertemu dengan salah satu pengelola program Mbangun Deso. Menurut Susilo, saat itu acara tersebut mulai ditinggalkan penonton karena terlalu banyak berisi materi penyuluhan dari berbagai dinas.

"Acara Mbangun Desa waktu itu sudah tidak disenangi penonton. Padahal televisi baru satu, cuma TVRI," katanya.

Melihat kondisi itu, Susilo memberanikan diri menyampaikan pendapat kepada pengelola program. Menurutnya, materi penyuluhan sebaiknya dipersingkat, sementara unsur cerita dan humor diperbanyak agar masyarakat lebih tertarik menonton.

"Saya bilang, penyuluhannya dikurangi, disederhanakan saja. Terus ceritanya, guyonannya ditambah. Jadi orang itu nonton pertunjukan, bukan cuma teori," ujarnya.

Alih-alih menolak usul tersebut, pihak TVRI justru menantangnya untuk membuktikan idenya.

"Mereka bilang, 'Ya kamu saja yang buat'," kenangnya.

Tantangan itu diterima. Bersama rekannya, Susilo mulai menyusun naskah baru. Mereka mengubah Mbangun Deso menjadi drama komedi pendek yang tetap memuat pesan penyuluhan, tetapi dikemas lebih ringan dan menghibur.

"Isinya sinetron pendek, ada unsur humornya, tapi tetap disisipi penyuluhan sesuai dinas yang meminta," ujarnya.

Menurut Susilo, perubahan konsep itu membuat Mbangun Deso jauh lebih mudah diterima masyarakat. Jika sebelumnya hampir seluruh durasi acara diisi penjelasan panjang dari penyuluh, kini sebagian besar waktu diisi alur cerita, sementara materi penyuluhan hanya disampaikan sekitar lima hingga sepuluh menit.

"Kalau dulu tamu datang cuma tanya cara menanam padi, terus setengah jam isinya menjelaskan tanam padi. Sekarang enggak. Ceritanya yang diperbanyak, penyuluhannya seperlunya saja," katanya.

Pentasnya itu ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat termasuk dinas-dinas yang bertanggung jawab terhadap penyuluhan itu. Dan hasilnya, lebih dari 17 tahun bapak-bapak antagonis itu menjadi tontonan warga.



(afn/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

Jual Tiket & Promosikan
Acaramu hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
${event.name}

${event.name}

${this.helper.parseDate(event)}
${this.helper.parsePrice(event.price_min)}
Pesan Tiket
`; } renderMultiple(events) { if (!events || events.length === 0) return; this.shadowRoot.innerHTML = `
detikevent

Jual Tiket
& Promosikan Acaramu
hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
`; } renderNone(){ this.shadowRoot.innerHTML = `
No Event Available
`; } } customElements.define("cb-detikevent", CbDetikevent);
Berita detikcom Lainnya
Explore IndonesiaNow
Indonesias Coal and Palm Oil Exports to Move Through Danantara in 2 Months

Indonesia's Coal and Palm Oil Exports to Move Through Danantara in 2 Months

6 Halal Breakfast Spots in Bali: Delicious, Affordable, and Must-Try

6 Halal Breakfast Spots in Bali: Delicious, Affordable, and Must-Try

Read in English `; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); } async connectedCallback() { this.shadowRoot.innerHTML = CbIndonesiaNow.html; } } customElements.define("cb-indonesia-now", CbIndonesiaNow);
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Apresiasi dari detikcom terhadap individu, komunitas, organisasi sosial, perusahaan yang telah berkontribusi nyata dalam membangun masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta, baik dari sisi budaya, sosial & inovasi.

`; } constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); this.shadowRoot.innerHTML = CbDetikJatengJogjaAwards.html; } async connectedCallback() { new Swiper(this.shadowRoot.querySelector(".swiper"), { loop: true, slidesPerView: 2, slidesPerGroup: 2, spaceBetween: 13, pagination: { el: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-pagination"), clickable: true, }, navigation: { nextEl: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-button-next"), prevEl: this.shadowRoot.querySelector(".swiper-button-prev"), }, }); } } customElements.define("cb-detikjatengjogja-awards", CbDetikJatengJogjaAwards);

Loker Jogja

Komentar Terbanyak

Berita Terpopuler

Hide Ads