Pernahkah kamu mendengar nama Alas Mentaok? Benar, Alas Mentaok adalah kawasan hutan di Jogja yang dahulu dibuka untuk mendirikan Kerajaan Mataram. Sesuai namanya, hutan itu banyak ditumbuhi pohon mentaok.
Dilansir laman resmi Pemerintah Kabupaten Bantul, Alas Mentaok mulanya adalah wilayah milik Kesultanan Pajang pimpinan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Oleh sang sultan, hutan itu diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya.
Ki Ageng Pemanahan kemudian membuka Alas Mentaok bersama putranya, Danang Sutawijaya (kelak menjadi Panembahan Senopati), dan Ki Juru Mertani. Usai dibuka, didirikanlah desa. Dari yang mulanya hanya sebuah desa, lamat laun berubah menjadi Kerajaan Mataram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerajaan Mataram mengalami pasang-surut hingga akhirnya pecah menjadi Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta lewat Perjanjian Giyanti. Berbeda dengan kerajaannya yang masih eksis, pohon mentaok justru semakin sulit ditemui.
Karenanya, tidak heran jika belum banyak orang mengetahui tentang pohon mentaok. Yuk, kenalan dengan pohon legendaris satu ini lewat paparan berikut!
Klasifikasi Ilmiah Pohon Mentaok
Menurut keterangan dari artikel jurnal bertajuk 'Peran B2P2BPTH Yogyakarta dalam Pelestarian Jenis-Jenis Khas Daerah Istimewa Yogyakarta' tulisan Lukman Hakim dan Yuliah, pohon mentaok punya nama ilmiah Wrightia javanica. Di antara nama ilmiah lain mentaok adalah Wrightia pubescens dan Wrightia laniti.
Berdasarkan informasi dari Global Biodiversity Information Facility (GBIF), begini klasifikasi ilmiah pohon mentaok:
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom: Pteridobiotina
- Phylum: Tracheophyta
- Class: Magnoliopsida
- Order: Gentianales
- Family: Apocynaceae
- Subfamily: Apocynoideae
- Genus: Wrightia
- Species: Wrightia javanica, Wrightia pubescens
Ada banyak sebutan pohon mentaok di Indonesia. Di antaranya mentaos, bintaos, benteli lalaki, dan bentawas.
Karakteristik Pohon Mentaok
Dilansir tugas akhir Anis Lestari dari D3 Pengelolaan Hutan UGM bertajuk Persebaran Mentaok (Wrightia javanica) di Kecamatan Kotagede Yogyakarta dan laman Tropical The Ferns, di antara karakteristik pohon mentaok adalah:
- Bentuk tajuk tidak beraturan
- Batang bertipe monopodial
- Batang berbentuk silindris dengan warna cokelat muda-cokelat kehitaman
- Batang bisa tumbuh hingga tinggi 35 meter
- Diameter batang mampu mencapai 50 cem
- Daun berwarna hijau, bertepi rata
- Daun memiliki ujung meruncing
- Daun berbentuk oblong
- Bunga berwarna putih kekuningan
- Bunga tumbuh dengan bentuk malai di ujung ranting
- Berbunga setahun sekali
Manfaat Pohon Mentaok
Pohon mentaok dikenal memiliki kayu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan pembuatan perabot, kerajinan, hingga berbagai kebutuhan konstruksi, bergantung pada karakteristik dan ukuran kayu yang tersedia.
Lebih lanjut, dilansir Plant Resources of South East Asia, getah mentaok dipakai untuk mengobati disentri berat. Ada juga yang menyebut kegunaan mentaok guna mengatasi HIV. Di kawasan Nusa Tenggara Timur, mentaok dimanfaatkan secara tradisional untuk mengobati memar dan membersihkan darah.
Selain fungsi konstruksi dan kesehatan, pohon mentaok juga mampu dijadikan flora peneduh. Ukurannya yang menjulang tinggi dengan daun-daun tumbuh melebar rindang memampukan mentaok memberikan kanopi dari sengatan Matahari.
Status Konservasi Pohon Mentaok
Pencarian nama ilmiah pohon mentaok di laman resmi Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan pada Kamis (29/10) menemukan hasil buntu. Dengan demikian, mentaok belum termasuk daftar flora dilindungi sebagaimana tertera dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
Meski begitu, keberadaannya yang terus berkurang membutuhkan perhatian lebih semua kalangan. Penanaman di berbagai titik yang dinilai cocok untuk tempat tumbuh kembang mentaok menjadi prioritas guna mencegah hilangnya tanaman legendaris ini secara mutlak.
Nah, itulah sekilas mengenai mentaok, pohon legendaris Jogja yang eksistensinya mulai terancam. Semoga menambah wawasan detikers, ya!

































































