Mahsun tampak kusam setelah menanti 3 jam lamanya. Ransel yang biasa dibawa ke kuli bangunan diisi peralatan kerja, kini diisi nasi, pakaian hingga snack dan minuman.
Dia tempak letih, menanti buah hatinya di halaman Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara untuk mendapatkan pendidikan gratis dari pemerintah.
Pria asal Sandik, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, ini kini bisa bernapas lega usai sang anak diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1, Kabupaten Lombok Utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Mahsun, pendapatan keluarga dari hasil kuli bangunan lepas yang biasanya dibagi untuk biaya pendidikan anak, kini bisa ditabung sesuai anaknya mendapatkan pendidikan gratis di sekolah rakyat Lombok Utara.
"Saya datang untuk melihat anak saya yang baru daftar ulang di sini. Saya datang sendiri," kata Mahsun lirih saat ditemui di halaman Sekolah Rakyat seluas 6,7 hektar itu, Senin siang (2/11/2026).
Pria berusia 40 tahun itu bercerita memiliki 2 orang buah hati. Anak sulungnya yang duduk di kelas 6 SD itu mulanya belajar di salah satu SD di desanya. Tapi kini, bisa melanjutkan sekolah tanpa perlu memikirkan biaya sedikit pun.
"Sekolah Rakyat ini bagus sekali. Sangat membantu kami yang kurang mampu, jadi tidak perlu risau lagi memikirkan biaya sekolah, karena di sini kan ditanggung semua," ujar Mahsun.
Rasa syukur serupa dirasakan oleh Ahmad Riza, seorang buruh harian asal Batulayar, Lombok Barat. Anaknya yang kini menginjak kelas 1 SMP berhasil menjadi salah satu calon siswa yang diterima di sekolah rakyat dan harus tinggal di asrama secara gratis tersebut.
Sebagai pekerja kasar yang penghasilannya tidak menentu, Riza mengaku senang anaknya bisa mengenyam pendidikan berkualitas secara cuma-cuma di Sekolah Rakyat Lombok Utara.
"Saya kira ini bagus untuk masa depan warga yang kurang mampu. Apalagi dibiayai negara kan sekolahnya. Anak saya yang pertama sudah diterima, tinggal dua lagi yang masih TK," tutur Riza penuh kegembiraan.
Kehadiran program Sekolah Rakyat ini, beber Riza, memang menjadi angin segar bagi masyarakat kecil di Nusa Tenggara Barat. Ahmadi, warga Dusun Timur, Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Harapan untuk Keluarga Tak Mampu
Baginya, kehadiran sekolah ini memotong satu beban besar keluarga sehingga ia bisa mulai merajut asa yang lebih tinggi bagi buah hatinya sebelum melanjutkan ke bangku kuliah.
"Terima kasih Pak Presiden Prabowo. Program ini sangat bagus untuk warga kurang mampu. Sekarang kita tinggal memikirkan bagaimana nanti meneruskan anak-anak sampai kuliah," kata Ahmadi penuh harap.
Ahmadi yang datang bersama keluarga mengantar sang buah hatinya menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya selama tinggal di asrama Sekolah Rakyat Gumantar Lombok Utara.
"Tinggal saya sisakan waktu sekali seminggu untuk janguk anak nanti," tuturnya.
Kepala Asrama Sekolah Rakyat Lombok Utara Syarifudin Deo mengatakan berdasarkan data finalisasi, total keseluruhan calon siswa yang ditetapkan di berbagai titik Sekolah Rakyat di wilayah Kabupaten/Kota di NTB mencapai 595 orang.
Deo menjelaskan dari jumlah tersebut, sebanyak 145 siswa tersebar di jenjang SD, 240 siswa di jenjang SMP, serta 210 siswa di jenjang SMA dari berbagai daerah di Bumi Gora.
"Sebaran siswa tersebut meliputi di Lombok Utara sebanyak 270 siswa yang mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA. Sementara itu, di Lombok Timur tercatat ada 150 siswa yang terbagi di SRD 3 Lombok Timur dan SRMA 38 Lombok Timur," ujarnya.
Sejumlah siswa Sekolah Rakyat di Lombok Utara Foto: Ahmad Viqi Wahyu |
Adapun di Lombok Barat, total siswa mencapai 145 orang yang dialokasikan ke SRD 4 Lombok Barat serta SRMP 18 Lombok Barat, disusul oleh SRD 5 Sumbawa yang menampung 30 siswa jenjang SD.
Deo memastikan antusiasme para orang tua buruh harian lepas ini, Sekolah Rakyat pertama di NTB juga hadir dengan jaminan keamanan tingkat tinggi. Sekolah yang berdiri di atas lahan 6,7 hektar, kompleks sekolah yang menelan anggaran Rp 241 miliar ini terdiri dari 28 gedung utama.
Diketahui, Lombok Utara punya rekam jejak kelam gempa berkekuatan 7,0 Magnitudo pada tahun 2018 silam, aspek keselamatan fisik 28 bangunan Sekolah Rakyat menjadi prioritas utama pemerintah.
Seluruh gedung di kawasan Sekolah Rakyat dibangun dengan teknologi khusus tahan gempa. Secara teknis, struktur bangunan Sekolah Rakyat bahkan dirancang mampu bertahan dari guncangan hingga magnitudo 8 Skala Richter, meskipun lokasinya hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai.
"Memang sudah kita gunakan sistem tahan gempa untuk pembangunan saat ini. Secara perhitungan konstruksi sudah sangat aman," pungkas Deo.
(mud/mud)


















































