Hidup di kapal pesiar sambil berkeliling dunia terdengar seperti impian. Namun, tidak dengan penumpang Odyssey yang ternyata kekurangan makanan.
Sharon Lane, seorang pensiunan guru asal Amerika Serikat (AS), mengungkapkan bahwa kehidupan di kapal pesiar hunian Villa Vie Odyssey tidak selalu semewah yang dijanjikan. Bahkan sebelum kapal itu berhenti beroperasi, berbagai masalah sebenarnya sudah mulai dirasakan oleh penumpang.
Sharon menjadi salah satu penghuni Odyssey selama lebih dari setahun. Dia kemudian turun pada Agustus 2026 karena alasan medis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua bulan kemudian, nasib para penumpang lain lebih miris. Mereka diminta meninggalkan kapal setelah pelayaran dihentikan karena masalah bahan bakar dan keuangan.
Sharon menceritakan bahwa persediaan makanan di kapal sering kali sangat terbatas kepada NBC Los Angeles.
"Mereka membiarkan waktu berlalu dari jam makan siang hingga hampir pukul 19.00 tanpa menyediakan makanan yang layak, hanya menyuguhkan kue-kue kering. Itu jelas tidak cukup," ujar dia.
Ia juga mengungkapkan bahwa pengelola kapal sempat marah karena sejumlah penumpang mengambil makanan dan menyimpannya sebagai persediaan. Padahal, menurut Sharon, mereka melakukan hal tersebut karena makanan yang disediakan tidak mencukupi.
"Pengelola marah karena orang-orang mengambil makanan dan menyimpannya sebagai persediaan. Padahal, mereka sendiri tidak menyediakan makanan yang memadai. Lalu, apa yang mereka harapkan?" kata dia.
Masalah lain muncul ketika perusahaan mulai meminta tambahan uang kepada para penumpang untuk membeli bahan bakar. Saat itulah Sharon menyadari bahwa kondisi keuangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja.
Ia bahkan menggambarkan kapal tersebut seolah hanya mengapung di tengah laut tanpa benar-benar bergerak menuju tujuan.
"Kami benar-benar hanya mengapung di tengah samudra, tanpa menggunakan bahan bakar untuk bergerak ke arah mana pun," kata dia.
Sharon sebelumnya begitu menikmati kehidupan di Odyssey hingga rela menjual sejumlah harta bendanya demi tinggal di kapal tersebut. Dalam wawancara dengan CNN pada Juli 2026, ia bahkan menyebut pengalaman itu seperti berada di surga.
"Jika dunia nyata berarti harus mengendarai mobil ke SPBU dan mendapati harga bahan bakar yang kini sangat mahal, harus pergi ke supermarket dan mengantre panjang, harus membayar tagihan, serta mencemaskan berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai tempat-maka, tidak, terima kasih," ujar dia.
Namun, Sharon bukan satu-satunya penumpang yang menanggung kerugian bertubi-tubi itu. Rina Cavazza, seorang instruktur Pilates asal Brisbane, Australia, termasuk di antara sekitar 200 penghuni yang harus mencari akomodasi dan mengatur perjalanan pulang setelah kapal berhenti beroperasi.
Rina telah membayar USD 170.000 (Rp 3,08 miliar) untuk tinggal di Odyssey, tetapi masih memiliki sekitar 18 bulan perjalanan yang seharusnya dijalani.
"Ini adalah masa yang menyedihkan bagi banyak orang," kata Rina kepada ABC.
Ia juga mengatakan bahwa beberapa penghuni bahkan telah mengeluarkan ratusan ribu dolar tambahan untuk membantu membayar biaya bahan bakar kapal.
Tanda-tanda krisis ternyata juga dirasakan oleh penghuni lainnya. Kit, istri blogger Randy Cassingham yang mendokumentasikan kehidupan mereka di kapal melalui situs Residential Cruising.com, mengatakan suasana di atas kapal mulai berubah ketika konflik di Selat Hormuz memengaruhi biaya bahan bakar.
"Saya menyadari, tepat saat insiden di Selat Hormuz terjadi, suasana di atas kapal pun berubah," ujarnya kepada The Guardian.
"Menurut saya, itu karena pihak manajemen kapal menyadari betapa besarnya biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Mereka pun mulai melakukan pemangkasan anggaran tanpa sepengetahuan kami," kata dia.
Villa Vie Odyssey mulai menerima penumpang pada 2024, meskipun pelayaran perdananya sempat tertunda selama berbulan-bulan di Belfast, Irlandia Utara, akibat masalah teknis. Kapal tersebut kemudian memulai perjalanan keliling dunia dengan rencana mengunjungi 425 pelabuhan di 147 negara selama tiga setengah tahun.
Perusahaan bahkan sempat merencanakan peluncuran kapal kedua bernama Legacy pada 2029. Namun, rencana besar itu kini dibayangi krisis keuangan yang membuat Odyssey berhenti berlayar.
Bagi para penghuninya, perjalanan yang semula dijanjikan sebagai kehidupan impian justru berakhir dengan kekecewaan dan ketidakpastian.





























































