Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan menghadapi peralihan musim kemarau menuju musim hujan. Menurutnya, perubahan kondisi cuaca saat ini perlu diantisipasi secara serius karena sejumlah wilayah Jawa Timur masih menghadapi kekeringan, sementara daerah lainnya mulai diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
"Di beberapa tempat kita masih menemukan kelangkaan air bersih. Dropping air bersih masih dilakukan dengan pelibatan BPBD Provinsi Jawa Timur. Sebetulnya prediksi BMKG setelah direvisi, semula puncak kekeringan di bulan September, kemudian direvisi puncak kekeringan di bulan November untuk Jawa Timur," kata Khofifah di Surabaya, Selasa (3/11/2026).
Khofifah menyebut, hujan diprediksi mulai berlangsung pada Desember hingga Februari mendatang. Ia bersyukur hujan mulai turun di sejumlah wilayah Jawa Timur, setelah berbagai elemen masyarakat melakukan ikhtiar, termasuk melalui doa bersama dan salat istisqa di masjid maupun pesantren.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu harapan kita adalah hujan yang membawa rahmat dan manfaat," harapnya.
Namun, Khofifah mengingatkan bahwa turunnya hujan juga harus diiringi peningkatan kesiapsiagaan. Sebab, hujan dengan intensitas tinggi berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, terutama tanah longsor di wilayah dengan kondisi geografis perbukitan dan lereng.
Sejumlah daerah di Jawa Timur, lanjutnya, telah mengalami kejadian longsor, di antaranya Trenggalek, Malang khususnya wilayah Tirtoyudo, serta Lumajang. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana tidak boleh menunggu sampai terjadi musibah.
Khofifah meminta kewaspadaan dibangun secara berlapis, mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa, hingga lingkungan masyarakat terkecil seperti RT dan RW. Ia menekankan, kesiapsiagaan berbasis komunitas sangat penting agar warga mampu mengenali potensi ancaman di lingkungan masing-masing, memperkuat komunikasi, serta melakukan evakuasi lebih dini ketika muncul tanda-tanda bencana.
"Bagaimana secara komunitas, apakah RT, RW, desa, sama-sama membangun kewaspadaan dari desa setempat. Jangan sampai kemudian ada bencana alam yang berdampak pada hilangnya saudara-saudara kita dan akhirnya mereka meninggal dunia," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia, termasuk Jawa Timur, berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Kondisi geografis ini membuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari kebiasaan bersama, bukan hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi.
"Karena kita berada di Ring of Fire, maka kewaspadaan itu harus dilakukan berlapis. Pada saat musim kemarau belum semuanya selesai, kita sudah harus melakukan antisipasi menghadapi musim hujan yang memang sudah terjadi di beberapa daerah," katanya.
Untuk itu, Khofifah mengajak seluruh unsur pemerintah, aparat, relawan kebencanaan, dan masyarakat memperkuat koordinasi serta memastikan langkah antisipasi berjalan hingga tingkat lingkungan. Ia berharap masyarakat semakin tanggap mengenali potensi bahaya sehingga risiko dan dampak bencana, terutama korban jiwa, dapat diminimalkan.
"Kewaspadaan berganda itu harus dilakukan oleh semua pihak, semua lini," tegasnya.























































