Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mengungkap sejumlah jalan tikus yang kerap dilewati para pendaki ilegal. Terbaru, 14 orang ditangkap saat nekat mendaki Gunung Merapi via Selo, Boyolali, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.
"Kalau yang namanya hutan kan selalu berbatasan dengan pemukiman. Kami ada 30 desa yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Merapi," kata Kepala Balai TNGM, Tutut Heri Wibowo saat dihubungi detikJogja, Selasa (3/11/2026)
"Tetapi yang biasa dilakukan untuk kegiatan pendakian itu kan di wilayah Boyolali, kemudian Magelang, dan Klaten itu sedikit yang di Sapuangin," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk jalur tikus, kata Heri, yang paling banyak digunakan pendaki ilegal berada di wilayah Selo, Boyolali, dan Dukun, Magelang.
"Hutan bakalan Desa Klakah, Tegalsruni Desa Samiran, Hutan Stabelan desa Tlogolele, Hutan Rogobelah desa Suroteleng, dan rute jalur masuk dari Babadan. Sama dengan yang lainnya, orang cari jalan tikus karena dianggap aman bagi mereka," papar Heri.
Heri menyebut, pihaknya pun telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah para pendaki ilegal ini. Tak terkecuali di jalur-jalur tikus. Selain sosialisasi di berbagai media bahkan secara luring ke sekolah-sekolah, patroli juga giat dilakukan.
"Menggunakan papan-papan larangan, misalkan 'pada saat ini level 3 dilarang melakukan pendakian karena resiko-resiko berbahaya', itu banyak banget kita taruh itu tulisan-tulisan itu di pintu-pintu tikus itu juga sebenarnya sudah ada semua informasi untuk tidak melakukan pendakian itu ada," ujarnya.
Namun lagi-lagi, lanjut Heri, karena luasnya hutan, keterbatasan personil, hingga kesadaran individu, membuat para pendaki ilegal ini terus bermunculan.
"Patroli pencegahan masyarakat yang melakukan pendakian ilegal itu kan rutin ya walaupun mungkin kalau waktunya kan tentu kita tidak bisa informasikan karena pasti kalau terinfo kepada pihak luar kan pasti akan dihindari," papar Heri.
"Kalau patroli tentu semua titik, kadang-kadang teman-teman tuh menggunakan informan masyarakat ya. Ada banyak metode sih, biasanya pakai informan, kemudian ada juga yang mungkin feeling teman-teman ke sana, itu juga karena biasanya itu menjadi pintu-pintu masuk," pungkasnya.

































































