Salahuddin Al-Ayyubi adalah sosok pemimpin militer yang namanya sangat disegani berkat kecerdasan, kegigihan, serta akhlak mulianya. Dalam sejarah Islam, ia dikenal sebagai pahlawan kaum muslim yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis (Yerusalem).
Jauh sebelum kemenangan besar itu, Salahuddin Al-Ayyubi harus melewati lika-liku jihad untuk mempersatukan wilayah-wilayah bangsa Islam yang terpecah.
Simak perjalanan hidup Salahuddin Al-Ayyubi sebelum berhasil membebaskan Yerusalem dalam ulasan berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salahuddin Al-Ayyubi Sang Pembebas Baitul Maqdis
Salahuddin Al-Ayyubi memiliki nama asli Salahuddin Yusuf bin Ayyub. Mengutip buku Sejarah Lengkap Dunia Abad Pertengahan karya Alfi Arifian, sejarah mencatat namanya sebagai Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi atau Salauddin Al-Ayyubi (1137-1193 M). Sementara dunia Barat lebih mengenalnya sebagai Saladin. Di samping itu, ia juga menyandang gelar Malik An-Nashir.
Salahuddin Al-Ayyubi lahir dari keluarga terhormat Kurdi di Kota Tikrit, letaknya sekitar 140 km barat laut Kota Baghdad, dekat Sungai Tigris. Ayahnya, Najmuddin Ayyub, merupakan seorang gubernur atau amir di Baalbek.
Sepuluh tahun masa kecil Salahuddin Al-Ayyubi dihabiskan untuk belajar di Damaskus. Sejak kecil ia belajar agama di madrasah dan belajar bertempur militer dari pamannya, seorang panglima Seljuk, Jenderal Asaddin Syirkuh.
Awal Semangat Jihad
Merangkum buku Salahuddin Al-Ayyubi VS King Richard susunan wisnu Yudha Wardana, Salahuddin Al-Ayyubi dididik dan dipengaruhi oleh nilai-nilai keadilan, kebajikan, dan semangat jihad oleh seorang pemimpin Dinasti Zangid, Nuruddin Zanki.
Pada 1163, Salahuddin Al-Ayyubi yang saat itu berusia 26 tahun turut serta dalam ekspedisi militer Nuruddin Zanki menuju Mesir dengan misi menyatukan dunia Arab. Sayangnya, pengepungan dalam ekspedisi ini berakhir tanpa kemenangan bagi kaum muslim sehingga mereka terpaksa mundur.
Salahuddin Al-Ayyubi Diangkat sebagai Penguasa Mesir
Nuruddin Zanki menunjuk Salahuddin Al-Ayyubi yang masih muda sebagai penguasa Mesir menggantikan Shirkuh yang telah wafat. Ada dugaan Nuruddin sengaja menunjuk orang yang dianggapnya lemah dan mudah dikendalikan di Kairo, tanpa menyadari potensi kepemimpinan Salahuddin yang sesungguhnya.
Pada awal masa kepemimpinannya, Salahuddin menunjukkan kepatuhan dengan melaksanakan perintah Nuruddin untuk menggantikan dominasi ajaran Syiah di Mesir dengan ajaran Sunni. Namun, hubungan antara Nuruddin dan Salahuddin mengalami kerenggangan sejak 1169 hingga 1174.
Salahuddin dikisahkan beberapa kali tidak mematuhi perintah Damaskus, sehingga Nuruddin merencanakan ekspedisi militer ke Mesir. Namun, rencana ini tidak terlaksana lantaran Nuruddin wafar pada 11 Mei 1174, dan kekuasaannya diwariskan kepada putra mahkotanya.
Salahuddin Al-Ayyubi Menjadi Sultan Mesir dan Suriah
Satu tahun setelah Nuruddin Zanki wafat, Salahuddin memimpin pasukannya keluar dari Mesir dan berhasil menduduki Suriah. Kala itu ia berhasil menyatukan Damaskus dan Kairo, mengakhiri periode fragmentasi politik yang berkepanjangan.
Pada tahun yang sama, Salahuddin dinobatkan sebagai Sultan Suriah dan mendapat pengakuan sebagai penguasa atas Suriah dan Mesir dari khalifah di Baghdad, otoritas spiritual tertinggi dalam dunia Islam saat itu.
Semangat Jihad Mempersatukan Wilayah Islam yang Terpecah
Salahuddin mulai fokus menyusun strategi mempersatukan wilayah-wilayah Islam lainnya yang masih terpecah-belah. Langkah ini dimulai dengan keberhasilannya merebut Aleppo pada 1183 dan Mosul pada 1186.
Kemenangan Salahuddin Al-Ayyubi tidak hanya dipandang sebagai pencapaian militer, tetapi juga menjadi simbol semangat jihad dan persatuan di kalangan umat Islam. Kemenangan itu memantik keyakinan Salahuddin Al-Ayyubi untuk tujuan yang lebih besar, yakni membebaskan Yerusalem.




































































