Asprov PSSI DIY telah mengeluarkan keputusan terkait insiden tendangan kungfu pemain di Piala Soeratin U-13 regional DIY. Berikut sanksinya.
Diketahui, insiden tendangan kungfu terjadi di babak 6 besar Piala Soeratin U-13 DIY di Stadion Dwi Windu, Bantul pada Kamis (20/8) sore. Pemain Mataram Utama, Firmansyah Purbo Wicaksono, tendangan tersebut terhadap kapten Baturetno FC Adskhan Jarrar Fauzy.
Panitia Disiplin Asprov PSSI DIY, Ediyanto, memutuskan memberi hukuman larangan bermain kepada Firmansyah. Firmansyah dilarang bermain dalam Piala Soeratin 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edi menyebut sanksi merujuk Kode Disiplin Tahun 2025 pasal 48 jo pasal 49 dan pasal 78, menyatakan bahwa Firmansyah dikenakan sanksi larangan bermain dan denda Rp 10 juta.
"Menunjuk pada Kode Disiplin Tahun 2025 Pasal 48 juncto Pasal 48 dan Pasal 78, menyatakan bahwa pemain Mataram Utama FC U-13 nomor punggung 17 atas nama Firmansyah Purbo Wicaksono dikenakan sanksi larangan bermain sampai dengan kompetisi Piala Soeratin Tahun 2026 berakhir atau selesai," ujar Ediyanto saat jumpa pers di kantor Asprov PSSI DIY, Kota Jogja, Sabtu (22/8/2026).
Ediyanto melanjutkan, sanksi tersebut juga berlaku apabila Mataram Utama FC lolos ke putaran nasional. Firmansyah tetap tidak diperbolehkan memperkuat timnya di kompetisi tersebut.
"Pengulangan terhadap pelanggaran di atas akan berakibat terhadap sanksi yang lebih berat.
Jadi ini tiga keputusan yang kami buat dan tentunya ini semoga menjadi pelajaran bagi semua tim, khususnya pada baik itu pemain, official, atau perangkat pertandingan agar pertandingan-pertandingan selanjutnya bisa berjalan dengan baik, dengan lancar, menjunjung tinggi sportivitas," tuturnya.
"Saya kira itu dari kami, dan untuk banding, terhadap keputusan ini tidak dapat diajukan banding, sesuai dengan pasal 117 Kode Disiplin Tahun 2025," pungkasnya.
Mataram Utama Wajib Beri Materi Karakter 6 Bulan
Mataram Utama juga diwajibkan menjalankan program pembinaan karakter. Program itu wajib digelar selama 6 bulan secara berkala.
"Ini sifatnya adalah pembinaan, bagian dari pembinaan. Kami juga sampaikan kepada Mataram Utama untuk melakukan pendampingan kepada anak ini agar nantinya anak ini jangan sampai merasa dia dimatikan kariernya," ujar Wendy.
Pembinaan tersebut berupa pendidikan karakter yang ditujukan kepada seluruh elemen Mataram Utama.
"Selain keputusan hukuman atau pembinaan kepada pemain ini tadi, kita juga tentunya membuat keputusan kepada tim, tim Mataram Utama, untuk bisa menambahkan materi character building atau pendidikan karakter kepada semua pihak di Mataram Utama itu yang terlibat di sepakbola, tidak hanya pemain, tidak hanya pelatih, wali juga," terangnya.
"Nantinya Mataram Utama ini selama periode enam bulan kita minta untuk selalu melaksanakan dan monthly, setiap bulannya, periodik harus mengirimkan report itu kepada kita," jelasnya.
Pihaknya juga berencana memberlakukan pendidikan karakter serupa ke klub-klub lain di bawah naungan PSSI DIY.
"Nantinya ke depan Asprov PSSI DIY akan mengajak semua pihak di bawah PSSI DIY ini untuk melakukan pendidikan karakter. Kita sudah gandeng dari KONI DIY berkaitan dengan program-program ke depan tersebut sehingga nantinya ada pendampingan berkaitan dengan materi character building itu atau pendidikan karakter," katanya.
"Sehingga nantinya asas fairness, fair play, saling menghargai di dalam lapangan itu tetap bisa tercipta untuk iklim sepak bola yang jauh lebih baik lagi ke depannya," sambungnya.

































































