Gemuruh suara keteg dan tabuh kendang menggema di panggung Atraksi Melestarikan Seni dan Kebudayaan (Aksiku) 2026 yang digelar di Alun-Alun Ida Dewa Agung Jambe, Semarapura, Klungkung, Kamis (22/10/2026) malam.
Salah satu sajian yang paling mencuri perhatian penonton adalah penampilan memukau dari duta seniman Nusa Penida saat tampil di awal lomba Bapang Barong Ket.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun harus menyeberangi lautan dari pulau seberang, kelompok seniman muda asal Nusa Penida ini tampil penuh totalitas. Gerakan yang lincah, tegas, tapi tetap berwibawa (mateg) membuat ratusan pasang mata penonton tak berkedip menyaksikan atraksi magis Barong Ket di atas panggung.
Sinergi antara penari barong (juru bapang) dan juru kendang (mekendang tunggal) tampak begitu ciamik. Setiap gerak-gerik Barong Ket, mulai dari kibasan bulu, ayunan kepala, hingga gigitan rahang (agem dan seledet), selalu pas dengan pukulan nada kendang yang enerjik.
Wayan Raditya (22), Pembina Tari Barong Nusa Penida, menjelaskan Barong Ket yang ditampilkan dalam ajang ini merupakan karya dari Banjar Pelilit, Desa Pejukutan. Persiapan latihan untuk para penari pemula yang belum pernah menarikan barong sebelumnya memakan waktu satu hingga dua bulan.
"Khusus untuk perlombaan ini kita siapkan dari proses awal latihan selama kurang lebih satu sampai dua bulan," ujar Raditya pada detikBali saat ditemui usai pertunjukan.
"Cukup puas dengan penampilan para penari. Apalagi dengan kondisi yang terbilang masih pemula dan fisik yang harus menyeberang dulu tadi," imbuhnya.
Sebelum memulai pertunjukan, dibutuhkan ritual khusus yang dipercaya membantu proses pertunjukan. Bahkan ritual tersebut juga dapat membantu barong bergerak sendiri membantu para penari di atas panggung.
"Itu kepercayaan yang kami yakini. Sehingga kita ada ritualnya. Ada sembahyang dulu," jelas Raditya.
Harga Barong Rp 70 sampai Rp 100 Juta
Di balik kepiawaian penari barong, terdapat karya seni barong yang bernilai tinggi karena sepenuhnya dibuat dengan tangan.
"Ini harganya dari Rp 70 sampai Rp 100 jutaan. Karena semua tidak ada pabrikan. Semua dibuat oleh perajin secara manual. Barong ket ini sendiri kami sewa. Sekitar Rp 2,5 sampai Rp 3 jutaan per sekali pertunjukan," jelas Aditya.
Panggung Aksiku sendiri merupakan ajang inovasi dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Klungkung untuk memfasilitasi ruang ekspresi dan regenerasi para seniman lokal. Penampilan parade tari dan lomba kesenian tradisional ini melibatkan duta-duta seniman dari empat kecamatan yang ada di Klungkung: Dawan, Banjarangkan, Klungkung, dan Nusa Penida.
Bupati Klungkung, I Made Satria, mengapresiasi tinggi keterlibatan para seniman muda, khususnya dari Nusa Penida yang tetap konsisten menjaga serta melestarikan warisan tradisi budaya Bali.
"Melalui agenda tahunan Aksiku ini, kita ingin memastikan seni budaya terus hidup dan berkreasi. Kehadiran seniman dari Nusa Penida membuktikan bahwa semangat pelestarian seni tidak terhalang oleh lautan," jelas Satria.
Suasana Alun-alun Ida Dewa Agung Jambe semakin meriah karena selain menyuguhkan atraksi budaya unggulan, gelaran Aksiku 2026 juga menghadirkan Pameran UMKM lokal dan stan kuliner yang diserbu masyarakat sekitar.
Perpaduan antara seni tradisional yang sakral dan geliat ekonomi kreatif warga sukses menghidupkan malam Kota Semarapura.

















































