Suasana di sepanjang Pantai Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, tampak hening pada Senin (26/10/2026). Tak ada riak aktivitas nelayan maupun hilir mudik warga di pantai.
Kawasan pesisir itu ditutup selama 24 jam, tepatnya sejak Senin (26/10/2026) pukul 06.00 Wita hingga keesokan harinya pada waktu yang sama. Sejumlah pelabuhan kapal cepat jurusan Nusa Penida dari Kusamba pun dialihkan seluruhnya dari Sanur, Denpasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan pantai ini adalah pelaksanaan Nyepi Segara. "Nyepi segara berkaitan dengan pelaksanaan Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini di Pura Segara yang jatuh pada hari purnama kelima," terang Bendesa Adat Kusamba, Anak Agung Raka Swastika, kepada detikBali.
Nyepi Segara dilaksanakan di umanis Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini bertepatan dengan paruman krama Desa Adat Kusamba. Tradisi leluhur ini menjadi bentuk penghormatan dan pemuliaan warga lokal terhadap laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Raka mengungkapkan masyarakat Kusamba memiliki ikatan emosional dan ekonomi yang erat dengan laut maupun daratan. "Ngusaba Segara adalah bentuk penghormatan kepada karunia laut, sedangkan Ngusaba Nini sebagai penghormatan atas karunia hasil bumi di sawah," tuturnya.
Nyepi Segara, tutur Raka, wajib dijaga dan dihormati oleh seluruh masyarakat. Apalagi, tradisi ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2024. Aturan ini pun mengikat: warga yang nekat melanggar aturan Nyepi Segara siap-siap dijatuhi sanksi adat.
Sehari sebelum Nyepi Segara berlangsung, tepatnya pada puncaknya saat Purnama Kalima, Minggu (25/10/2026) ratusan krama Desa Adat Kusamba menggelar tradisi mapeed. Krama berjalan beriringan sejauh 1,5 kilometer (km) membawa jauman dan pralingga Ida Batara dari Pura Puseh menuju Pura Segara
Menariknya, barisan mapeed tidak hanya didominasi warga dewasa, tetapi juga diramaikan oleh generasi muda (yowana). Keterlibatan anak muda ini terlihat sejak tahap persiapan, seperti ngayah membuat uparengga (penyanggah upacara) dan penjor.
Ketua Yowana Desa Adat Kusamba, I Dewa Agung Wahyu Arinatha, bangga bisa terlibat langsung dalam tradisi tahunan ini. Menurutnya, proses ini menjadi ruang edukasi agar generasi muda memahami makna mendalam di balik ritual adat.
"Dengan turut terlibat, kami jadi tahu makna tradisi ini dan kami bangga mewarisi tradisi ini," kata Wahyu.
Hal senada diungkapkan warga Banjar Bingin, Kadek Ayu Martadiana. Ia berharap makin banyak pemuda yang tergerak untuk ikut melestarikan tradisi unik tersebut.

















































