Siswa MAN 2 Bantul berhasil diterima Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes usai esainya menjadi tiga karya terbaik dalam lomba gagasan tertulis pada ajang Olimpiade Pertanian Indonesia (OPI) 2026. Esai tersebut membahas tentang hydrotani wall.
Ahmad Hafidz Kamal Al Anwar (17) siswa kelas XII A ini menceritakan bahwa awalnya mengetahui informasi terkait Olimpiade Pertanian Indonesia (OPI) 2026 dari media sosial (medsos). Selanjutnya, Hafidz tertarik untuk ikut karena sesuai dengan minatnya akan dunia pertanian.
"Lalu buat esai soal hydrotani wall, ide itu dari pengalaman saya sendiri saat pandemi kan kemandirian pangan susah lalu ibu mengajak menanam sayur seperti terong dan tomat," katanya kepada wartawan di Bantul, Rabu (28/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, Hafidz mengaku lahir dari keluarga petani. Selain itu, Hafidz melihat saat ini banyak lahan sempit sehingga warga sulit untuk melakukan kemandirian pangan.
"Karena latar belakang saya dari keluarga petani, kakek nenek petani, kalau bapak ibu buruh," ujarnya.
Secara rinci, hydrotani wall adalah gagasan untuk memanfaatkan dinding rumah dalam menanam dengan sistem hidroponik presisi berbiaya terjangkau. Sedangkan latar belakang gagasannya ada tiga, yakni pemanfaatan lahan sempit untuk pertanian, kemandirian pangan, dan pemanfaatan air hujan.
"Jadi berawal dari pemikiran saya sendiri kemudian saya konsultasi ke guru saya Bu Is Dwiyanti," ucapnya.
Ahmad mengungkapkan, rancangan hydrotani wall memiliki keunggulan pada efisiensi pemanfaatan air hujan dan pupuk cair. Menurutnya, sirkulasi tertutup yang dipasang pada modul memungkinkan penghematan air hingga 80 persen dibanding metode penyiraman konvensional di tanah.
Sedangkan struktur instalasinya pun dirancang modular. Menurutnya hal itu agar mudah dirangkai, dirawat, dan disesuaikan dengan luas dinding yang tersedia.
"Untuk airnya pakai air hujan dengan cara dimanfaatkan, jadi musim hujan tahun ini airnya bisa ditampung di bak penampungan yang digunakan untuk pengairan musim kemarau yang akan datang dengan perkiraan kemarin itu 40-60 liter air," katanya.
Akan tetapi, sebelum tertampung di bak penampungan air hujan akan melalui proses filterasi. Di mana filterasi itu terdiri dari lapisan awal berupa kain, kerikil, karang jahe hingga arang.
"Filter di atas bak penampungan, jadi ada paralonnya mengalirkan air. Saat penanaman air tersebut dipompa ke atas dan di masing-masing ujung paralon terdapat sekat otomatis, nantinya sebelah kanan terbuka dahulu dan sebelah kiri tertutup," ujarnya.
Ketika volume air sudah memenuhi pipa penanaman, Hafidz menyebut sekat sebelah kanan akan tertutup otomatis. Sehingga saat pemanenan tiba, air bekas penanaman tersebut mengalir ke bawah ke bak penampungan sisa dan airnya bisa dipakai menyiram tanaman seperti tomat, terong dengan menetralisasi satu banding satu dengan air biasa.
"Kenapa dinetralisir air hujan itu? Karena air hujan asam dan pH air untuk hidroponik minimal 6,5. Nah, pH air hujan itu dari sampai 5,5, karena itu pakai karang jahe karbonnya bisa naik satu jadi 6,5 dan itu pas untuk pengairan tanaman hidroponik," ucapnya.
Di sisi lain, Hafidz mengaku masuk ke Fakultas Pertanian IPB menjadi gerbang awal untuk mewujudkan mimpinya. Adapun mimpi Hafidz adalah menjadi agropreneur muda dan peneliti pertanian modern.
"Pertanian Indonesia di masa depan butuh sentuhan teknologi yang inklusif dan mudah diterapkan siapa saja. Kesempatan kuliah di IPB ini akan saya gunakan sebaik-baiknya untuk menguji coba purwarupa hydrotani wall ke skala yang lebih luas agar warga perkotaan bisa mandiri pangan," katanya.
Sementara itu, Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, menyebut bahwa sekolah memberikan fasilitas penuh selama Ahmad mengikuti OPI 2026 di Bogor, Jawa Barat. Menurutnya, semua itu merupakan bentuk dukungan sekolah terhadap muridnya yang mau mengikuti lomba.
"Untuk semua akomodasi dari sekolah, dan itu dari dana komite sekolah," ujarnya.
Selain itu, Nur juga mengungkapkan bahwa diterimanya Hafidz mengukir sejarah tersendiri bagi MAN 2 Bantul. Pasalnya selama ini belum ada lulusan MAN 2 Bantul yang menempuh pendidikan di IPB.
"Baru ini ada murid yang keterima di IPB, dan Ahmad ini satu-satunya murid madrasah yang masuk 3 besar di OPI 2026," ucapnya.

































































