Unggahan tentang pria paruh baya di Kapanewon Cangkringan, Sleman, diduga mengintip tetangganya yang sedang mandi jadi viral di media sosial. Korban menyebut pria itu telah dilaporkan ke perangkat dusun dan akhirnya membuat surat pernyataan untuk tidak mengulang perbuatannya.
"(Pelaku) Laki-laki berusia sekitar 50 tahunan. K ini berulangkali melakukan tindakan tidak terpuji dan sangat-sangat melukai martabat saya sebagai perempuan dengan melakukan tindakan pengintipan melalui celah pintu rumah saya berulang kali," kata korban, perempuan inisial D (31) saat dihubungi detikJogja, Minggu (1/11/2026).
Korban menyebut dirinya telah lama mencurigai pelaku, sehingga dia dan suaminya akhirnya memasang CCTV. Ia menyebut rumahnya cukup dekat dengan rumah pelaku. Korban kemudian mengunggah rekaman CCTV di media sosial yang merekam gerak-gerik pelaku saat mengintip rumah korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rekaman CCTV yang diunggah itu, pelaku tampak mengendap-endap di area sekitar rumah korban dan berjongkok di depan pintu. Dalam unggahannya, korban juga menampilkan foto pelaku dan surat pernyataan yang dibuat pelaku dan turut ditandatangani dukuh setempat.
Kepada detikJogja, D menyebut pelaku sudah beberapa kali melakukan tindakan yang tidak terpuji kepada D.
"Hingga puncaknya tanggal 29 Oktober yang lalu saya bersama suami berinisiatif memasang CCTV untuk mendapatkan bukti, dan benar saja K melakukan tindakan tersebut sekitar waktu subuh sebelum/sesudah berangkat ke masjid saat saya memulai aktivitas pribadi saya di dalam rumah untuk siap-siap bekerja," paparnya.
Mendapati bukti rekaman CCTV itu, lanjut D, ia bersama suaminya melaporkan kejadian ini kepada perangkat dusun pada tanggal 30 Oktober 2026. Pelaku pun disidang oleh perangkat dusun. Di situ pelaku mengakui perbuatannya dan kemudian membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan perbuatannya lagi.
"Tapi anehnya K tidak menyampaikan permohonan maaf dan rasa menyesal di hadapan saya secara pribadi. K terkesan hanya menyampaikan maaf kepada perangkat dusun di dalam forum mediasi tersebut," ungkapnya.
Menurut D, pelaku juga mengakui perbuatannya telah dilakukan berulang kali. D juga mengaku sudah mengetahui sejak lama, namun apa daya, ia tak punya cukup bukti untuk melaporkan pelaku.
"Sudah lama Mas (pelaku melakukan aksinya), beberapa tahun lalu saya pernah dipeluk dari belakang, tapi saat itu saya ingin speak up saya tidak punya bukti apapun," ujar D.
"Saya juga takut kalau speak up nggak ada bukti nanti diputarbalikkan fakta, sekitar dua bulan yang lalu saya memergoki dia di belakang rumah, saya tanya, (pelaku jawab) baru lihat ayam," sambungnya.
D bilang, pelaku melancarkan aksinya saat subuh, tepatnya ketika pelaku berangkat dan pulang dari masjid. Usai D berani speak up dan melaporkan pelaku ke perangkat dusun, menurut D, banyak perempuan di dusun itu yang mengaku pernah mengalami kejadian serupa.
"Itu berangkat dan pulang subuhan dari masjid. Soalnya saya kalau kerja masuk pagi, jam 5 subuh sudah berangkat jadi saya mandi sekitar subuh," jelas D.
"Berulang kali mas, sampai nggak bisa nyebutin berapa kali, Iya (pelaku mengakui), rumahnya cuma beda 2 rumah dari rumah saya. Tapi setelah saya up ini tetangga saya juga ngaku kalau juga pernah dilecehkan," imbuhnya.
Pelaku, kata D, sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas. Ia tinggal bersama dua putranya. "Istrinya pergi tidak tahu kemana," ujar D.
D kini mengaku trauma dan terguncang dengan kejadian ini. Ia pun kini dalam pendampingan psikolog. Saat ditanya soal laporan ke polisi, D mengaku belum melaporkannya.
"Sampai dengan saat ini saya masih merasa terguncang berat, saya di rumah rasanya cuma takut mas posisi sekarang. Saya sekarang pendampingan psikolog mas, karena di rumah rasanya takut terus," ungkapnya.
"Yang saya takutkan apabila saya atau jika ada korban yang lain menjadi fantasi K, mengingat dia hidup berjauhan dengan anak dan istrinya," pungkas D.
Dimintai konfirmasi secara terpisah, Dukuh setempat, inisial AM, membenarkan ada peristiwa tersebut. AM juga hadir dan menandatangani surat pernyataan pelaku.
"Memang benar telah terjadi kejadian seperti yang diberitakan, namun mohon maaf masalah ini biar kami selesaikan secara kekeluargaan," kata AM saat dihubungi detikJogja hari ini.

































































