Sudah sejak 2017 warga Gunungkidul dihantui hewan buas pemangsa ternak. Hewan buas itu ternyata anjing liar yang kerap mendatangi permukiman jika kemarau.
Teror hewan buas ini menjadi salah satu berita terpopuler di detikJogja dalam sepekan ini. Terungkapnya hewan buas pemangsa ternak di Gunungkidul bermula dari sembilan ekor kambing mati tercabik-cabik di Bulak Belang, Dusun Bamban, Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, pada Rabu (28/10) lalu.
"Penyebab matinya sembilan ekor kambing di Rongkop karena serangan anjing liar," kata Kasi Humas Polres Gunungkidul, Iptu Tukiran saat dihubungi detikJogja, Rabu (28/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu pemilik sempat melihat anjing yang menerkam kambingnya. Ada dua kambing yang terlihat dan diusir oleh peternak itu.
"Saat kejadian, saksi (Hardi Suwito) melihat ada dua ekor anjing dewasa dan saat dilempar saksi dua anjing itu berlari ke arah barat menjauhi kandang," imbuhnya.
Sembilan ekor kambing itu merupakan milik peternak bernama Hardi Suwito. Delapan kambing ditemukan mati di kandang, satu lainnya ditemukan tak jauh dari kandang.
"Sampai di kandang, saksi terkejut melihat kambingnya yang berjumlah delapan ekor mati dengan kondisi mengenaskan, yakni tercabik-cabik dan ada luka gigitan di leher, perut dan kaki bagian belakang," ujarnya.
Teror Hewan Buas sejak 2017
Diketahui, teror hewan buas di Gunungkidul terjadi berulang sejak 2017. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menyebut kondisi itu biasanya terjadi saat sumber air seperti telaga sedang mengering.
"Jadi serangan binatang liar pada ternak di Gunungkidul sudah terjadi sejak tahun 2017 dan terulang setiap tahun," kata Kepala DPP Gunungkidul, Rismiyadi saat dihubungi detikJogja, Senin (26/10).
Rismiyadi mengatakan, DPP mencatat fenomena serangan terhadap hewan ternak pernah terjadi di wilayah Kapanewon Wonosari, Purwosari, Saptosari, Tepus, Girisubo, dan Karangmojo. Bahkan, berpotensi terjadi di beberapa wilayah yang lain di Gunungkidul.
"Selain itu, serangan binatang liar tersebut biasa terjadi pada saat mata air terutama telaga mengalami penurunan debit air," ujarnya.
Pihaknya mengeluarkan surat terkait antisipasi serangan hewan liar terhadap ternak kepada Panewu dan Lurah se-Gunungkidul. Antisipasi itu salah satunya meminta pemilik memindahkan ternak dari ladang yang jauh ke sekitar rumah dan menggalakkan ronda malam.
"Jadi masyarakat juga bisa melakukan pengawasan rutin dengan ronda atau jaga malam. Juga bisa meninggikan pagar kandang, memperkokoh dinding. Sehingga binatang liar tidak bisa menerobos masuk serta pemasangan lampu penerangan di area kandang," ujarnya.
Peternak Bisa Dapat Bantuan
Rismiyadi juga menyebut peternak yang menjadi korban hewan liar bisa mendapat bantuan. Skema tali asih itu melalui Baznas, karena belum ada peraturan soal pemberian kompensasi bagi warga yang ternaknya mati akibat serangan hewan liar.
"Iya, ada. Jadi kalau ternak yang terkena gigitan binatang skemanya lewat Baznas, nanti kita ajukan dan bentuknya tali asih," kata Rismiyadi.
Saat ini baru ada Perbup No.10 Tahun 2025, tentang Tata Cara Pemberian Kompensasi dan/atau Bantuan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular dan Tata Cara Pemberian Kompensasi Hewan Sehat Akibat Depopulasi. Adapun kompensasi itu menggunakan dana Belanja Tak Terduga (BTT) yang bersumber dari APBD.
"Kalau sekarang kan peraturannya baru mengatur ternak mati karena penyakit hewan menular. Jadi, meski belum ada aturannya kita mencoba untuk melalui pembiayaan lain, dalam hal ini Baznas," ujarnya.
Kematian hewan ternak itu harus dilaporkan hingga Pemerintah Kapanewon. Nantinya Kapanewon melaporkannya ke Bupati dan Pemkab akan berkoordinasi dengan Baznas.
"Jadi sudah kami usulkan ke Baznas untuk tali asih terkait ternak mati akibat serangan hewan liar," ucapnya.
Ia menyebut besaran bantuan akan ditentukan melalui hasil verifikasi Baznas. Pihaknya juga memberikan syarat desil agar bantuan tepat sasaran.
"Baznas yang menentukan besarannya. Tapi sepertinya lebih sedikit dari tali asih untuk ternak yang mati karena penyakit hewan menular," jelasnya.
Sebelumnya, beberapa peristiwa serupa pernah terjadi. Dalam periode Agustus-September, kasus serupa setidaknya terjadi di Playen, Tepus, dan Panggang.
Bahkan, di Tepus 7 kambing mati dan di Panggang tercatat 2 sapi mati diduga diterkam hewan liar. Di bulan Oktober, selain di Rongkop juga tercatat 2 kambing di Saptosari mati tercabik.

































































