Masjid Istiqlal di Jakarta bukan hanya menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga salah satu simbol kebanggaan umat Islam Indonesia. Sejak diresmikan pada 22 Februari 1978, masjid ini dipimpin oleh para imam besar yang bertugas membina kegiatan ibadah dan keagamaan.
Jabatan Imam Besar Masjid Istiqlal diemban oleh sejumlah ulama dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman yang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tercatat ada lima tokoh yang pernah dan sedang menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. Siapa saja mereka? Berikut daftar dan profil singkatnya.
Imam Besar Masjid Istiqlal
Merujuk laman resmi Masjid Istiqlal, berikut deretan sosok yang tercatat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.
1. KH A Zaini Miftah (1970-1980)
KH A Zaini Miftah merupakan Imam Besar pertama Masjid Istiqlal. Ulama asal Madura, Jawa Timur, ini diangkat oleh Menteri Agama KH M Dahlan untuk memimpin kegiatan keagamaan di masjid tersebut pada periode 1970 hingga 1980.
Selain dikenal sebagai tokoh agama yang berwibawa dan karismatik, KH A Zaini Miftah juga memiliki kontribusi dalam pengembangan pendidikan Al-Qur'an. Ia turut berjasa dalam merintis Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ), lembaga pendidikan yang secara khusus mengembangkan ilmu Al-Qur'an, termasuk seni membaca dan menghafalnya.
Salah satu gagasan yang lekat dengan pengembangan syiar Al-Qur'an adalah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ). Kegiatan perlombaan membaca Al-Qur'an tersebut hingga kini terus diselenggarakan.
2. KH Muchtar Natsir (1980-2004)
Imam Besar berikutnya adalah KH Muchtar Natsir, ulama yang berasal dari Ketapang, Kalimantan Barat. Ia pernah menempuh pendidikan di Darul Ulum Qismil Ali, Makkah, Arab Saudi.
KH Muchtar Natsir dikenal memiliki suara merdu ketika melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Cengkok serta pelafalan bahasa Arabnya juga menjadi ciri khas tersendiri. Selain kemampuan membaca Al-Qur'an, ia dikenal memiliki penguasaan ilmu agama yang mumpuni.
Sebelum menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, ia pernah menduduki sejumlah jabatan di lingkungan Departemen Agama, antara lain Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama dan Direktur Urusan Agama Islam.
Dalam catatan biografi yang tersedia, masa kepemimpinannya disebut berlangsung hingga 2004. Ia wafat pada Senin, 29 Maret 2004, dalam usia 79 tahun di ruang ICU Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.
Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir pada Selasa, 30 Maret 2004.
3. KH Nasrullah Jamaluddin (2004-2005)
KH Nasrullah Jamaluddin lahir di Barabai pada 19 Februari 1954. Ia merupakan ulama yang memiliki perhatian besar terhadap pengajaran Al-Qur'an dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nasrullah kembali ke Indonesia pada 1986. Ia kemudian diminta mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) dan Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta.
Masa jabatannya tergolong singkat dibandingkan pendahulunya. Ia dikenal sebagai ulama yang sangat fokus pada pengajaran Ulumul Qur'an (ilmu-ilmu Al-Qur'an).
4. Prof Dr KH Ali Musthafa Ya'qub, MA (2005-2015)
Prof Dr KH Ali Musthafa Ya'qub merupakan ulama ahli hadis asal Kemiri, Batang, Jawa Tengah. Ia dikenal luas melalui kiprahnya dalam pengembangan kajian hadis di Indonesia.
Pendidikan tingginya dimulai di Fakultas Syariah Universitas Islam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut pada 1980 dan memperoleh gelar license (Lc).
Setelah itu, Ali Musthafa Ya'qub melanjutkan studi di Universitas King Saud, Riyadh, dengan mengambil jurusan Tafsir dan Hadis. Ia berhasil meraih gelar master pada 1985. Pada 2005-2008, ia juga tercatat melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Nizamia, Hyderabad, India, dengan spesialisasi Hukum Islam.
Dalam perjalanan kariernya, Ali Musthafa Ya'qub pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ittihadul Muballighin, anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, serta Ketua STIDA Al-Hamidiyah Jakarta.
Keahliannya dalam ilmu hadis juga mendorongnya mendirikan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah. Lembaga pendidikan ini berlokasi di Pisangan Barat, Ciputat, Tangerang Selatan, serta Janda Baik, Pahang, Malaysia.
5. Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA (2016-sekarang)
Prof Dr KH Nasaruddin Umar merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal yang menjabat sejak 2016. Ia lahir di Ujung, Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1959 dari pasangan Andi Muhammad Umar dan Andi Bunga Tungke.
Sebelum menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar memiliki perjalanan panjang dalam dunia pendidikan, keagamaan, dan pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Departemen Agama serta Wakil Menteri Agama periode 2011-2014.
Ia juga dikenal sebagai tokoh yang aktif mendorong dialog dan hubungan harmonis antarumat beragama.
Atas kiprah dan pengabdiannya, Nasaruddin Umar menerima sejumlah penghargaan. Di antaranya Bintang Karya Satya dari Presiden RI pada 2001, International Best Leadership Award pada 2002, serta penghargaan Mahaputra dari Presiden RI pada 2014.
Selain menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar kini juga mengemban amanah sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.
(dvs/dvs)




































































