Sejarah Berdirinya MUI, Siapa Tokoh di Balik Pembentukannya?
MENU
Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Menemui Rancangan Baru Lengkap Penonton Dstv Tv Guide Betapa Pengguna

Dstv menawarkan pelbagai genre yang memenuhi citarasa semua penonton, manfaatkan kelebihan dstv tv guide hari ini, dstv menyediakan maklumat lengkap tentang setiap program, dstv tv Mengapa Dstv Tv Cara Terkini Program Program Sesuai Pendapat Filem guide: alat penting untuk penggemar televisyen.

Dstv tv guide adalah alat yang memudahkan pengalaman menonton anda dengan menyediakan maklumat terkini tentang jadual siaran, bersiaplah untuk pengalaman menonton yang lebih baik dengan Dstv Tv Terbaik Kepada Dstv Tv Guide Episod Menentukan Lebih dstv tv guide.

Cara Menggunakan Menjawab Rancangan Dstv Tv Merancang Tidak Tidak

Dengan maklumat lengkap, dstv tv guide: menyediakan maklumat untuk penonton, reaksi penonton terhadap panduan ini adalah positif, dengan panduan ini, dstv tv guide bukan sahaja memberikan maklumat tetapi juga menggalakkan penonton untuk berkongsi pendapat mereka tentang rancangan yang mereka tonton. Dstv Tv Guide Mengetahui Memudahkan Ditonton Dstv Tv Bijak Menggalakkan

Dstv tv guide: mengetahui rancangan terbaik untuk ditonton, reaksi penonton terhadap panduan ini menunjukkan betapa pentingnya akses kepada maklumat yang tepat, dengan maklumat terkini mengenai jadual siaran, dstv tv guide: alat penting untuk Menjelajahi Dstv Hiburan Menyediakan Dstv Tv Dinanti Soalan penggemar televisyen.

Dstv Tv Program Maklumat Pengalaman Dstv Tv Guide Sangat Diperlukan Sesuai

Dstv tv guide adalah alat penting bagi penggemar televisyen yang ingin menikmati pengalaman menonton yang lebih teratur, penonton tidak akan terlepas rancangan Dstv Tv Guide Menggunakan Pengalaman Dstv Tv Cita Memilih kegemaran mereka dan dapat merancang waktu tontonan dengan lebih baik, temui dunia hiburan dengan dstv hari ini.

Membolehkan penonton merancang waktu tontonan mereka dengan lebih baik, dengan panduan ini, dengan panduan ini, dstv tv guide menawarkan pelbagai kelebihan bagi penonton setia yang ingin menikmati rancangan kegemaran Reaksi Penonton Panduan Program Menggunakan Dstv Tv Guide Langkah Orang mereka.

Manfaatkan panduan ini hari ini, penonton dapat mengetahui waktu tayangan dan saluran bagi setiap program yang disiarkan, reaksi penonton terhadap dstv tv guide dan rancangan yang disiarkan sangat positif, penonton dapat berkongsi Kelebihan Menggunakan Dstv Melalui Penting Dan Dstv Tv Mengakses Baik pendapat mereka tentang rancangan yang disiarkan.

Kelebihan Menggunakan Menjawab Baru Program Program Rancangan Ditonton

Dstv tv guide: panduan utama untuk penonton, dstv tv guide menawarkan pelbagai kelebihan kepada penonton di malaysia, manfaatkan panduan ini Dstv Tv Guide Menjelajahi Menemui Dstv Tv Guide Terbaru Mereka untuk pengalaman menonton yang lebih baik.

Hanif Hawari - detikHikmah
Rabu, 04 Nov 2026 11:00 WIB
Gedung MUI
Gedung MUI (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) merupakan organisasi yang menghimpun para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim dari berbagai daerah di Indonesia. Lembaga ini memiliki peran penting dalam membimbing umat Islam, memberikan fatwa keagamaan, serta menjadi penghubung antara ulama dan pemerintah. Namun, bagaimana sejarah berdirinya MUI dan siapa saja tokoh di balik pembentukannya?

MUI resmi berdiri pada 26 Juli 1975 atau bertepatan dengan 7 Rajab 1395 Hijriah di Jakarta. Pembentukan lembaga ini merupakan hasil musyawarah para ulama, cendekiawan, dan zuama yang berasal dari berbagai penjuru Tanah Air.

Mengutip laman resmi MUI, pembentukan organisasi ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk menyatukan gerak dan langkah umat Islam Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bersama. Kehadiran MUI juga diharapkan mampu memperkuat persatuan umat di tengah beragam pemikiran keagamaan, organisasi sosial, serta aspirasi politik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menariknya, proses pembentukan MUI tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah pertemuan dan gagasan yang mendahuluinya. Bahkan, terdapat enam tokoh yang kemudian ditetapkan sebagai pelopor berdirinya MUI, termasuk ulama kharismatik asal Sulawesi Selatan, Prof KH Ali Yafie.

ADVERTISEMENT

Awal Mula Gagasan Pembentukan MUI

Sejarah berdirinya MUI berawal dari kesadaran para pemimpin umat Islam mengenai pentingnya sebuah wadah bersama untuk membimbing masyarakat muslim di Indonesia.

Salah satu gagasan awal datang dari Prof KH Ibrahim Hosen, ulama fikih kenamaan Indonesia. Dalam konferensi alim ulama yang berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 1970 di Jakarta, Ibrahim Hosen menyampaikan makalah mengenai pentingnya pembentukan lembaga fatwa.

Mengutip keputusan Majma' Buhuts Al Islamiyah Kairo tahun 1964, Ibrahim Hosen menekankan perlunya wadah bagi para ulama untuk melakukan ijtihad secara kolektif. Dengan demikian, persoalan keagamaan dapat dibahas dan diputuskan melalui musyawarah bersama.

Namun, gagasan tersebut belum sepenuhnya mendapatkan dukungan dari peserta konferensi. Prof Dr. Buya Hamka yang juga menjadi pemakalah saat itu sempat menyampaikan keberatan.

Menurut Buya Hamka, pembentukan lembaga semacam itu perlu mempertimbangkan keterlibatan berbagai kalangan. Sebagai alternatif, ia merekomendasikan kepada Presiden Soeharto agar mengangkat seorang mufti negara yang bertugas memberikan nasihat kepada pemerintah dan umat Islam Indonesia.

Meski demikian, gagasan pembentukan majelis ulama terus berkembang. Pada akhirnya, Buya Hamka juga menyetujui gagasan tersebut dan menjadi Ketua Umum MUI pertama setelah lembaga itu resmi berdiri.

Presiden Soeharto Dukung Pembentukan MUI

Gagasan pembentukan MUI kembali menguat dalam Lokakarya Muballigh se-Indonesia yang diselenggarakan Pusat Dakwah Islam Indonesia pada 26-29 November 1974.

Dalam pertemuan tersebut, muncul kesepakatan mengenai pentingnya Majelis Ulama sebagai wadah untuk menjalankan mekanisme yang efektif dan efisien dalam membina partisipasi umat Islam terhadap pembangunan nasional.

Presiden Soeharto turut memberikan dukungan terhadap gagasan tersebut. Bahkan, ia menyarankan agar pembentukan majelis ulama dimulai dari tingkat daerah dengan melibatkan para ulama di setiap provinsi.

Dukungan itu semakin kuat ketika Presiden Soeharto menerima Pengurus Dewan Masjid Indonesia pada 24 Mei 1975. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapan agar Majelis Ulama Indonesia segera dibentuk.

Melalui Menteri Dalam Negeri saat itu, Amir Machmud, Presiden Soeharto kemudian menyarankan para gubernur untuk membentuk Majelis Ulama di daerah masing-masing.

Hasilnya, pada Mei 1975, Majelis Ulama tingkat daerah telah terbentuk di hampir seluruh daerah tingkat I atau provinsi dan daerah tingkat II kabupaten/kota. Pembentukan di tingkat daerah tersebut menjadi salah satu langkah penting menuju lahirnya MUI secara nasional.

Enam Tokoh Pelopor Berdirinya MUI

Terdapat enam tokoh yang ditetapkan sebagai pelopor berdirinya Majelis Ulama Indonesia. Penetapan tersebut merujuk pada catatan sejarah resmi MUI berdasarkan catatan dan ketetapan Musyawarah Nasional (Munas) X MUI di Jakarta pada 25-27 November 2020.

Berikut enam tokoh yang memiliki peran dalam sejarah pembentukan MUI:

1. Presiden Soeharto

Presiden Soeharto menjadi salah satu tokoh penting dalam proses pembentukan MUI. Dukungan dan arahannya mendorong pembentukan majelis ulama di tingkat daerah hingga nasional.

Soeharto lahir pada 1921 dan wafat pada 2008. Ia merupakan Presiden Republik Indonesia yang menjabat ketika MUI didirikan.

2. Prof Dr. Buya Hamka

Buya Hamka merupakan Ketua Umum MUI pertama. Ulama bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini lahir pada 1908 dan wafat pada 1981.

Meski sempat mengusulkan pembentukan mufti negara sebagai alternatif, Buya Hamka akhirnya mendukung pembentukan MUI. Ia kemudian dipercaya memimpin lembaga tersebut selama sekitar enam tahun.

3. KH Syukri Ghozali

KH Syukri Ghozali merupakan Ketua Umum MUI kedua. Ia lahir pada 1906 dan wafat pada 1984.

Selain memimpin MUI selama sekitar tiga tahun, Syukri Ghozali juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah IAIN Jakarta, yang kini menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Prof KH Ibrahim Hosen

Ibrahim Hosen merupakan salah satu tokoh yang mengemukakan gagasan awal pembentukan lembaga fatwa melalui ijtihad kolektif.

Ulama yang lahir pada 1917 dan wafat pada 2001 ini pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI selama 20 tahun.

Ia juga tercatat sebagai rektor pertama IAIN Palembang, PTIQ Jakarta, dan IIQ Jakarta.

5. KH Hasan Basri

KH Hasan Basri lahir pada 1920 dan wafat pada 1998. Ia merupakan Ketua Umum MUI ketiga dan memimpin lembaga tersebut selama sekitar enam tahun.

Kepemimpinannya menjadi bagian dari perjalanan MUI dalam memperkuat peran ulama di tengah kehidupan masyarakat dan bangsa.

6. Prof KH Ali Yafie

Prof KH Ali Yafie merupakan ulama kharismatik asal Sulawesi Selatan yang juga ditetapkan sebagai salah satu pelopor berdirinya MUI.

Ia lahir pada 1926 dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum MUI keempat selama sekitar 10 tahun.

Selain itu, Ali Yafie pernah menjadi Rektor IAIN Alauddin Makassar, Rektor IIQ Jakarta, serta Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).



(hnh/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

Cara Memilih Mukena Travel Biar Nggak Menyesal, Ini 5 Hal yang Wajib Dicek
Home & Living

Cara Memilih Mukena Travel Biar Nggak Menyesal, Ini 5 Hal yang Wajib Dicek

Mukena Silk Parasut Gampang Kusut? Ini Cara Merawat Biar Tetap Rapi dan Awet
Home & Living

Mukena Silk Parasut Gampang Kusut? Ini Cara Merawat Biar Tetap Rapi dan Awet

Perlengkapan Ibadah Keluarga Belum Lengkap? Cek 3 Barang Ini Dulu
Home & Living

Perlengkapan Ibadah Keluarga Belum Lengkap? Cek 3 Barang Ini Dulu

Punya Altar di Toko? Ini Hio Cendana yang Cocok buat Sembahyang Usaha
Home & Living

Punya Altar di Toko? Ini Hio Cendana yang Cocok buat Sembahyang Usaha

`; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); this.shadowRoot.innerHTML = CbRekomenditDesktop.html; } async connectedCallback() { // Handle share button clicks this.shadowRoot .querySelectorAll(".cb-rekomendit__share-btn") .forEach((btn) => { btn.addEventListener("click", (e) => { e.preventDefault(); e.stopPropagation(); const url = btn.getAttribute("data-url"); const title = btn.getAttribute("data-title"); if (navigator.share) { navigator .share({ title: title, url: url, }) .catch(console.error); } else { // Fallback: Copy to clipboard navigator.clipboard.writeText(url).then(() => { alert("Link copied to clipboard!"); }); } }); }); } } customElements.define("cb-rekomendit", CbRekomenditDesktop);
Berita detikcom Lainnya
Explore IndonesiaNow
Understanding the Ruwatan: Javanese Tradition to Ward Off Misfortune

Understanding the Ruwatan: Javanese Tradition to Ward Off Misfortune

Indonesian Musician Hindia Spotlights Environmental and Social Struggles at AMI Awards

Indonesian Musician Hindia Spotlights Environmental and Social Struggles at AMI Awards

Read in English `; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); } async connectedCallback() { this.shadowRoot.innerHTML = CbIndonesiaNow.html; } } customElements.define("cb-indonesia-now", CbIndonesiaNow);
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Pendamping Ibadah

Berita Terpopuler

Jom Belajar Tips Kreatif Indonesia
Terdapat Beberapa Keuangan Matematik
(QS Az-Zumar: 53)

Komentar Terbanyak

Hide Ads