Kisah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah merupakan titik penting dalam perkembangan dakwah Islam sekaligus menandai peralihan periode Makkah ke Madinah. Di balik perjalanan hijrah Rasulullah tersebut, tersimpan kisah penuh teladan bagi umat Islam."
Di tengah ancaman dan kejaran kaum kafir Quraisy yang hendak mencelakai, Rasulullah SAW perlu menyusun strategi cerdas agar beliau selamat dalam perjalanan menuju Madinah.
Peristiwa hijrah ini memperlihatkan betapa piawai dan cermatnya Nabi Muhammad SAW dalam mengatur strategi perjalanan serta membagi tugas dan tanggung jawab kepada orang yang beliau percaya. Rasulullah SAW juga tak luput mengingat Allah SWT dalam setiap langkahnya agar senantiasa berada dalam lindungan-Nya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simak kisah strategi Nabi Muhammad SAW agar selamat dari ancaman dan kejaran kaum kafir Quraisy dalam perjalanan hijrah menuju Madinah berikut ini.
Melakukan Pengelabuan
Langkah awal strategi Nabi Muhammad SAW agar selamat dalam perjalanan ke Madinah adalah dengan berangkat secara diam diam dengan melakukan pengelabuan. Dikisahkan dalam buku Pendidikan Agama Islam Sejarah Kebudayaan Islam karya H. Murodi, menjelang keberangkatan hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar RA tidur di lantai. Sementara itu, Ali bin Abi Thalib yang berbaring di ranjang Rasulullah SAW untuk mengelabui kaum kafir Quraisy.
Di tengah malam, akhirnya Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA berangkat meninggalkan Makkah tanpa sepengetahuan kaum Quraisy. Tatkala orang-orang Quraisy mengepung kediaman Nabi Muhammad SAW untuk membunuh beliau, mereka kecewa karena yang ditemui justru Ali.
Bersembunyi di Gua Tsur
Dalam perjalanan menuju Madinah, Nabi Muhammad SAW bersama dengan Abu Bakar RA bersembunyi di Gua Tsur yang kecil, sempit, namun tidak terlalu dalam. Menukil buku Cerita Al-Qur'an Kisah-kisah Teladan yang Menakjubkan oleh M. Zaenal Abidin, persembunyian Rasulullah SAW dan sahabatnya selama tiga hari itu hanya diketahui oleh putri Abu Bakar RA dan pembantunya.
Dalam persembunyiannya, Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA sangat waspada dengan membatasi suara dan pergerakan lantaran takut mengundang kecurigaan kaum Quraisy. Namun, kaki Abu Bakar RA digigit ular kala hendak menutupi lubang-lubang kecil. Situasi semakin tegang karena di luar gua terdengar teriakan-teriakan mencari Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar RA.
Menanggapi situasi ini, Rasulullah SAW menenangkan dengan berkata, "Wahai sahabatku, janganlah kamu bersedih hati. Bukankah Allah SWT senantiasa bersama kita? Hai Abu Bakar, kalau engkau mengira bahwa kita hanya berdua, sesungguhnya yang ketiganya adalah Allah..." Abu Bakar RA pun merasa lega dan lebih tenang.
Benar saja, Allah SWT menolong Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA melalui munculnya dua burung dara hutan yang membuat sarang dan bertelur di dalamnya, pun laba-laba yang turut membuat sarang di mulut gua. Melihat itu, kaum Quraisy berpikir tidak mungkin Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar berada dalam gua tersebut. Akhirnya, mereka melangkah pergi dari kawasan gua Tsur dan Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar RA kembali selamat dari ancaman.
Dukungan dari Orang-orang Terdekat
Strategi Nabi Muhammad SAW agar selamat dalam perjalanan hijrah ke Madinah tidak luput dari dukungan dan jasa orang-orang terdekat beliau yang terpercaya.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku Manhaj Dakwah Rasulullah karya Muhammad Amahzun, putra Abu Bakar RA, Abdullah ibn Abu Bakar, bertugas mengumpulkan informasi tentang pembicaraan kaum Quraisy mengenai Rasulullah SAW dan ayahnya pada siang hari. Setiap sore, Abdullah menyampaikan informasi tersebut kepada Rasulullah SAW di Gua Tsur. Setelah itu, ia kembali ke Makkah saat sahur agar dapat berkumpul lagi dengan kaum Quraisy pada pagi harinya.
Adapun 'Amir ibn Fuhairah, seorang pembantu Abu Bakar RA yang bertugas menggembala domba. Setiap petang, ia menggembala di dekat Gua Tsur agar Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA dapat mengambil susunya. Ia juga ditugaskan menggembala domba-dombanya melintasi jalan yang dilalui Abdullah ibn Abu Bakar untuk menghilangkan jejak.
Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga menyewa seorang penunjuk jalan bernama Abdullah ibn Uraiqith yang andal mengetahui seluk beluk jalan. Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA mempercayainya dan menyerahkan dua ekor unta.
Sementara itu, kedua putri Abu Bakar RA, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar bertugas mempersiapkan segala kebutuhan dan bekal perjalanan ke Madinah. Asma disebutkan sempat menyobek kain pakaiannya untuk mengikat perbekalan.
Wallahu a'lam.




































































