Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram menyoroti maraknya anak sekolah yang bekerja sebagai pemandu lagu atau lady companion (LC) hingga terlibat prostitusi online melalui sistem open booking out (BO). Para remaja itu tergiur mendapatkan uang demi bisa membeli iPhone hingga melakukan perawatan tubuh.
Ketua LPA Kota Mataram, Joko Jumadi, mengungkapkan pihaknya telah mendeteksi sejumlah lokasi yang kerap dijadikan markas tongkrongan anak-anak sekolah di Mataram. Menurutnya, beberapa anak sekolah membolos hingga nongkrong melewati jam operasional di tempat hiburan malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Joko menjelaskan penertiban anak di bawah umur yang bekerja di pusat hiburan malam mengalami sejumlah kendala. Pasalnya, sebagian besar dari mereka berstatus pekerja lepas dan tidak memiliki ikatan status seperti karyawan tetap.
Selain itu, Joko menyebut para remaja perempuan kerap datang ke sejumlah kafe remang-remang dengan berkedok pengunjung biasa. Namun, dia berujar, para remaja tersebut justru melakukan aktivitas terselubung, yakni menjadi LC ataupun open BO.
"Mereka datang, nongkrong, kemudian beraksi," kata Joko.
Joko menilai tren pergaulan anak muda sudah mengalami pergeseran. Ia menduga gaya hidup konsumtif seperti gonta-ganti gawai atau smartphone hingga make up branded menjadi salah satu pemicunya.
"Anak-anak perempuan tren hidupnya tinggi. Handphone, kalau nggak iPhone. Lalu make up, nggak mungkin yang biasa," ungkap Joko.
Joko berharap ada langkah konkret serta pengawasan yang lebih ketat terhadap tempat hiburan malam dan kafe remang-remang. Menurutnya, pengawasan penting agar anak tidak terjerat eksploitasi.
Salah seorang remaja berinisial D menuturkan dirinya baru satu tahun terakhir mencoba bekerja sebagai LC di sejumlah lokasi di Mataram. Perempuan berusia 13 tahun itu mengaku awalnya hanya mengikuti teman.
"Awalnya iseng, karena lihat ada teman jadi itu. Kurang lebih satu tahun saya jalani ini," tutur D, Selasa.
D mengaku tidak hanya menemani para tamu berkaraoke. Menurutnya, penghasilan menjadi LC karaoke digunakan untuk membeli iPhone hingga biaya perawatan.
"Lumayan banget. Bisa ganti iPhone. Punya tas bagus, bisa treatment, lumayan lah," ujar D.
D menuturkan dirinya hanya melakoni pekerjaan itu saat sore atau malam hari serta menjelang akhir pekan. Pekerjaan sebagai LC itu tidak diketahui oleh orang tuanya.
Baca juga: Gunung Es Nikah Anak di NTB |
Saat ke luar rumah, D beralasan mengerjakan tugas dan bekerja menjadi pekerja lepas di salah satu toko. Meski begitu, D mengaku akan berhenti menjadi LC jika bosan atau diketahui oleh keluarga.
"Biasanya sore, kadang-kadang malam hari. Kalau hari sekolah, saya cuma kerja beberapa jam saja. Tapi kalau akhir pekan bisa agak lamaan," kata D.
"Kalau orang tua tahu, saya langsung berhenti," imbuhnya.
(iws/hsa)

















































