Sekitar 46 ribu data pemesanan penumpang Singapore Airlines (SQ) bocor akibat gangguan keamanan pada sistem Amadeus. Data itu diduga diakses pihak ketiga tanpa izin.
Dalam keterangannya pada Selasa (3/11/2026) SQ menyebut data yang terdampak meliputi nama penumpang, nomor pemesanan, rencana perjalanan, dan kelas penerbangan. Selain itu, sekitar 620 data pemesanan juga berpotensi memuat alamat email, nomor telepon, informasi dokumen perjalanan, dan nomor keanggotaan KrisFlyer.
Mengutip The Straits Times, Rabu (4/11/2026) meski begitu, pihak maskapai memastikan data rekening bank dan kartu kredit tidak ikut bocor. SQ juga menyatakan tidak ada pemesanan yang diubah akibat insiden tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka menegaskan kebocoran hanya terjadi pada sistem Amadeus dan tidak melibatkan sistem teknologi informasi milik maskapai. Amadeus telah melakukan penanganan dan memperkuat sistem keamanannya.
Sebagai langkah pencegahan, SQ menghubungi pelanggan terdampak yang memiliki jadwal penerbangan dalam waktu dekat untuk mengganti nomor referensi pemesanan. Mereka juga telah melaporkan insiden tersebut kepada otoritas terkait.
"SQ dengan tulus meminta maaf kepada pelanggan yang terdampak atas ketidaknyamanan yang terjadi. Perlindungan data pribadi pelanggan merupakan hal yang sangat penting bagi kami," kata juru bicara maskapai.
Sebagai informasi, SQ bukan satu-satunya maskapai yang terdampak kebocoran data Amadeus. Malaysia Airlines, Cathay Pacific, Japan Airlines, Korean Air, dan Asiana Airlines juga melaporkan insiden serupa.
Cathay Pacific mencatat sekitar 53 ribu data pemesanan terdampak, sedangkan Japan Airlines melaporkan 92 ribu data pelanggan terekspos. Data yang berpotensi bocor berasal dari transaksi pada Agustus 2023 hingga September 2026.
Ini menjadi insiden kebocoran data ketiga yang berdampak pada SQ sejak 2021. Saat itu, sekitar 580 ribu anggota KrisFlyer dan PPS terdampak kebocoran data dari penyedia teknologi informasi dan jaringan komunikasi untuk industri penerbang, SITA.
Pada 2022, serangan phishing terhadap KrisShop juga menyebabkan data 4.749 pelanggan terekspos, termasuk nama, alamat email, nomor telepon, dan alamat rumah.


























































