Serbuan kawanan monyet dengan jumlah cukup besar terjadi di kawasan Panggang, Gunungkidul. Mereka merusak lahan pertanian dan ladang milik warga.
Video kawasan monyet yang tak terhitung jumlahnya itu viral di media sosial. Di video itu terlihat kawanan monyet itu menguasai lahan milik warga.
"Warga petani di wilayah Panggang, Gunungkidul, DI. Yogyakarta melaporkan serangan ratusan monyet liar ke lahan perkebunan miliknya. Bahkan benih yang baru saja ditabur kemarin sudah dirusak oleh kawanan monyet tersebut," kata akun Instagram @jogja_admin seperti dilihat detikJogja, Minggu (8/11/2026)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dukuh Panggang III, Agung menyebut peristiwa dalam video itu terjadi di kawasan Alas Tlogo Panggang, Girisuko, Panggang, Gunungkidul. Kawanan monyet itu menyerbu lahan yang baru saja ditanami oleh warga.
"Kemarin kejadiannya (Sabtu), jadi saat itu selesai penanaman langsung dirusuhi (diganggu) monyet ekor panjang itu," katanya saat dihubungi detikJogja, Minggu (8/11/2026).
Gangguan itu, lanjut Agung, berupa hilangnya benih tanaman yang sedianya akan ditanam petani. Menurut Agung, hilangnya benih-benih itu akibat serangan monyet.
"Jadi setelah penanaman itu langsung diambili (benihnya) sama monyet-monyet itu, jumlahnya banyak kemarin itu," ujarnya.
Agung menambahkan, bahwa serangan monyet sudah terjadi sejak satu tahun terakhir. Menurutnya, hal itu membuat petani merugi karena harus melakukan penanam ulang.
"Aslinya sebagian besar (lahan pertanian di Panggang) sudah mengalami serangan. Serangan itu merusak lahan pertanian dan membuat petani harus mengulang lagi saat menanam karena diambili monyet itu," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanaian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, bahwa sebaran monyet memang ada di beberapa Kapanewon di Gunungkidul. Sedangan penyebab munculnya serangan monyet di lahan pertanian karena faktor cuaca.
"Diduga karena cuaca ekstrem sehingga populasi monyet masuk ke lahan pertanian siap tanam milik warga. Seperti di Panggang itu memang ada kemungkinan mereka mengambil benih yang sedang ditanam," katanya.
Rismiyadi mengaku belum mengetahui pasti berapa luasan lahan pertanian di Panggang yang terdampak akibat monyet. Namun, Rismiyadi memastikan segera melakukan pengecekan di lokasi kejadian.
"Sampai saat ini baru petani di sebagian wilayah Panggang seperti yang dimuat di media sosial, untuk luas serangan belum diketahui secara pasti," ujarnya.
Terkait upaya dari Pemkab, Rismiyadi mengaku jika Pemkab bersama BKSDA Jogja hingga akademisi dari UGM telah mencoba berbagai langkah mitigasi. Salah satunya adalah penanaman tanaman pakan di hutan konservasi.
"Dari BKSDA dan DLH menanam berbagai jenis pohon buah di kawasan seperti suaka margasatwa Paliyan untuk menyediakan pakan alami di dalam hutan," ucapnya.
Selanjutnya, telah dilakukan uji coba penyediaan pakan tambahan seperti ubi kayu di batas hutan untuk menahan gerak MEP agar tidak merambah ke ladang warga. Petani juga telah membuat jaring pengaman bergemerincing atau menggunakan petasan untuk menakut-nakuti gerombolan monyet.
"Untuk wacana pengendalian populasi juga dilakukan diskusi dan kajian mengenai pemindahan, sterilisasi, hingga kuota penangkapan atau pengurangan populasi secara legal sesuai regulasi konservasi," katanya.

































































