Atap rumah salah satu warga di Pandak, Bantul, jebol kejatuhan bongkahan es. Asal muasal bongkahan es itu hingga kini masih misterius. Diduga ada kaitannya dengan fenomena alam.
Bukan hanya atap yang jebol, sebuah kursi kayu yang kejatuhan es itu juga patah. Fenomena ini menjadi salah satu berita yang menjadi perhatian pembaca detikJogja dalam sepekan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal Mula Peristiwa
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (2/11) pagi sekira pukul 08.00 WIB. Bagian atap rumah salah satu warga Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul jebol akibat kejatuhan bongkahan es berukuran besar.
"Betul, ada atap rumah warga di Jodog rusak akibat kejatuhan bongkahan es," kata Sekretaris BPBD Kabupaten Bantul, Ribut Bimo Haryo Tejo saat dihubungi detikJogja, Senin (2/11/2026).
Rumah tersebut milik salah satu warga yang saat ini sedang di luar kota. Pada saat itu ada salah satu warga yang tengah nongkrong di gazebo yang ada di halaman rumah itu. Tiba-tiba warga itu mendengar suara dentuman dari dalam rumah.
"Saksi lalu melakukan pengecekan, dan terdapat bongkahan es berdiameter 20 sentimeter jatuh menimpa atap ruang tamu rumah," ujarnya.
Adapun kerusakan akibat kejadian itu berupa atap galvalum pasir, plafon PVC beserta rangka dan kursi kayu patah akibat tertimpa bongkahan es.
"Untuk atap ruang tamu yang rusak seluas 1x1 meter. Kalau korban jiwa maupun luka tidak ada karena kondisi rumah memang kosong," ucapnya.
Adapun dari dampak yang ditimbulkan, besar dugaan bongkahan es itu jatuh dari ketinggian. Namun sejumlah pihak belum bisa memastikan fenomena alam yang menjadi penyebab.
Kata BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jogja tidak mencatat adanya cuaca hujan pada saat peristiwa itu terjadi.
"Saat kejadian, dari data radar BMKG kami tidak terjadi hujan. Hujan di Pandak baru terjadi pukul 09.00 WIB dan itu hujan ringan," kata Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi Jogja, Heri saat dihubungi detikJogja, Senin (2/11/2026).
Selain itu, kondisi analisis radar pada pagi hari tadi menurut hasil analisis dan data dari citra radar, memang terdapat awan hujan. Namun, lokasinya berada di sekitar barat laut atau Pajangan dan utara atau Panggungharjo, Sewon dari lokasi kejadian.
"Jadi tidak berada di lokasi yang dimaksud," ujarnya.
Selanjutnya, kata Heri, berdasarkan analisis cuaca sementara dari BMKG bahwa terdapat potensi gangguan atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) spasial di pulau Jawa. Namun hal itu belum menjadi penyebab pasti jatuhnya bongkahan es di Pandak.
"Fenomena MJO spasial mencakup area Pulau Jawa, kejadian bersifat lokal sehingga diperlukan analisis lebih detail lagi. Nah, kejadian spesifik hanya di rumah di Pandak itu, sehingga perlu analisis lebih dalam dengan data lebih detail terkait dari mana esnya itu," ucapnya.
Kata Pakar Klimatologi
Pakar Klimatologi UGM, Dr. Emilya Nurjani juga belum bisa memastikan asal muasal bongkahan es yang diduga jatuh dari langit itu. Dia menepis dugaan bahwa bongkahan es itu berasal dari awan Cumulonimbus.
"Kalau yang dimaksud hasil dari cumulonimbus, kayaknya mboten nggih (seperti tidak)," kata Pakar Klimatologi UGM, Dr. Emilya Nurjani saat dihubungi detikJogja, Selasa (3/11/2026).
Perlu diketahui, awan Cumulonimbus adalah salah satu awan konvektif atau awan yang menjulang tinggi ke atas. Jika dilihat dari bentuknya, awan ini seperti jamur di mana pada bagian atas terdapat seperti bentuk topi.
Pada kawasan tropis ketinggian awan ini dapat mencapai lebih dari 18 kilometer. Awan ini juga dapat menembus hingga lapisan stratosfer yang biasanya disebut sebagai overshooting top cumulonimbus.
Jika dilihat dari permukaan, awan ini terlihat tebal, gelap, dan tinggi. Awan Cumulonimbus berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem, hujan lebat, sambaran petir, hingga angin kencang.
Awan Cumulonimbus single sel memiliki siklus hidup yang berkisar antara 30-60 menit, sedangkan awan Cumulonimbus multisel ataupun super sel dapat lebih dari waktu tersebut.
Proses Icing Pesawat?
Beberapa spekulasi yang bergembang menduga bahwa bongkahan es itu berasal dari proses icing atau rontoknya es yang menempel pada badan pesawat. Pakar Klimatologi UGM, Dr. Emilya Nurjani menyebut dugaan itu juga perlu dibuktikan.
"Kalau icing dari badan pesawat, maka perlu dicari data saat kejadian apakah ada pesawat yang lewat di atas wilayah tersebut," ujarnya.
Sementara itu, Dukuh Jodog, Bayu Yunarko mengatakan, bahwa tidak ada pesawat melintas di Jodog saat kejadian tersebut terjadi. Selain itu, cuaca saat itu juga tidak hujan.
"Tidak ada pesawat lewat saat kejadian, hanya mendung saja saat kejadian itu," ucapnya saat dihubungi detikJogja.
Selain itu, Bayu juga mengaku tidak ada pabrik es di Jodog. Sehingga kemungkinan besar bongkahan es itu memang berasal dari atas.
"Pabrik es tidak ada, dan tidak ada angin kencang juga saat kejadian," katanya.

































































