Silaturahmi menjadi salah satu ajaran yang sangat diperhatikan dalam Islam. Umat Islam dianjurkan untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat serta menghindari perselisihan yang berujung pada putusnya hubungan. Lalu, bagaimana hukum memutus silaturahmi dengan keluarga sendiri?
Hukum Memutus Silaturahmi dalam Islam
Mengutip buku Rumah yang Tidak Dimasuki Setan karya Muhammad Ash-Shayim, para ulama telah sepakat bahwa hukum menyambung silaturahmi adalah wajib, sedangkan memutus tali silaturahmi hukumnya adalah haram dan termasuk kemaksiatan yang sangat besar.
Penegasan ini senada dengan penjelasan Imam An-Nawawi yang dikutip dalam buku Hadis Qudsi Firman Allah yang Tak Tercantum dalam Al-Qur'an karya Kasimun, "Tidak ada perselisihan lagi bahwa menyambung silaturahmi hukumnya wajib secara umum dan memutuskannya berarti maksiat."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Al-Qur'an dan hadits juga memuat peringatan bagi orang yang sengaja memutus hubungan kekerabatan. Berikut dampak memutus silaturahmi:
1. Terputus dari Rahmat Allah SWT
Dari Abdurrahman bin Auf RA, Rasulullah SAW bersabda, "Allah berfirman, Aku adalah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), dan dia adalah rahim. Aku membelah untuknya satu nama dari nama-Ku. Barangsiapa menyambungnya (silaturahmi), maka Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa memutus hubungan dengannya, maka Aku juga akan memutus hubungan dengannya." (HR. Abu Daud)
Makna hadits ini menegaskan bahwa orang yang memutus silaturahmi akan dijauhkan dari limpahan rahmat, keutamaan, dan kasih sayang Allah SWT. Peringatan ini juga ditegaskan melalui firman Allah SWT dalam surah Muhammad ayat 22-23:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ
"Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka."
2. Ancaman Tidak Masuk Surga
Dalam hadits riwayat Abi Musa RA, Rasulullah SAW bersabda, "Tiga golongan yang tidak akan masuk surga: pecandu minuman khamar, pemutus silaturahmi, dan yang percaya kepada sihir." (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Ahmad).
3. Azabnya Disegerakan di Dunia sebelum Akhirat
Memutus silaturahmi bukan hanya mendatangkan siksa di akhirat kelak, melainkan juga mengundang balasan kontan semasa hidup di dunia.
"Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukumannya bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allah siapkan baginya di akhirat daripada al-baghyu (kezaliman dan berbuat buruk kepada orang lain) dan memutuskan tali silaturahmi." (HR. Bukhari)
4. Mendapat Laknat dan Tempat Kembali yang Buruk
Dalam surah Ar-Ra'd ayat 25, Allah SWT menjelaskan ancaman bagi orang-orang yang melanggar janji-Nya, memutus hubungan kekeluargaan yang diperintahkan untuk disambung, serta berbuat kerusakan di bumi. Mereka mendapat laknat Allah SWT dan tempat kembali yang buruk di neraka Jahannam.
وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْ ۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۙ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ
"Orang-orang yang melanggar perjanjian (dengan) Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (seperti silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itulah orang-orang yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam)."
Balasan untuk Orang yang Menjaga Silaturahmi
Silaturahmi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti bertegur sapa, menjenguk kerabat yang sakit, menghadiri undangan, dan melayat saat ada keluarga yang tertimpa musibah. Jika memiliki kerabat yang kekurangan, silaturahmi juga bisa dilakukan dengan memberikan bantuan sesuai kemampuan.
Menjaga hubungan kekeluargaan juga menjadi tanda keimanan seseorang kepada Allah SWT dan Hari Akhir. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits berikut:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung kekerabatannya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbicara yang baik atau hendaklah ia diam." (HR. Muslim).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut bahwa orang yang menyambung tali silaturahmi akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa senang diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim." (Muttafaq Alaih)




































































