Usianya baru 13 tahun, tetapi D sudah setahun bekerja sebagai lady companion (LC) di sejumlah tempat karaoke di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Siswi kelas 8 sekolah menengah pertama (SMP) itu mengaku tergiur penghasilan dari menemani tamu berkaraoke demi membeli iPhone hingga membayar perawatan tubuh. Ironisnya, aktivitas tersebut dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya.
D mulai bekerja sebagai LC sejak berusia 12 tahun. Dia mengaku awalnya hanya mengikuti teman yang lebih dulu menjalani pekerjaan tersebut. Dari pekerjaan itu, D bisa mendapatkan uang untuk memenuhi berbagai keinginannya.
"Awalnya iseng, karena lihat ada teman jadi itu. Kurang lebih satu tahun saya jalani ini," tutur D saat diwawancarai detikBali, Selasa (3/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama bekerja, D tidak hanya mendapatkan uang untuk menemani tamu berkaraoke. Penghasilannya juga digunakan untuk membeli sejumlah barang yang diinginkan, mulai dari iPhone hingga tas. Dia bahkan bisa membayar biaya gym bulanan dan perawatan tubuh tanpa meminta uang kepada orang tuanya.
"Lumayan banget. Bisa ganti iPhone. Punya tas bagus, bisa treatment, lumayan lah," ujar perempuan berlesung pipi itu.
D menjalani pekerjaan tersebut secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui keluarganya. Dia mengaku bekerja pada sore atau malam hari saat hari sekolah. Sementara itu, menjelang akhir pekan, dia memiliki waktu lebih lama untuk bekerja.
"Biasanya sore, kadang-kadang malam hari. Kalau hari sekolah, saya cuma kerja beberapa jam saja. Tapi kalau akhir pekan bisa agak lamaan," kata D.
Untuk mengelabui orang tuanya, D beralasan keluar rumah untuk mengerjakan tugas sekolah atau bekerja sebagai pekerja lepas di salah satu toko. Hingga kini, orang tuanya belum mengetahui pekerjaan yang sebenarnya dia lakoni.
D mengaku sebenarnya memahami bahwa pekerjaan tersebut tidak pantas. Dia juga kerap merasa khawatir aktivitasnya diketahui keluarga.
"Kalau orang tua tahu, saya langsung berhenti," tandas gadis itu.
LPA Soroti Anak Sekolah Jadi LC hingga Open BO
Fenomena anak sekolah yang bekerja sebagai LC hingga diduga terlibat prostitusi online melalui sistem open booking out (BO) menjadi perhatian Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram.
Ketua LPA Kota Mataram, Joko Jumadi, mengungkapkan pihaknya telah memetakan sejumlah lokasi yang kerap dijadikan tempat berkumpul anak-anak sekolah di Mataram. Menurutnya, beberapa anak bahkan membolos dan nongkrong hingga melewati jam operasional tempat hiburan malam.
"Kami sudah petakan titik-titiknya. Sekarang tinggal bagaimana penegakannya," kata Joko saat diwawancarai di Mataram, Selasa (3/11).
Joko menjelaskan penertiban anak di bawah umur yang bekerja di pusat hiburan malam menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya karena sebagian besar dari mereka berstatus pekerja lepas sehingga tidak memiliki ikatan kerja seperti karyawan tetap.
Selain itu, para remaja perempuan tersebut kerap mendatangi sejumlah kafe remang-remang dengan berpura-pura sebagai pengunjung biasa. Namun, menurut Joko, mereka diduga melakukan aktivitas terselubung dengan menjadi LC hingga menawarkan jasa BO.
"Mereka datang, nongkrong, kemudian beraksi," kata Joko.
Gaya Hidup Konsumtif Jadi Pemicu
Joko menilai tren pergaulan anak muda saat ini telah mengalami pergeseran. Dia menduga gaya hidup konsumtif menjadi salah satu faktor yang mendorong anak sekolah terjun ke dunia hiburan malam.
Menurutnya, keinginan memiliki gawai atau smartphone keluaran terbaru hingga menggunakan produk riasan bermerek turut memengaruhi gaya hidup para remaja tersebut.
"Anak-anak perempuan tren hidupnya tinggi. Handphone, kalau nggak iPhone. Lalu make up, nggak mungkin yang biasa," ungkap Joko.
Joko berharap ada langkah konkret dan pengawasan lebih ketat terhadap tempat hiburan malam maupun kafe remang-remang. Menurutnya, pengawasan diperlukan agar anak-anak tidak terjerat eksploitasi.
(dpw/dpw)

















































