Emak-emak para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tersenyum sumringah di Pasar Pemenang, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (4/11/2026). Di balik senyuman itu, tersimpan cerita tangguh tentang pemulihan ekonomi warga yang dulu hancur dihantam gempa dahsyat berkekuatan 7,0 SR pada Agustus 2018 silam.
Pasar yang sempat ambruk itu kini telah disulap menjadi pusat kegiatan bersama lima desa penyangga, Pemenang Barat, Pemenang Timur, Menggala, Malaka, dan Gili Indah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan warga bangkit kembali menarik perhatian Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, yang menyempatkan diri datang dan menyapa langsung para perempuan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di sana.
Momen hangat terjadi saat Rod berbincang dan mencicipi beragam produk lokal racikan para ibu rumah tangga. Ia tampak terkesan dengan keberanian warga setempat untuk mandiri pasca gempa.
"Tadi bertemu dengan ibu-ibu yang memiliki UKM, saya merasa sangat terkesan karena mereka berani membangun bisnis sendiri, berani bikin produk, dan sudah siap untuk memasarkan produk itu ke turis wisatawan asing dan di ekonomi luar daerah atau kota," kata Rod di Pasar Pemenang.
Kualitas produk yang ditawarkan warga memang bukan kaleng-kaleng. Aneka kuliner lokal, kerajinan tangan, hingga sabun olahan laris manis disukai pembeli.
"Ini enak. Bahannya dari lokal," cetus Rod sembari mengunyah renyahnya keripik singkong olahan warga.
Kehadiran Pasar Pemenang hari ini adalah buah manis dari kolaborasi lintas desa. Melalui Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) dan Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD), lima desa sepakat urunan serta bergandengan tangan menata masa depan ekonomi sekaligus merajut sistem mitigasi bencana.
Direktur BUMDesma, Septi, mengungkapkan bahwa program Desa Tangguh Bencana (Destana) hasil kerja sama Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) dengan Pemerintah Australia.
"Kami mulai membangun hubungan kelembagaan untuk menangani persoalan yang saling berkaitan, dari risiko bencana hingga lingkungan dan ekonomi lokal. Pasar ini menjadi ruang berdagang, mempertemukan produk warga dengan pembeli, dan menguatkan penghidupan di wilayah yang pernah dilanda gempa," jelas Septi.
Kisah di balik pemulihan pasar ini juga diungkapkan Sekretaris Desa Pemenang Barat sekaligus Ketua BKAD, Ahmad Rahmatullah. Kenangan akan hancurnya pasar akibat gempa 2018 mendorong para kepala desa untuk mencari solusi bersama.
"Pasar ini sudah rusak sama gempa, apa yang kita laksanakan? Jadi kami berpikir mulai melakukan pemulihan fungsi pasar dan peningkatan ekonomi masyarakat. Para kepala desa menyepakati rehabilitasi los agar dapat dipakai kembali," kenang Ahmad.
Guna merealisasikannya, tiap desa bersatu menyisihkan anggaran. "Kita renovasi, kita urunan masing-masing desa pada waktu itu," tutur Ahmad sembari menyebut angka urunan awal sebesar Rp 60 juta per desa.
Manager Program KONSEPSI NTB, Hairul Anwar, menambahkan bahwa penguatan Destana turut mendongkrak berbagai produk unggulan warga, mulai dari minyak kelapa murni (VCO), sabun berbahan VCO, kerajinan batok kelapa, hingga gula aren.
Bukan cuma soal ekonomi, kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia ini juga memoles kesiapsiagaan warga menghadapi bencana.
"Kita mulai membuat jalur koordinasi, dokumen perencanaan bersama, serta titik kumpul evakuasi yang terkoordinasi," papar Hairul.
Kerja sama penguatan kelembagaan tersebut berlanjut pada kesepakatan BKAD pengelolaan risiko bencana periode 2025-2028 yang mencakup tiga pilar yakni kebencanaan, lingkungan, dan ekonomi.
"Kami mencatat penyusunan rencana kontinjensi yang memperjelas peran Tim Siaga Bencana Desa, kader, Karang Taruna, dan Puskesmas. Perhatian juga diarahkan kepada kebutuhan penyandang disabilitas, ibu hamil, dan anak-anak," tambahnya.
Melihat matangnya kesiapan warga, Dubes Rod Brazier mengaku optimistis kawasan ini punya daya tahan kuat terhadap potensi bencana di masa mendatang.
"Sampai sekarang saya melihat kami sangat berhasil. Karena di desa ini ada UKM, ada antisipasi bencana yang cukup matang. Ke depan, saya confident sekali desa ini akan bisa menahan terhadap ancaman bencana alam," ujar Rod.
Rod pun menegaskan komitmen berkelanjutan dari Pemerintah Australia, khususnya pada program pemberdayaan ekonomi perempuan dan penyediaan data akurat bagi pemerintah daerah.
"Tujuannya agar kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah daerah dan provinsi benar-benar berpihak dan mendukung perkembangan UKM, bukan justru menghambat," tegasnya.
Peluang ini ditangkap manis oleh Kepala Desa Pemenang Barat, Asma'at. Mengingat letak kawasannya yang strategis di jalur menuju tiga Gili, ia berharap Pasar Pemenang bisa menjadi sentra oleh-oleh utama.
"Jadi pengembangan pasar sebagai pusat oleh-oleh dari lima desa, termasuk melalui kerja sama dengan agen perjalanan wisata," harap Asma'at.
Sekda Lombok Utara Sahabuddin mengucapkan terima kasih atas dukungan konsisten Pemerintah Australia dalam mendampingi Lombok Utara bangkit.
"Kami dari Pemda Lombok Utara berterima kasih. Ada 11 risiko bencana di Lombok Utara selain gempa dan tsunami. Harapan kita seluruh pelaku UKM yang merasakan bantuan ini bisa makmur dan sukses terus," pungkas Sahabuddin.

















































